Martabak India - Analisis - www.indonesiana.id
x

Thamrin Dahlan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Martabak India

    Tuan martabak dan Mangcek.

    Dibaca : 3.335 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Satu hari di belakang salah satu mall Kota Palembang awak mendengarkan dialog antar warga.   Dialog itu terjadi antara penjual martabak india dengan seorang warga.  Penjual martabak sedang mengolah martabak di penggorengan lebar, dia membalik balik martabak itu pada level  keahlian profesional.

    Aroma yang dikeluarkan oleh martabak itu sungguh sangat menyengat dan terasa sangat nikmat sekali bagi indra penciuman.  Kebetulan sang warga sebutlah namanya Mangcek sedang lewat didepan restoran  martabak.  Dia berhenti sejenak bahkan agak lama.  Mangcek   menikmati aroma martabak seolah dia sedang menyantap makanan super maknyoes.

    Penjual martabak tertegun. memperhatikan si warga.  nampaknya dia merasa terganggu  kehadiran warga itu, apalgi si warga nampaknyan tak hendak membeli olahan mertabak yang sangat panas dan mengeluarkan aroma khas dengan bumbu spesial.

    Tuan Penjual martabak berucap :  " tuan hendak membeli martabak kah ?" Mangcek  terkejut, serta merta dia terbangun dari khalayan menikmati martabak super syedap itu. Setelah sadar dari khalayan, Mangcek  menyahut

     " oh tidak tuan, saya tidak hendak membeli martabak, saya hanya menikmati aroma nan sangat syedaap ini"

    Tuan Penjual martabak nampaknya tidak senang melihat kelakuan si warga, sudah berhenti berlama lama di depan tokonya malah menikmati aroma martabak panas dan kini tak pula membeli. Penjual martabak segera berkata dengan sedikit lantang

    " hei  tuan, kalau  tak hendak membeli martabak, tuan harus membayar kenikmatan mencium aroma martabak ini"

    Mangcek terkejut dan heran : " hei tuan martabak, apa pula ini, masa' saya hanya mencium aroma martabak harus membayar, saya tidak menyentuh martabak tuan apalagi  memakannya"

    Penjual martabak bersikukuh " pokoknya tuan harus membayar karena sudah kenyang dengan aroma martabak saya, kalau tidak saya akan panggil polisi"

    Mancek mencak encak, ada apa dengan tuan martabak ini kenapa kelakuannya nya aneh sekali, masa hanya menikmati aroma martabak harus pula membayar.  Tak lama Mancek sadar, wah si tuan ini harus gue kerjain. Dia teringat petuah nenek moyangnyo wong kito galo yang banyak akal. 

    " baik saya akan membayar" si Tuan Martabak nampak senang, gertakan berhasil, dia akan mendapatkan uang tanpa menjual martabak. Kemudian Mangcek mengeluarkan uang logam recehan sepuluh biji dari saku.  Logam itu ada di dalam satu kantong kecil berwarna putih dan diikat pada ujungnya.  kantong itu kemudian di digoyang goyangkan sehingga mengeluarkan suara gemerincing yang cukup keras.

    " nah ini bayarannya, "

    Tuan martabak terkejut, dan sedikit heran

    "hei apa pula ini, sini uang  tuan itu, berikan kepada saya"

    Mangcek tersenyum kemudian di berkata " "tuan martabak sudah mendengar suara gemerincing uang logam itu ?, "

    " nah itulah bayarannya,  tuan cukup mendengar suara uang logam seperti saya juga hanya mencium aroma martabak"

    Mangcek menambahkan pula, "nah kini kita seri, skor 0 - 0, saya menikmati aroma dengan hidung,  tuan menikmati uang dengan telinga,..hahahaha"

    Tuan martabak, tersipu malu, dia pikir pandai nian wong kito galo ini,...

    Yes, demikianlah kehidupan manusia di dunia ini. Ada ada saja sisi humor disana yang bisa disikapi dengan akal nalar dari ketajaman pemikiran. Tuntas dan selesailah perkara. Kenikmatan hidung di bayar dengan kenikmatan telinga.  Dua pancaindra manusia ini berkolaborasi dalam menemukan kenikmatan sendiri.  

    Salamsalaman

    TD

     

     

    Ikuti tulisan menarik Thamrin Dahlan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.