Bentrok Aceh, Menggugat Islam Rahmatan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Aceh Singkil. google maps

Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Bentrok Aceh, Menggugat Islam Rahmatan

    Dibaca : 6.753 kali

    Kepedihan mengiang-ngiang saat membaca, mendengar dan melihat peristiwa bentrok di Aceh yang menelan korban jiwa. Bentrokan yang dilatari keinginan warga membongkar rumah yang ditengarai menjadi tempat ibadah saudara-saudara Nashrani. Sebuah kehendak yang dipicu rencana pemerintah daerah membongkar rumah yang digunakan ibadah izin.

    Kita memang pantas berduka. Pada tahun 1437 Hijriyah ini, yang berita Islam sudah berusia menjelang limabelas Abad, ternyata masih saja memiliki kekhawatiran mengenai beralihnya iman umat Islam ke agama lain. Sebuah ketakutan yang kemudian diwujudkan dalam anti-pembangunan atau tempat ibadah agama yang berbeda.

    Bentrok Aceh, sedang menggugat keislaman yang kita teguhi. Keimanan yang kita pegangi. Keyakinan kepada agama yang memberikan pengayoman bagi semua makhluk yang ada di dunia. Tak hanya makhluk hidup, manusia, hewan dan tumbuhan, tetapi juga mahkluk benda yang selama ini dianggap mati, seperti batu-batu, air, dan gas bumi.

    Aceh yang anutan Islamnya banyak dipengaruhi ajaran Imam Syafi'i tentu saja menjadikan kita pangling, ketika mendengar bentrokan terjadi berdasarkan sentimen keagamaan. Seperti juga kita tahu, Imam Syafi'i banyak dipengaruhi ajaran Syeih Abdul Qodir Jaelani, seorang tokoh berjiwa lembut dan anti-kekerasan.

    Kita pernah membayangkan, Aceh yang berjuluk serambi Mekkah, berstatus daerah khusus yang bisa menggunakan Alquran dan Hadits sebagai dasar pembentukan peraturan pemerintahan daerah, tiba-tiba, seakan tak mampu menyandang gelar besar itu. Tak mampu mencontoh bagaimana tindak tanduk Syeih Abdul Qodir Jaelani, dan uswah yang diberikan Raosulullah dalam berelasi dengan umat agama yang berbeda.

    ***

    Kita memang pantas sedih. Pada tahun 2015 ini, ketika Indonesia mencapai usia 70 tahun kemerdekaannya, sebagian umat Islam ternyata masih tak menyadari dengan baik, NKRI merupakan sebuah karya besar, karya bersama, dari seluruh warga bangsa di negeri, dengan keragaman suku, ras, agama, dan bahasa.

    Islam yang mayoritas, Islam yang mestinya bisa bersikap dewasa dan memaknai kemerdekaan negeri ini sebagai milik bersama, ternyata tak seperti itu yang bisa kita hadapi. Sebagian tokoh Islam masih begtiu takut dengan kehilangan umat, begitu khawatir Islam sedikit pengikutnya.

    Ketakutan ini sesungguhnya mencerminkan hakikat para pemimpin Islam itu sendiri. Ketakutan kehilangan pamor, hancurnya status sosial yang membanggakan. Sebuah situasi yang juga menunjukkan sikap sedang meragukan kekuatan iman umat Islam di negeri ini.

    Aturan mengenai izin pembangunan rumah ibadah sudah selayaknya diberlakukan. Apalagi jika hanya berdasarkan pada berapa warga yang tinggal. Sebab hak untuk beribadah sesuai dengan keyakinan warga negara sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan jumlah warga pemeluk agama tertentu. Satu pun seorang pemeluk agama, sudah semestinya diberi hak untuki beribadah sesuai dengan pilihannya.

    Sudah saatnya, para pemimpin Islam di negeri ini mencontoh kebesaran para tokoh terdahulu, pejuang Islam di negeri ini di masa lalu, yang memiliki orientasi pada kebersamaan, kesetiakawanan sebagai satu bangsa, satu negara, satu tanah air.

    ***

    Maka kita pantas mempertanyakan, bagaimana sebenarnya, Islam yang rahmatan lil alamiin itu akan diwujdukan di negeri ini? Dalam bentuk yang macam apa, dengan startegi yang seperti apa? Semua tak jelas arahnya, manakala kita semua di negeri ini masih termakan isu mengtenai minionaris agama-agama, masih sekadar memahami agama pada kulitnya: menghancurkan rumah-rumah persembahyangan.

    Duka Aceh, memang harus menjadi pembelajaran bagi semua agama-agama. Tak bisa mengandalkan mayoritas untuk menghimpit minoritas. Sebab Islam mayoritas di satu daerah, ia bisa menjadi minoritas di tempat lainnya. Kristen mayoritas di satu tempat, tetapi ia bisa menjadi minoritas di lain tempat.

    Maka, yang mayoritas di satu tempat, layaknya membantu minoritas di tempat yang sama. Damai hidup bersandingan, tak hanya indah dalam pidato-pidato politik dan kebudayaan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.