Langkah #5 Design Thinking: Menguji Prototipe dan Solusi

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pengujian adalah peluang untuk memelajari lebih dalam solusi dan pengguna Anda.

“Great things are done by a series of small things brought together.”
--Vincent van Gogh

 

 

Langkah kelima dalam proses design thinking adalah pengujian. Apa yang akan kita uji dan bagaimana kita menguji merupakan aspek yang sangat penting untuk dipertimbangkan sebelum kita membuat prototipe. Begitu pula, merencanakan dan mengeksekusi skenario pengujian yang berhasil merupakan langkah tambahan yang penting setelah kita menciptakan prototipe. Kita tidak bisa sekedar meletakkan prototipe di hadapan pengguna dan meminta mengujinya. Informasi yang sangat berharga akan diperoleh apabila pengujian berlangsung sangat alamiah dan pengguna memberi umpan balik sejujurnya.

Setelah prototipe dibuat, pengujian merupakan peluang lain untuk memahami lebih dalam solusi yang kita tawarkan maupun memahami penggunanya. Inilah kesempatan bagi kita untuk mengetahui apakah pemahaman kita mengenai konsumen di tahap awal melenceng jauh atau sudah mendekati. Dengan adanya prototipe, kita dapat lebih menyelami keinginan dan kebutuhan konsumen. Tapi jangan mereduksi pengujian yang kita lakukan dengan pertanyaan: “Apakah Anda suka atau tidak suka solusi ini?”

Bagaimana cara kita menguji prototipe atau solusi yang kita tawarkan akan memengaruhi respons pengguna. Jangan tergoda untuk menjelaskan ini dan itu tentang prototipe kita. Biarkan pengguna memakainya sendiri, merasakan pengalamannya sendiri, dan menafsirkan sendiri prototipe tersebut. Kita cukup mengamati bagaimana pengguna memakainya (atau salah-pakai) saat berinteraksi dengan prototipe. Lalu dengarkan apa komentar dan pertanyaan mereka. Mungkin saja mereka membandingkan prototipe kita dengan produk lain yang sudah ada ataupun dengan produk sebelumnya.

Idealnya, kita dapat menguji dalam konteks riil terkait kehidupan pengguna. Untuk produk berupa obyek fisik, misalnya sepeda, kita bisa meminta pengguna untuk memakainya dalam kegiatan rutin yang normal. Cara ini memungkinkan kita untuk memperoleh pemahaman mengenai respons alamiah pengguna saat memakai prototipe sepeda. Umpamanya, berat atau ringan bobotnya, mudah atau tidak saat menyimpannya, seberapa nyaman sepeda saat dikendarai, dst. Umpan balik dari pengguna membuka peluang bagi perbaikan prototipe, dan ini belum tentu sekali perbaikan langsung selesai.

Jadi, pengujian diperlukan untuk memahami lebih dalam pengguna produk atau jasa kita. Kita dapat mengobservasi langsung kepada pengguna yang terlibat dalam pengujian. Kita mungkin memperoleh wawasan yang tidak terduga, atau mendaptkan gagasan baru yang mengejutkan. Mungkin saja, dari pengujian prototipe, kita tahu bahwa kita ternyata keliru dalam membingkai persoalan. Setelah pengujian, kita berkesempatan untuk memperbaiki sudut pandang kita. Jika sudut pandang sudah oke, bisa saja prototipe dan solusi yang sudah dibuat tetap harus diperbaiki. Proses ini berlangsung berulang-ulang (iterasi) hingga kita menemukan prototipe dan solusi yang paling pas bagi konsumen.

Proses yang berulang atau iterasi merupakan hal mendasar untuk memperoleh desain produk, jasa, atau solusi yang bagus. Iterasi dapat dilakukan dengan mengulang kembali proses beberapa kali. Bisa pula kita melakukannya dengan cara lain, misalnya dengan membuat beberapa prototipe dan mempersilakan pengguna mengujinya. Bahkan, kita bisa melakukan penggalian ide lewat kegiatan brainstorming dengan berbagai kelompok pengguna, sehingga kita dapat memperoleh beberapa gagasan prototipe. (sumber foto: cyclingnews.com) ***

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

1 Pengikut

img-content

Bila Jatuh, Melentinglah

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua