Teman Ahok Mengusik Elite Partai

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Gerakan Teman Ahok rupanya telah mengusik elite partai.

 

“Politik itu masalah yang terlampau serius untuk diserahkan kepada politikus saja.”

--Charles de Gaulle (Negarawan Prancis, 1890-1970)

 

Ada sisi menarik dari permintaan kelompok Teman Ahok bila Basuki Tjahaja Purnama ingin dipasangkan dengan Djarot Syaiful Hidayat, yakni Djarot mundur dari keanggotaannya dalam PDI-P. Kelihatannya, Teman Ahok ingin meminimalkan peran partai dalam mengusung calon kepala daerah. Bukan penolakan Djarot untuk mundur dari partai yang menarik perhatian, melainkan mengapa Teman Ahok bersikukuh mengusung Ahok dari jalur independen dan menolak saran agar mereka berjalan beriringan dengan PDI-P?

Langkah mereka, saya kira, merupakan manifestasi ketidakpercayaan sebagian masyarakat, khususnya anak-anak muda yang usianya berkisar 20an kepada partai politik. Anak-anak muda yang dibesarkan di era internet ini, saya rasa, mengerti benar bahwa partai politik adalah bagian penting dalam kehidupan berdemokrasi—mereka bukan tidak paham. Tapi mereka juga mengerti benar bahwa partai politik belum mencerminkan diri sebagai institusi yang memperjuangkan kesejahteraan rakyat melalui jalur politik.

Dalam berbagai kegaduhan di negeri ini, sikap partai terlihat lebih menonjolkan kepentingan kaum elitenya ketimbang mengedepankan kemaslahatan rakyat. Mereka saling bertarung—antar partai, maupun di dalam partai (sayangnya, ini terlihat bukan sebagai pertarungan dalam rangka ‘berlomba-lomba berbuat kebajikan’ untuk menyejahterakan rakyat. Lihat saja, ada partai-partai yang hingga sekarang masih ribut; kapan mereka akan bekerja benar untuk rakyat?  

Belum lagi kasus-kasus korupsi dan suap yang melibatkan anggota maupun para petinggi partai. Ini meninggalkan kesan mendalam bahwa orang terjun ke dunia politik bukan untuk tujuan ideologis maupun untuk memperbaiki nasib rakyat. Buya Ahmad Syafii Ma’arif, mantan Ketua Umum Muhammadiyah, sampai mengingatkan kepada anak-anak muda yang ingin terjun ke dunia politik bahwa dunia politik itu ‘kumuh, kumuh, kumuh’. Inilah tantangan yang mesti dihadapi, bukan untuk larut di dalamnya.

Kita tak bisa memungkiri kenyataan bahwa partai politik saat ini dikuasi oleh orang-orang yang juga menguasai sumber daya ekonomi lewat kegiatan bisnis mereka—sebagian di antaranya bahkan juga memiliki media massa. Anak-anak muda ragu bahwa mereka mampu memisahkan antara kepentingan politik yang terkait dengan urusan negara dan kepentingan bisnis mereka sendiri. Kepentingan politik dan ekonomi berjalin di satu tangan yang sama. Ini jelas kekuasaan yang amat besar.

Anak-anak muda, seperti Teman Ahok, ingin penyegaran dan penyehatan dalam kehidupan berdemokrasi dengan memberikan jalur alternatif untuk melahirkan kepemimpinan masyarakat. Mereka mengerti bahwa partai politik adalah bagian dari kehidupan berdemokrasi dan langkah mereka bukan merupakan langkah deparpolisasi. Elite partai semestinya tidak sewot terhadap langkah anak-anak muda ini, melainkan justru mesti melakukan introspeksi ke dalam.

Yah, mungkin saja mereka terusik oleh gerakan anak-anak muda yang memanfaatkan media sosial ini. Setiap riak perubahan memang selalu mengkhawatirkan kemapanan. (Gambar: Situs temanahok.com) ***

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua