Langkah #2 Design Thinking: Definisikan Tantangan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Setelah menyelami karakter konsumen, kita perlu mendefinisikan tantangan yang harus kita carikan solusinya. Perlu kecermatan dalam melakukan 'framing'.

"The customer's perception is your reality."
--Kate Zabriskie

 

Di langkah kedua dalam proses design thinking, kita memelajari berbagai aspek dari materi yang sudah kita kumpulkan ketika berusaha memahami karakter konsumen potensial. Di dalamnya tercakup misalnya seperti apa persepsi konsumen terhadap produk atau jasa yang sudah ada. Apa saja keluhan mereka. Apa yang mereka sukai. Begitu pula, kita pelajari apa saja keinginan, preferensi model, tingkat kenyamanan, kemudahan, hingga warna yang diminati.

Dari pemahaman inilah berkembang wawasan sehingga kita tahu lebih jelas dan persis peta persoalan. Bagi kita, ini tantangan yang mesti dipecahkan. Dengan membuat batasan atau bingkai terhadap persoalan ini, ikhtiar kita untuk menemukan jalan keluar tidak akan melenceng ke mana-mana. Kita fokus kepada kebutuhan dan keinginan pelanggan, dan yang kita lakukan kemudian adalah bagaimana melakukan perubahan yang akan berdampak terhadap pengalaman pelanggan dalam memakai produk atau jasa tertentu.

Tahap pendefinisian ini terbilang krusial, karena akan menentukan keluaran (outcome) untuk tahap berikutnya. Kekeliruan dalam memahami konsumen akan menyebabkan bingkai persoalan Anda tidak sesuai dengan kenyataan. Mungkin ada yang meleset. Akibatnya, solusi yang Anda tawarkan akan sia-sia sebab tidak menjawab persoalan yang dihadapi oleh konsumen.

Di sisi lain, pendekatan design thinking memberi peluang luas. Anda memiliki keleluasaan dalam mengeksplorasi imajinasi dan keterampilan dalam merancang produk dan jasa. Namun, agar tidak terlampau jauh dari apa yang dikehendaki konsumen, Anda perlu membingkai tantangan ini. Pemahaman yang tepat mengenai tantangan maupun penggunanya akan membuka jalan bagi solusi yang lebih tepat.

Sebagai contoh, konsumen meminta dibuatkan “brosur yang menarik untuk anak-anak muda usia 20-30 tahun” atau “brosur yang terlihat keren dan gaya”. Deskripsi ringkas ini perlu dieksplorasi lebih dalam, khususnya mengenai apa yang dimaksud oleh konsumen dengan istilah ‘keren’ dan ‘gaya’. Bahkan, kita dapat mendiskusikan dengan konsumen mengenai apakah brosur merupakan media kampanye yang tepat untuk anak-anak muda usia 20-30 tahun. Barangkali kampanye online dan media sosial bisa lebih efektif?

Tahap definisi ini penting bagi kita sebagai cara untuk mengetahui: Apakah kita memahami keinginan klien? Apakah kita dan klien sudah tidak ada perbedaan penafsiran mengenai istilah ‘keren’ dan ‘gaya’? Apakah kita dapat mengelola harapan klien?

Dalam contoh ini, kita juga perlu memahami konsumen yang menjadi target klien kita. Lagi-lagi, kita perlu mendefinisikan secara jelas agar solusi yang hendak kita tawarkan tepat dan sesuai dengan kebutuhan klien serta cocok dengan konsumennya. Peranti pertanyaan yang terbiasa digunakan oleh jurnalis, yakni 5W + 1H, dapat membantu kita membingkai tantangan ini:

Who: siapa klien kita dan siapa pula khalayak yang mereka sasar? (Perusahaan atau institusi, perusahaan di bidang apa, populasi sasaran, usia, dst)

What: solusi desain seperti apa yang dibayangkan oleh klien kita? Apakah cetak, video, audio, atau online?

Why: mengapa klien berpikir bahwa diperlukan solusi berupa desain yang ‘keren’ dan ‘gaya’?

When: kapan desain ini hendak ditayangkan dan untuk berapa lama?

Where: di mana desain ini digunakan? (dipasang di media cetak, media online, di billboard, di mal, ruang tunggu perkantoran, halte bis?)

How: bagaimana solusi akan diterapkan? (berapa anggarannya, kemana saja distribusinya, dst)

Kemampuan kita dalam mendefinisikan tantangan akan sangat memengaruhi solusi yang kita tawarkan kepada klien. Apapun tantangan yang kita hadapi, tahap pendefinisian perlu dikerjakan secara matang. (sumber ilustrasi: cbronline.com) ***

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

1 Pengikut

img-content

Bila Jatuh, Melentinglah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua