Secangkir Mimpi di Kedai Kopi - Analisa - www.indonesiana.id
x

Abu Ma'mur MF

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Secangkir Mimpi di Kedai Kopi

    Dibaca : 5.135 kali

    “Berulang kali dalam kehidupan dan perjalananku,

    aku melihat langsung kekuatan luar biasa dari jiwa manusia.”

    (Nick Vujicic, motivator yang hidup tanpa lengan dan tungkai)

     

    Senja kian menua. Matahari tertatih merayap ke sudut cakrawala. Lalu tergelincir perlahan di persimpangan malam.  Andi mulai menggelar dagangannya. Pemuda berusia 20 tahun itu menata satu persatu bungkusan serbuk kopi dalam etalase. Ada kopi klotok, kopi nusantara: kopi aceh, toraja, wamena, jawa rabika, bali kintamani, dan lampung. Bagi penggemar coklat, ia menyediakan coklat creamer dan cheeses. Saat menikmati secangkir kopi, sembari bercengkerama, seseorang terkadang butuh kudapan. Pisang bakar dan sosis bakar tersedia di sana. Pun jika tiba-tiba perut keroncongan. Ada mie rebus dan mie goreng yang siap disajikan.

    Ia tak bisa melakukan semuanya sendirian. Lantaran kedua kaki yang dia miliki hanya sebatas paha. Selebihnya telah diamputasi akibat kecelakaan. Maka, ia pun merekrut salah satu saudaranya yang kebetulan tak punya pekerjaan. Agus namanya. Lelaki bertubuh subur itu membantu “mengeksekusi” hal-hal yang sulit dilakukan oleh Andi. Termasuk menyiapkan air, menggelar tikar, dan menata empat buah meja kayu. Ya, hanya empat buah. Andi tak punya cukup modal untuk membeli lebih banyak lagi. Apalagi untuk menyewa tempat. Di beranda rumah neneknya ia buka kedainya: Andi’s Cofee. Buka malam hari. Siangnya, ia berjualan pulsa. Keuntungan yang didapatkan tidak banyak memang. Namun, setidaknya bisa untuk makan sehari-hari. Membantu biaya hidup sang nenek juga tentunya.

    Malam itu, usai mengunjungi bazar buku, aku mampir di kedai kopi Andi. Masih sepi. Kami berbincang-bincang. Tentang kopi dan mimpi-mimpi. Aku lalu pesan secangkir kopi klotok. Andi segera meraih papan seluncur (skateboard) kayu di sampingnya. Sangat gesit. Ia memang terbiasa menggunakan peranti itu untuk berjalan. Papan seluncur biasa. Hanya saja keempat rodanya yang semula  berbahan plastik diganti roda etalase. Biar lebih kuat, katanya. Ia pernah mendapatkan bantuan kaki palsu dan kursi roda. Dua kali. Pertama dari Dinas Sosial Kabupaten Brebes. Kedua dari Kick Andy Foundation kerja sama dengan Polres Brebes. Andi bersyukur. Namun, dalam melakukan pekerjaan, ia merasa lebih gesit menggunakan papan seluncur ketimbang kaki palsu maupun kursi roda.

    Andi tampak serius meracik kopi. Tak seberapa lama, pesanan siap disajikan. Agus, karyawannya, segera mengambil dan menyuguhkannya untukku. Secangkir kopi klotok panas meruapkan aroma khas. Sungguh menggugah selera. Perpaduan antara serbuk kopi, cokelat, dan sedikit susu kental. Diramu sedemikian rupa. Aku reguk perlahan. Aduhai nikmatnya.

    Malam terus merambat pelan. Satu persatu kawan Andi berdatangan. Mereka memang terbiasa kumpu-kumpul di sini. Selain bisa menikmati kopi dengan harga murah, juga sebagai ajang perjumpaan antarkawan. Kedai kopi Andi kerap dijadikan tempat melepas penat usai seharian beraktifitas. Mereka bebas bercerita tanpa batasan tema, saling bercanda ria. Ada keriangan tersendiri berkunjung di sini. Meski sederhana, tempat dan suasananya nyaman, ujar mereka.

    Andi bukan jenis orang yang suka berdiam diri. Ia gemar bersosialisasi. Meski tak memiliki kaki, ia tak hanya menghabiskan waktunya di dalam rumah. Sesekali bepergian bersama kawan-kawannya. Mereka bahu membahu mengangkat tubuh Andi. Diboncengkan dengan sepeda motor. Pernah suatu kali, sekolah tempat kakaknya mengabdi, menggelar acara Kartinian. Andi tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia tak mau menjadi seorang pemalas. Setiap pemalas dibenci orang, dan tak ada rezeki yang diantar tanpa upaya. Ia pun datang bersama kawan-kawannya. Membawa kamera digital. Moment demi moment diabadikan. Hasil jepretannya ia tawarkan kepada para peserta didik di situ. Begitulah upaya Andi membidik peluang rezeki.

