Daulat Kampung Tengah - Sarikaya dan Porselen Belanda - Travel - www.indonesiana.id
x

Wulung Dian Pertiwi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Travel
  • Topik Utama
  • Daulat Kampung Tengah - Sarikaya dan Porselen Belanda

    Sarikaya itu hidangan khas keluarga saya saat acara bersama diadakan. Dibuat dari tape ketan, telur, dan gula.

    Dibaca : 7.243 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Telur ayam bersama gula pasir dikocok kecepatan tinggi hingga putih berbuih ditambah tape ketan. Adonan tadi kemudian dituang dalam porselen-porselen kecil seukuran cangkir dan dikukus selama tiga puluh menitan. Kami menyebutnya sarikaya, sering dilafal cepat srikaya, dan ketika lidah Jawa mengucap, yang keluar adalah ‘sirkoyo’, ditulis sirkaya. Itu suguhan khas rumah Beji, Tulungagung, muasal Ibu saya.

    Saat keluarga besar kumpul, ada tamu istimewa, diikuti masak-masak untuk memperingati sesuatu, sarikaya sering tampil. Beralas nampan seng bulat bergambar bunga, sarikaya dalam wadah porselen segera tersebar ke ruangan-ruangan. Di teras, bale (ruang tamu), gandhok (ruang keluarga), memenuhi meja dhahar (meja makan), dan bertumpuk di pawon (dapur), sarikaya tersebar dan hilir mudik menemani kerabat-kerabat, menambah akrab obrolan.

    Sarikaya dimakan dengan sekali teguk. Komposisinya padat di permukaan, dari butiran-butiran beras ketan yang sebagian besar mengapung, dan bawahnya adalah cairan legit yang kental. Meski berbahan tape, sarikaya tidak berbau menyengat. Seingat saya, aroma sarikaya malah mirip kolak panas yang baru diangkat dengan wangi vanili semerbak karena bahan itu memang ditambahkan sebagai penyedap. Sarikaya memberi rasa hangat setelah disantap, jadi hujan-hujan begini paling tidak nostalgia yang tepat.

    Saya lupa kapan terakhir makan sarikaya di rumah Beji. Sepertinya sarikaya tidak pernah lagi menjadi suguhan andalan seiring ngumpul keluarga yang memang jarang besar semenjak Mbah, Ibunya Ibu, meninggal, beberapa tahun lalu. Sebelumnya, lebaran atau puasa, biasanya jadi momen sarikaya disajikan bersama keluarga yang berdatangan untuk silaturahmi atau nyekar (berziarah ke makam keluarga). Januari 2013, ketika adik saya menikah dan keluarga besar kembali berkumpul, sarikaya sudah tak kelihatan, berganti kue-kue yang dipesan dari luar.

    Usaha katering mengambil alih peran kami, keluarga mempelai perempuan, dalam menjamu tamu-tamu. Ibu saya dengan saudara-saudaranya sudah memilih melepas peran sibuk di dapur membuat hidangan, memuliakan mereka yang datang, dengan alasan praktis. Apalagi generasi saya, anak-anak, cucu-cucu, dan semua yang mendatang, nantinya. Tradisi kikis oleh jaman.  

    Porselen-porselen mungil jaman Belanda, tinggalan Mbah-Mbah saya dulu, yang biasanya jadi wadah sarikaya, sekarang berderet di lemari penyimpanan. Kapan mereka akan kembali dikeluarkan ya? Kangen menunggu sebuah perayaan akbar, kesadaran, dan kemauan menampilkan identitas.

    Ikuti tulisan menarik Wulung Dian Pertiwi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.