Ayahandaku Nan Sholeh - Urban - www.indonesiana.id
x

Thamrin Dahlan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Urban
  • Topik Utama
  • Ayahandaku Nan Sholeh

    Haji Dahlan Bin Affan lahir di bengkulu merantau ke jambi. Ke sholehan Bapak sungguh sangat mengagumkan. Inilah islam Kaffah.

    Dibaca : 1.539 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Bukan maksud untuk meng-kultus-individukan Almarhum ayahanda Haji Dahlan Bin Afgan. Namun pada keyataannya kami bangga mempunyai Ayahanda yang sedemikian sholeh dalam menjalankan amal ibadahnya. Sehingga tidaklah salah bila Almarhumah Maktuo Zaitun yang tinggal di Thehok Jambi saudara sepupu Bapak sama sama berasal dari Bengkulu memanggil Ayahanda dengan panggilan sayang “Sholeh”.

    Lahir di Bengkulu pada tahun 1911, berdua dengan adiknya Pamanda Sabirin merantau ke Jambi dengan tujuan untuk belajar mengaji di sebrang kota Jambi dan menemui saudaranya yang menjadi Wedana yang bertempat tinggal di Thehok Jambi selanjutnya Bapak bekerja di pertamina sampai pensiun pada tahun 1970. Artinya, selama hayatnya Ayahanda lebih banyak bermukim di tempino Jambi dan dengan takdir Allah, Ayahanda wafat di Bogor pada tanggal 9 Juli 1992 dalam usia 81 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Blender Bogor.

                Sebagai seorang muslim yang sejati, banyak kenangan yang Beliau tinggalkan kepada kita, terutama selama kandung hayatnya Beliau benar benar menjadi contoh bagaimana cara hidup seorang muslim yang selalu konsisten menjalankan sunah sunah Rasul. Hal ini terlihat ketika Bapak terkena najis dari jilatan hewan anjing. Untuk menghilangkan najis tersebut sesuai dengan pelajaran fikih yang Beliau terima maka beliau bersuci dengan menggunakan air dan tanah. Bagian tubuh yang kena najis tersebut dibasuh sebanyak tiga kali berulang ulang. Kenapa tidak pakai sabun? Bapak mengatakan bahwa dengan menggunakan  air dan tanah sesuai dengan sunah Rasul akan lebih bersih sempurna dan tidak meninggalkan bau. Cara bersuci seperti ini diajarkan kepada kami anak anaknya. Masya Allah.

    Dalam kehidupan sehari hari Bapak tidak banyak bicara, beliau sangat pendiam dan hanya berbicara yang perlu saja. Bila pada suatu saat berbicara dengan orang orang dengan topik pembicaraan “ngomongin” orang lain, maka Bapak secara berangsur dan pelan pelan meninggalkan “majelis” yang tidak berguna itu.

    Kenangan yang tidak terlupakan bagi keluarga kami dalah cara Bapak shalat, terutama ketika akan Takbirul Ihram, yaitu mengucapkan kata kata Allah Akbar sewaktu memulai shalat. Agak unik memang, terkadang Bapak mengangkat tangan berkali kali mengulang Takbirul Ikram tersebut disertai dengan suara yang khas, sampai Beliau yakin betul dan selanjutnya baru meneruskan shalatnya secara khusyu. Cara Bapak ini dilakukan dimana saja, baik dirumah maupun di Masjid, sehingga merupakan ciri khas Bapak yang dikenal oleh masyarakat Tempino.

    Kedisiplinan Bapak didalam membaca Al-Qur’an dan Tafsirnya, masih tertinggal bekasnya pada kitab al-Qur’an dan Tafsirnya karangan Muhammad Yunus hadiah dari kakanda Husna. Saat ini kitab itu ada pada kami, dan didalam kitab itu masih tercatat tulisan asli Bapak pada lembaran lembaran kertas yang mencantumkan tanggal dan surat dan ayat yang Beliau baca. Entah sudah berapa kali Bapak khatam Al-Qur’an. Kegiatan ini setiap hari Beliau kerjakan selepas shalat Zhuhur  dan shalat Magrib diberanda rumah di Tempino atau dimana saja waktu itu Bapak menginap, kitab tersebut selalu Beliau bawa. Ketika Bapak menginap di rumah kakanda Husna di Pancoran Jakarta Selatan, Haji Salam orang betawi yang punya rumah kontrakan dan mengajar ngaji dilingkungan itu mengatakan sangat terkesan dengan kealiman dan ke istiqomahan Bapak mengaji.

    Kami mempunyai kebun yang cukup luas di Tempino, walaupun selam bekerja di pertamina disediakan perumahan (woneng), namun Bapak dan Mamak lebih suka menempati rumah sendiri sambil merawat kebun yang banyak kolamnya dan pohon buahan serta sayur sayuran. Pernah suatu ketika sewaktu pulang dari Masjid Bapak membawa tiga buah durian. Ternyata durian itu beliau temukan dari kebun Mang Dung tetangga diatas rumah. Bapak menyuruh kami untuk mengantarkan tiga durian tersebut kepada keluarga mang Dung, karena menurut Bapak, kita tidak berhak atas durian jatuhan itu. Masya Allah Jujurnya Bapakku, padahal yang berlaku adat dikampungku, siapapun yang menemukan durian jatuhan berhak memiliki durian tersebut dan empunya kebun sebenarnya sudah ikhlas.

