Menjadi Citizen Scientist - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Para ilmuwan di Cambridge Silicon Radio (CSR) telah menemukan keyboard komputer fleksibel yang kertas tipis di hanya 0,5 milimeter dan dapat berubah setiap daerah ke permukaan sentuh yang sensitif. dailymail.co.uk

kebogiraz

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Menjadi Citizen Scientist

    Dibaca : 6.594 kali

    Indonesia adalah negara megabiodiversity, itu adalah fakta. Kekayaan hayati yang melimpah membuatnya tertinggi setelah Brasil dengan luas hutan ketiga di dunia. Tapi di sisi lain, Indonesia adalah negara dengan laju deforestasi terbesar di dunia. Itu juga fakta! Dan itu menyakitkan!

    Meskipun berlabel negara megabiodiversity, ternyata data keanekaragaman hayati Indonesia sangat minim. Jangankan data sampai pada ranah genetik, data spesies saja kita masih lemah. Pemetaan genetik dan spesies sangat penting untuk mengetahui sifat hayati sehingga bisa diketahui perilaku konservasi, pemanfaatan dan teknik budidayanya.

    Kekayaan hayati Indonesia telah menarik perhatian banyak peneliti asing untuk melakukan riset di Indonesia. Hal ini menyebabkan data-data penting tentang kekayaan hayati Indonesia justru dimiliki dan dikelola dengan sangat baik oleh asing. Bahkan tidak jarang, data-data itu kemudian dimanfaatkan dalam skema penguasaan paten terhadap produk-produk yang menggunakan bahan dasar dari alam Indonesia, kita sebut itu sebagai praktik biopiracy atau pembajakan keanekaragaman hayati. Sialnya, produk-produk itu kemudian dijual dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia sendiri.

    Rendahnya sumberdaya manusia dan jumlah peneliti profesional boleh jadi adalah faktor utama penyebab minimnya data kekayaan hayati Indonesia. Dominasi tulisan-tulisan ilmiah di berbagai jurnal ilmiah baik di dunia, bahkan di Indonesia sendiri, masih didominasi oleh nama-nama peneliti asing. Begitu juga dengan buku-buku karangan penulis lokal, masih sangat sedikit.

    Tentunya, rendahnya sumberdaya manusia bukan satu-satunya faktor penentu. Kebijakan pemerintah, pendanaan dan apresiasi masyarakat terhadap hasil-hasil penelitian yang rendah juga menjadi penyebab yang tidak bisa diremehkan. Untuk itu mari mengambil peran yang paling mungkin kita lakukan untuk membantu tugas para peneliti. Tugas yang bisa dilakukan oleh seorang warga negara biasa. Bahwa pekerjaan penelitian tidak harus menjadi tugas dan tanggung jawab peneliti saja. Jika tanggung jawab terhadap ketersediaan data hayati dan pengetahun bagaimana pemanfaatan yang berkelanjutan hanya dibebankan kepada para peneliti professional saja, bisa dipastikan kita akan kalah cepat dengan laju deforestasi Indonesia yang luar biasa itu. Untuk itu, menjadi second layer (pelapis kedua) dalam mengumpulkan data hayati adalah cara terbaik. Kita bisa ambil bagian dalam skema Citizen Science.

     

    Citizen Science

    Citizen science secara umum diartikan sebagai penelitian ilmiah yang dilakukan peneliti amatir baik di sela waktu paruh atau semua waktu yang dimiliki. Secara khusus, citizen science diartikan sebagai proses sistematik dalam pengumpulan dan analisa data; mengembangkan teknologi; uji coba fenomena alam; dan diseminasi aktifitas-aktifitas tersebut oleh peneliti-peneliti yang berbasis hobi. Bentuk aktifitas citizen science bisa bermacam-macam namun biasanya adalah mengelola sendiri waktu dan instrument pendukung untuk mendapatkan data yang diinginkannya atau atas bagian dari sebuah proyek besar.

    Di Indonesia, istilah citizen science masih sangat asing atau bahkan sangat tidak kenal meskipun pada kenyataannya banyak yang sudah mempraktikan skema ini. Para mahasiswa yang melalui organisasi pecinta, misalnya, melakukan kegiatan eksplorasi lalu mengelola data hasil eksplorasinya menjadi informasi tertentu adalah citizen science. Atau penghobi foto satwa liar yang rutin hunting foto lalu menyimpan baik-baik data dari foto-fotonya seperti lokasi dan nama spesies bidikannya. Pengamat burung dengan catatan-catatan perjumpaannya. Dan masih banyak lagi.

