Menyusuri Sejarah Lewat Incunabula - Urban - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Menyusuri Sejarah Lewat Incunabula

    Jejak pengetahuan di masa awal mesin cetak dapat dilacak melalui incunabula.

    Dibaca : 4.397 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

     

    “Sebelum mesin cetak ditemukan, seabad setara dengan seribu tahun.”

    --Henry David Thoreau (Penulis, 1817-1862)

     

    Banyak jalan untuk menyusuri jejak-jejak historis pengetahuan manusia yang tersimpan dalam bentuk cetakan. Incunabula salah satunya (merupakan bentuk jamak dari incunabulum, sebuah istilah yang dipakai untuk buku-buku yang dicetak di masa awal kehadiran mesin cetak, paruh kedua abad ke-15).

    Bila ingin mengetahui naskah-naskah ilmu kedokteran di masa awal dunia percetakan, kita dapat melacaknya antara lain melalui karya Frederick N.L. Poynter, yakni A Catalogue of Incunabula in the Wellcoma Historical Medical Library, yang diterbitkan oleh Oxford University Press pada 1954.

    Asal-usul incunabulum dapat ditelusuri ke dalam kasanah Latin, yaitu cuna yang berarti ayunan. Sedangkan incunabula mempunyai makna “kain bedung” (yang biasa dikenakan pada bayi). Disebut begitu lantaran kata ini merujuk pada produk cetakan—buku, pamflet, gambar—yang dibuat pada masa-masa paling dini perkembangan teknologi percetakan ‘modern’, yakni sebelum 1501 ketika teknik percetakan masih seperti bayi. Boleh dikata, inilah masa merebaknya ‘demam membuat buku cetak’.

    Johann Gutenberg memang kerap mendapat atribusi sebagai penemu mesin cetak modern. Teknologinya, yang antara lain dipakai untuk mencetak kitab Bibel di Mainz pada 1455, dengan segera menyebar dari Jerman ke Italia. Dua orang Jerman yang lain, Sweynheym dan Pannartz, pada 1464 mendirikan usaha percetakan di Subiaco, dekat Roma. Lima tahun kemudian, dua bersaudara yang juga orang Jerman, Johann dan Windelin, mendirikan percetakan di Venesia. 

    Mereka yang bergelut di dunia percetakan pada masa itu terlatih dalam tradisi manuskrip yang ditulis tangan. Lantaran itu, manuskrip digandakan dalam jumlah sedikit. Comedy-nya Dante, misalnya, hanya dibuat 200 eksemplar. Menulis tangan untuk 200 naskah Dante jelas memerlukan waktu lama—yang dipersingkat oleh mesin cetak Gutenberg.

    Kebiasaan itu terbawa ketika pencetakan dengan mesin Gutenberg mulai tumbuh. Kala itu, buku dicetak tidak lebih dari 300 eksemplar setiap judul. Bahkan, pada masa-masa awal percetakan “modern” ini, huruf pertama dalam paragraf tertentu (misalnya di awal bab) masih ditulis tangan. Berwarna dan dibuat seindah mungkin. Gagasan hebat atau kisah fiksi yang menawan mesti ditampung dalam buku yang didesain seindah mungkin dengan sampul tebal.

    Ukuran sebuah buku menjadi pertimbangan penting saat mencetak. Penerbit yang ingin sukses mesti menghitung cermat berapa banyak buku yang bisa diserap pasar. Tak heran bila mereka juga lebih suka menerbitkan buku-buku laris seperti buku agama, buku daras (textbook), karya hukum, maupun karya klasik.

    Pada sekitar tahun 1500, ketika ukuran buku menciut dari folio ke kuarto, jumlah edisi pertama sebanyak 500 eksemplar menjadi standar baru (Bayangkan, kini di Indonesia, cetakan pertama sebuah buku paling banter 3.000 eksemplar, hanya enam kali lipat dari masa lima abad yang lampau!). 

    Catatan pertama ihwal pemakaian incunabula sebagai istilah percetakan ada dalam pamflet yang ditulis oleh Bernard von Mallinckrodt, De ortu et progressu artis typographicae (“Perihal Muncul dan Berkembangnya Seni Tipografi”), diterbitkan di Cologne pada 1639. Di dalamnya tertulis frasa prima typographicae incunabula, “masa pertumbuhan awal percetakan”. 

    Kini incunabula jadi barang langka. Salah satu incunabula yang mashur ialah kitab Bibel cetakan Gutenberg dan Liber Chronicarum karya Hartmann Schedel, yang dicetak oleh Anton Koberger pada 1493. 

    Sejumlah besar incunabula kini tersimpan di beberapa perpustakaan. Kolektor besar yang dapat disebut antara lain Bayerische Staatsbibliothek, Munich (18.550 eksemplar), British Library (12.500), Bibliotheque nationale de France (12.000), Vatikan Library (8.000), Oesterreichische Nationalbibliothek, Wina (8.000) Stuttgart Landesbibliothek (7.000), Huntington Library, AS (5.600) Library of Congress, AS (5.600). 

    Daftar paling otoritatif mengenai incunabula ialah katalog yang tersimpan di Staatsbibliothek zu Berlin, yakni Gesamtkatalog der Wiegendrucke. British Library memiliki Incunabula Short-Title Catalogue. Mengapa koleksi incunabula dianggap bernilai historis tinggi, itu tak lain karena kesaksiannya atas sebuah zaman, yakni masa peralihan dari tradisi manuskrip yang ditulis tangan ke tradisi cetak. (foto ilustrasi: Katalog Incunabula karya Poynter, sumber europea catalog) ***

    Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.