Kenapa Sunat Perempuan Harus Dilawan? - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Seorang pengantin perempuan mengangkat tangannya dalam kelas konseling perkawinan, di Universitas Islam di Gaza City, 19 Januari 2016. Kelas gratis ini berlangsung selama 15 jam dengan peserta campuran dan terpisah laki-laki dan perempuan. REUTERS/Su

Mukhotib MD

Pekerja sosial, jurnalis, fasilitator pendidikan kritis
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Kenapa Sunat Perempuan Harus Dilawan?

    Dibaca : 1.701 kali

    Tanggal 6 Pebruari diperingati sebagai hari internasional tanpa sunat perempuan. Kalangan aktivis perempun dan mereka yang memiliki kepedulian terhadap kesehatan seksual dan reproduksi perempuan menganggap praktik sunat perempun melanggar hak anak perempuan dan perempun dewasa.

    Di Indonesia praktik sunat perempuan masih jamak dilakukan dengan berbagai alasan, menjalankan tradisi dan sebagiannya alasan agama. Dalam Islam, misalnya, praktik sunat perempuan dianggap sebagai tindakan memuliakan perempuan.

    Sunat perempuan memiliki ragam praktik dan berbeda antara satu negara dengan negara lain, satu budaya dengan budaya lainnya. Misalnya, di sebagian tempat, termasuk Indonesia, praktik itu dilakukan dengan penusukan atau sayatan kecil pada ujung atau bagian lain. Di tempat berbeda, sunat perempuan dilakukan dengan menghilangkan seluruh klitoris dan bahkan seluruh labiaminora dan labiamayora.

    Banyak studi menunjukkan sunat perempuan memiliki dampak negatif terhadap fisik dan psikis perempuan. Secara fisik sunat perempuan dinilai bisa memicu gangguan kesehatan seksual dan reproduksi perempuan. Secara psikis bisa menimbulkan traumatik dalam kehidupan perempuan.

    Ideologi patriarkhi Dalam kajian mengenai seksualitas praktik sunat perempuan dilakukan sebagai bentuk penundukkan terhadap otonomi tubuh perempuan. Klitoris merupakan bagian tubuh perempuan yang paling sensitif terhadap rangsangan seksual. Dengan sunat perempuan, patriarkhi sedang menghabisi kemungkinan perempuan bisa mendapatkan kepuasan seksualnya.

    Dengan demikian, perempuan secara seksual berada dalam kontrol laki-laki. Kontrol ini menjadi penting dilakukan, sebab seks diajarkan sebagai hak istimewa bagi laki-laki, dan hanya sebagai kewajiban bagi perempuan. Lihat saja dalam UU No.1 Tahun 1974, berhak bagi laki-laki menceraikan istrinya manakala tak lagi bisa melayani suaminya.

    Dengan pembacaan seperti inilah, praktik sunat perempuan dilawan dan dihapuskan praktiknya sejak kini dan di masa mendatang. Sebab berakibat fatal dan bukti nyata dari pemujaan seks sebagai hak istimewa laki-laki, sambil mengabakan hak kesehatan seksual dan reproduksi perempuan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.













    Oleh: Admin

    3 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 812 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).