    ***

    Andi senantiasa berupaya melampaui segala keterbatasannya. Baginya, itulah salah cara mensyukuri nikmat yang Tuhan berikan. Sebelum memiliki kedai kopi, Andi sempat berjualan telor asin. Jika bulan puasa tiba. Ia serasa mendapatkan berkah. Khususnya seminggu sebelum lebaran. Arus mudik di jalur pantura begitu deras. Di saat-saat seperti itulah dagangannya laris manis. Ia tak lupa menyisihkan sebagian penghasilannya untuk ditabung. Hari demi hari ia lalui dengan suka cita. Meski berbuka puasa dengan lauk seadanya.

    Tak terasa, tepat di saat lebaran, tabungannya telah mencapai dua juta rupiah. Ia begitu sumringah. Ia merasa perjuangannya tidak sia-sia. Dua juta rupiah! Sungguh nominal yang cukup besar bagi Andi. Ia sempat tergoda ingin membeli motocross bekas. Nantinya akan dimodifikasi sedemikian rupa. Agar bisa dikendarai tanpa kaki. Memiliki motocross adalah impiannya semejak masih bocah. Sekaranglah saatnya meraih impian itu, pikirnya.

     Andi kemudian merenung. Bukankah lebih baik uang itu digunakan sebagai modal usaha. Sehingga uang pun bisa berkembang. Syukur-syukur kelak, dari situ ia bisa membeli motocross. Ia lantas bertukar pikir dengan kakaknya. Alhasil, buka kedai kopi pilihannya. Kebetulan ada saudara di Semarang yang buka usaha kedai kopi. Ia melatih Andi cara meracik kopi. Berulang-ulang. Hingga kopi racikan Andi layak dinikmati.

    Afandi, kakaknya, mendesainkan spanduk untuk kedai kopi Andi. Bukan, ia bukan desainer. Ia seorang guru swasta. Desainnya pun sederhana. Tapi setidaknya bisa menghemat biaya. Bagi Andi, yang penting spanduk itu ada. Meski ala kadarnya. Sehingga orang yang kebetulan lewat bisa tahu keberadaan kedai kopinya. “Pelayanan dan citarasa, itulah  yang utama,” ungkapnya.

    Andi mulai membeli peralatan yang dibutuhkan. Ada yang dibeli secara kontan. Ada pula dengan cara kredit. Ya, mengingat keterbatasan anggaran yang dimiliki. Tidak mengapa, asal ia bisa buka usaha. Ia ingin belajar hidup mandiri. Ia tidak ingin berpangku tangan dan merepotkan orang lain. Itu saja.

    ***

    Andi menjadi tuna daksa bukan sejak lahir. Kondisi demikian bermula pada tahun 2008. Saat itu ia duduk di kelas dua SMP. Ia tengah mengayuh sepeda di jalur pantura. Tiba-tiba menabrak pintu mobil yang sedang dibuka. Ia terjatuh ke tengah jalan dan ditabrak truk gandeng yang sedang melintas. Kedua kakinya patah dan salah satunya mesti diamputasi. Tentu butuh biaya tak sedikit. Ratusan juta rupiah. Keluarganya pun menjual rumah satu-satunya. Di rumah sang nenek mereka pindah. Andi masih punya satu kaki. Sejumlah pen bersarang di dalamnya.

    Selang beberapa bulan, Ia kembali di bawa ke rumah sakit untuk proses skin graft. Kali ini kakaknya, Afandi, mengajukan proposal. Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Kabupaten Brebes membuatkan memo agar Andi dirawat tanpa biaya. Dua minggu ia dirawat. Ia hanya ditemani kakak keduanya, Dedi. Sebab, saat itu bapaknya juga sakit parah dan dirawat di rumah sakit. Ibu Andi bersama Afandi, kakak pertamanya mesti menunggui sang bapak.

    Usai dua minggu, Andi dibawa pulang. Sampai rumah, bapaknya telah tiada. Butiran-butiran airmata pecah. Jatuh berderai membasahi pipi Andi. Perlahan-lahan. Perlahan-lahan.

    Sekira setahun Andi rawat jalan. Namun, lambat laun kakinya membusuk dan mesti diamputasi. Karena jika dibiarkan, bisa berbahaya. Andi pun kembali dibawa ke rumah sakit.

    Proses amputasi selesai. Total biaya semestinya sebelas juta rupiah. Sang dokter berbaik hati. Ia memahami kondisi keluarga Andi. Dokter itu pun tidak mau dibayar sama sekali. Pihak pengelola rumah sakit juga memberikan keringanan. Hanya biaya rawat inap dan obat-obatan sebesar lima juta yang mesti dibayar. Andi tak lupa mengucapkan terima kasih.

    ***

    Mozaik perjalanan yang dilalui Andi, menjadikan ketabahannya serupa baja. Ia kini tinggal bersama neneknya di jalan Kota Baru depan Asrama Polisi 2 Brebes. Melakoni hidup dalam kecingkrangan bukanlah perkara mudah. Namun, ia menyadari bahwa hidup adalah perjalanan. Dan perjalanan, betapapun berat, harus diteruskan. Impian mesti tetap diupayakan. Pelbagai musibah, ia jadikan sebagai hikmah untuk meraih berkah. Segala kekurangan bukanlah penghalang. Meski dalam keterbatasan, semangatnya tetap menyala. Ia tak punya kaki, tapi punya kedai kopi dan secangkir mimpi. #TEMPO45


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.