Melawan OPT, Mahasiswa Pertanian UNEJ Serukan Cara Aman - Analisis - www.indonesiana.id
x

Andik Setyawan (PB)

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Jember
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Melawan OPT, Mahasiswa Pertanian UNEJ Serukan Cara Aman

    Solusi Kurangi Ketergantungan Petani pada Penggunaan Racun (Pestisida) dalam Melawan OPT, Mahasiswa Pertanian UNEJ Serukan Pengendalian Hayati

    Dibaca : 2.612 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Jember – Pelaksanaan pengendalian hama dan penyakit tanaman pada pertanian di Indonesia yang begitu tergantung dengan pestisida dianggap memprihatinkan oleh para mahasiswa pertanian UNEJ. Hal ini karena dampak buruk yang ditimbulkan terhadap lingkungan dan manusia akibat penggunaannya. Menurut Arif, Mahasiswa Pertanian UNEJ, "Penggunaan Pestisida untuk mengendalikan hama dan penyakit memang cepat dan efektif, namun pestisida yang dipake petani kita itukan dari formulasi bahan bahan kimia yang bersifat racun, kalau ini terus-terusan dilanjutkan akan berdampak seperti mencemari lingkungan, menyisahkan residu pada produk hasil, dan mneyebabkan keracunan pada petani itu sendiri”.

    Permasalah hama dan penyakit tanaman sampai saat ini memang masih menjadi permasalahan yang berarti bagi petani Indonesia karena keberadaan OPT tersebut dapat menyebabkan kerugian hingga menyebabkan gagal panen. Dalam penanganananya petani masih mengandalkan pestisida sintetik sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah tersebut, karena pestisida ini dapat bekerja cepat dalam mengendalikan OPT namun disamping manfaat tersebut terdapat dampak buruk yang ditimbulkan seperti kandungan residu pada produk hasil pertanian dan ancaman terpapar pestisida yang dapat menyebabkan keracunan. Praktik pengendalian semacam ini dapat kita jumpai hampir di seluruh lahan pertanian di Indonesia.

    Salah satu tempat disuatu daerah yang melakukan praktik pengendalian dengan pestisida secara sangat bergantung adalah di Desa Solokuro, Kabupaten Lamongan. Mayoritas petani mengandalkan pestisida untuk mengendalikan OPT. Didik, Ketua karang taruna KURAJAYA Solokuro sekaligus pelaku usahatani mengatakan, “urusan OPT semacam suket dulu masyarakat masih menggunakan cangkul dalam pengendalian, cara ini dinamai dangir (penyiangan), namun seiring berjalannya waktu dan diluncurkannya berbagai macam produk herbisida petani malas melakukan dangir dan cenderung menggunakan herbisida dalam pengendalian suket karena lebih cepat dan gak ruwet”. Kecenderungan tersebut mengakibatkan semakin maraknya praktik pengendalian menggunakan herbisida karena terpengeruh oleh tetangga sawahnya yang mengaplikasikan pestisida dengan hasil yang cepat. Dia menambahkan bahwa “tidak sekedar untuk mengendalikan suket, namun juga pada hama dan segala macam penyakit. Muncul tanda penyakit semprot herbisida, daun bolong sedikit semprot”. Hal tersebut membuat para akademisi untuk memfikirkan cara agar dapat menggantikan posisi pestisida untuk mengendalikan OPT dikalangan petani dengan cara yang lebih baik.

    Teknik lain agar penggunaan pestisida ini dapat dikurangi harus mulai digalakkan, salah satu teknik yang saat ini bisa dikembangkan adalah penggunaan organisme berguna yang sering disebut dengan pengendalian hayati. Pengendalian Hayati dapat menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan formulasi pestisida yang berasal dari campuran berbagai bahan kimia yang bersifat racun. Menurut Panca, Mahasiswa Pertanian UNEJ, “Pengendalian hama dengan pengendalian hayati harus segera digalakkan oleh pemerintah sebagai pemangku kebijakan, mahasiswa dan akademisi yang bertugas melakukan riset dan mengajarkan ke petani, serta petani sebagai pelaku langsung kegiatan pertanian. Karena teknik ini lebih ramah lingkungan dan aman bagi para petani karena tidak menggunkaan bahan kimia yang bersifat racun”. Teknik pengendalian hayati ini penggunaan musuh alami untuk mengendalikan hama dan pengganggu tanaman. Musuh alami yang biasa digunakan dapat berupa predator, parasitoid, patogen herbivor pemakan daun tanaman, antagonis. Pernyataan dari salah seorang mahasiswa tersebut dapat mengindikasikan kesadaran untuk segera mengaplikasikan teknik tersebut sudah mulai tumbuh dikalangan mahasiswa, kesadaran ini harus diikuti oleh berbagai pihak terkait karena dengan kesadaran dan keinginan yang sama tersebut upaya pengendalian hayati ini dikalangan petani rakyat akan terwujud (Andik S.).

    Ikuti tulisan menarik Andik Setyawan (PB) lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.