    Dirumah ladang tempat kami tinggal, ada sumber air sumur yang sangat dingin, sejuk dan bersih. Sumber mata air sumur itu diketemukan Bapak sewaktu mulai membuka ladang yang terletak dibawah woneng kapal terbang. Sumur itu terletak dibawah rumah persis dekat pohon durian. Sampai saat ini sumur itu telah berfungsi sebagai fasilitas umum yang dimanfaatkan oleh masyarakat disekitar tempat tinggal kami. Anehnya, justru Bapak tidak mandi di sumur itu, Beliau mandi dan berwudhu di kolam bawah rumah. Sumur yang tidak pernah kering, walaupun pada musim kemarau, sehingga sampai antri orang untuk mencuci dan mandi di sumur tersebut. Bapak selalu menganjurkan kepada kami untuk selalu mendahulukan orang lain menggunakan sumur tersebut, kami diminta untuk mengalah, karena menurut Bapak mereka dateng jauh jauh, sedangkan kita dapat mandi kapan saja. Pahala yang terus mengalir keBapak sebagai buah dari hasil usahanya, akan terus dan terus mengalir seperti mengalirnya air sumur yang tiada berhenti.

    Pada tahun 1960 sampai 1980 untuk mencukupi dan memenuhi kebutuhan sehari hari Mamak coba coba berdagang dipasar Tempino, dan alhamdulillah dagangannya cukup laris sehingga berkembang perdagangannya kekalangan desa desa yang dekat seperti sungai Landai, Pal Tigoduo dan Pelempang atau sampai ke Jerambah Empat jalan menuju ke Bajubang. Setelah pensiun Bapak ikut membantu Mamak kekalangan. Didalam berdagang ini Bapak benar benar berniaga cara Rasullulah, terutama didalam menimbang barang apakah itu beras, gula, ataupun barang dagangan lainnya. Bapak sangat berhati hati jangan sampai timbangan barang yang akan di jual menjadi kurang, begitu pula pada waktu mengembalikan uang, jangan sampai kurang. Karena beliau yakin bahwa mengurangi timbangan adalah dosa dan dilarang didalam agama. Selanjutnya dari hasil dagangan itu tidak lupa Mamak dan Bapak membayarkan zakat seperti juga yang selalu Beliau ingatkan kepada kami anak anaknya. Masya Allah, alngkah amanahnya Bapakku.

    Kenangan yang sangat berarti ketika aku masih kecil bersama adikku Yahya kami sangat senang bila bulan Ramadhan tiba, terutama menjelanghari raya idul fitri. Banyak masyarakat Tempino yang dateng untuk mempercayakan zakat fitranya kepada ulama ulama termasuk Bapak, wah banyak uang nih kata adikku Yahya, namun ternyata Bapak menyalurkan kembali zakat fitra itu kepada kaum duafa yang beliau sangat kenal dan tinggal disekitar kampung.

    Tahun 1966, Bapak mengajak kami sekeluarga ke Bengkulu. Istilah orang tanah minyak adalah perlop yang dibiayai oleh pertamina. Berangkat melalui Palembang menjemput kakanda Husna selanjutnya dengan menggunakan kereta api berangkat ke Lubuk Linggau dan terus ke Bengkulu melalui kota Curup. Inilah kampung kalian kata Bapak namun karena pada waktu itu jalan rusak kami hanya sampai di Bengkulu, tetapi Bapak diantar oleh udo La (Abdullah) kemanakannya sampai jugake Seblat dengan jalan kaki. Karena biaya dinas Bapak sangat teliti sekali mengumpulkan kwitansi kwitansi biaya perjalanaan dan dengan kejujurannya tidak ada biaya lain yang Beliau mintakan. Ini sudah cukup kata Bapak. Setelah pensiun Bapak menghantarkan adiknya Pamanda Sabirin beserta Etek Inam dan Khairul ke Bengkulu. Dan ini merupakan salah satu saja bukti dari kecintaan Beliau kepada keluarganya.

    Cerita lain dari cucu Almarhum ada juga . pada saat kenaikan kelas cucu Beliau anak anak dari kakanda Kahidir, Uda syakirin dan Uda Yasir sambil berlari lari membawa raportnya pulang, tetapi malah bukan langsung ke Ibu Bapaknya, namun mereka lapor dulu kepada datuk Haji Dahlan. Ada apa rupanya? Ternyata cucu ini secara rutin setiap habis menerima rapor, dateng ke datuk nya dulu. Tentunya ada hadiah bagi cucu tersayang dan Almarhum menguji cucu-cucu tersebut untuk melihat jam dinding di dalam rumah. Kalau jawabanya benar atau salah hadiah tetap saja diberikan. Allah Akbar.

    Bekerja di pertamina, Bapak hanyalah menjadi seorang buruh kecil yang bekerja pada bagian pengeboran (explorasi), suatu pekerjaan yang berat karena harus memperbaiki dan merawat sumur sumur minyak (boran) yang ada disekitar Tempino. Namun dengan taqdir Allah dan Bapak tidak minta dipindahkan  kebagian yang lebih ringan, suatu ketika Bapak mengalami kecelakan sewaktu bekerja dan setelah dirawat di rumah sakit Bajubang, Bapak dipindahkan kerjanya ke bagian saringan air diatas kantor. Setelah itu secara rutin aku dan Yahya mengantarkan makanan (rantang) ketempat Bapak bekerja. Dengan naik sepeda berboncengan kami pernah jatuh ketika menuruni jalan kekantor yang cukup terjal, tapi anehnya rantang yang dipegang Adinda Yahya koq tidak tumpah, Masya Allah rezeki Bapak yang selalu dilindungi oleh Allah Yang Maha pemberi rezeki. Kakanda Nurhayati yang memasak untuk makanan Bapak merasa heran kenapa adiknya yang bungsu si Yahya rajin sekali dan semangat mengantar rantang dan tentu saja adinda Yahya bersemangat.

    Menunaikan ibadah haji tahun 1980 bersama Mamak, kekuatan niat Mamak dan Bapak untuk menunaikan ibadah haji mendorong beliau untuk menjual rumah yang dibangunnya secara bersusah payah selama bertahun tahun dan rumah itu terletak di Thehok Jambi. Ada suatu kekuatan yang memancar dari diri Bapak di Asrama haji Pondok Gede jakarta, kami dengan enaknya melenggang melewati penjagaan ketat di pintu Asrama haji itu, kami heran kok nggak ditahan oleh para polisi itu (kebetulan aku tidak pake pakaian polisi), mungkin tidak terlihat sosok kami ketika melewati penjagaan itu sedangkan orang orang lain yang akan masuk ditahan. Sampai saat ini aku yakin kejadian ini adalah atas izin Allah berkat cahaya keimanan yang memancar dari ayahanda Dahlan.

    Pemahaman Bapak terhadap agama sangatlah utuh, terutama yang menyangkut sejarah perjalanan Nabi muhammad SAW, sehingga hampir semua nama anak-anaknya ada dalam Al-Qur’an, dari Husna sampai Yahya, sampai-sampai ketika cucunya lahir, anak dari kakanda Syahrir (buyung) diberi nama anshor. Menurut Beliau, nama itu di ambil dari nama kaum Anshor penduduk Madinah.  . Allah Akbar.

    Pada masa terakhir Bapak dan Mamak memang lebih banyak tinggal di Bogor. Pengabdian kami untuk membahagiakan beliau sangatlah tidak berarti bila dibandingkan dengan perjuangan beliau membesarkan kami dalam kondisi ekonomi yang sangat sulit di tahun 50 sampai 70 an .

    Ada tiga hal yang kami rasakan dapat membahagiakan Beliau pada masa hidupnya. Pertama ketika cucunya Adithya Husada lahir dan tanggal lahir itu Bapak catat  di kitab Al Quran sebagai rasa syukurnya atas ketaatan ku menikah dengan menantu pilihannya Enida Busri.  Kedua ketia aku mmengajak Bapak Shalat di masjid istiqlal Jakarta, masjid terbesar di Asia tenggara walaupun kami naik Bus berdesak desakan Nampak Bapak sangat terharu menyaksikan kemegahan Masjid.  Dan yang ke tiga ketika masa masa Bapak menderita sakit di ujung perjalanan hidupnya.  Kami anak cucu menuntun Beliau ber wudhu dan secara bergantian aku Boy atau Dony  dan Anshor menjadi Iman sholat  mengimani beliau nan terbaring lemah di tempat tidur.  Terbersit kebahagiaan di mata beliau, bukan harta nan ayahanda tinggalkan namun keturunan nan sholeh yang hamba persembahkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa.

    Sebenarnya masih banyak kenangn yang menunjukkan betapa Sholehnya Ayahanda, namun biralah tersimpan di hati masing masing anak cucunya.  Dan akhirnya semua bermuara kepada satu kesepatakan pendapat bahwa Haji Dahlan Bin Affan memang benar benar orang baik dan sholeh.

    Akhirnya pengabdian kita anak cucu nan belum tuntas sempurna kepada Ayahanda, mari kita doakan semoga Atwah Ayahnda dan Ibunda Hajjah Kamsiah Binti Sutan Mahmud diterma disisi nan layak Allah Subhanahuwatallah dengan cara membaca surat yasin setiap malam jum’at dan dilain kesempatan guna menghadiahkan pahalanya untuk Almarhum  dan Almarhumah., Amin Ya Rabbal Alamin.

    Salamsalaman

    TD

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik Thamrin Dahlan lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.










    Oleh: web seo

    Minggu, 26 Juni 2022 12:08 WIB

    Cara Membersihkan Thorttle Body pada Motor

    Dibaca : 497 kali