    Sayangnya, masyarakat Indonesia tidak memiliki budaya dokumentasi dan menulis yang baik. Bukan menulis puisi, tapi menulis cerita atau bahkan laporan dari pengalaman pribadinya, meskipun sederhana. Kebiasaan ini yang menyebabkan banyak pengetahuan, informasi atau data yang diperoleh menjadi tidak berguna. Padahal jika pengetahuan dan informasi yang dimiliki oleh tiap orang didokumentasikan dan ditulis dengan baik akan memberi manfaat yang sangat besar.

    Jurnal ilmiah atau semi ilmiah sangat banyak untuk memfasilitasi setiap informasi yang kita miliki. Bahkan di era informatika dimana teknologi internet sudah bukan makhluk ghoib lagi, lahan untuk menulis dan menyebarkan tulisan terbuka sangat lebar. Ada banyak web jurnalistik, instasi pemerintah, LSM yang siap menyiarkan informasi kita. Atau website pribadi (blog) adalah salah satu pilihan yang layak dipilih. Bahkan jika perlu update status di laman jejaring sosial Facebook atau Twitter juga bukan masalah.

    Beberapa contoh citizen science yang sudah dikelola dengan baik, meskipun mungkin mereka tidak sadar telah menjadi citizen scientist, seperti agenda tahunan monitoring burung pantai Indonesia (Mobupi). Tiap setahun sekali, selama beberapa hari, semua pengamat burung di Indonesia secara sukarela mendatangi lokasi-lokasi yang menjadi tempat singgah burung pantai migrant. Mereka mencatat setiap jenis, jumlah, kondisi cuaca, lokasi, dan lain sebagainya di setiap pengamatan. Data-data ini kemudian dikompilasi secara nasional dan menjadi catatan penting tentang migrasi burung pantai migrant di Indonesia yang sangat berguna untuk menentukan strategi perlindungannya. Mekanisme yang sama pula diterapkan untuk monitoring raptor migrant.

    Skema yang sedikit berbeda diterapkan oleh sebuah komunitas dunia maya yang menamakan dirinya FOBI atau Foto Biodiversitas Indonesia. Komunitas ini menggunakan foto sebagai produk utama dari sebuah single data yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia. Anggota FOBI secara tidak langsung mengelompokkan dirinya menjadi kelompok yang kecil berdasarkan ketertarikan terhadap kelas-kelas tertentu, seperti aves, lepidoptera, herpetofauna, flora, ikan, dll. Meskipun ada juga yang serabutan memotret apa saja yang ditemui. Foto-foto amatir inipun dikirim dan dikelompokkan berdasarkan taksonominya di dalam server FOBI. Dari kumpulan foto ini tidak sedikit yang sangat bermanfaat bagi ilmu pengetahuan, seperti penemuan spesies endemik langka yang hampir punah, catatan persebaran spesies tertentu yang belum banyak diketahui atau bahkan bisa jadi ketika hutan Indonesia pada akhirnya harus musnah, mungkin hujan tropis yang tersisa ada di server FOBI.

    Bisa dibayangkan, jika setiap warga Indonesia bisa mengambil peran sebagai citizen scientist, kendala kekurangan data akan kekayaan hayati kita mungkin bukan jadi masalah lagi. Dan untuk menjadi seorang citizen scientist pun tidak harus memiliki keahlian khusus layaknya peneliti professional atau dilengkapi dengan alat yang serba canggih dan lengkap atau didanai oleh lembaga dana berjumlah besar. Menjadi citizen scientist setidaknya harus melakukan lima hal mendasar:

    a.    Mulai dari lingkungan terdekat

    b.    Catat setiap hal meskipun sepele

    c.    Jika memungkinkan diambil fotonya meskipun harus dengan kamera ponsel

    d.    Banyak membaca

    e.    Membiasakan menulis meskipun singkat dan sederhana

    f.    Sharing dengan orang lain (terutama dengan para ahli) atau bergabung dalam komunitas yang memiliki tujuan sama.

    Memulai dari lingkungan terdekat adalah awal yang baik. Bahkan di pekarangan rumah adalah rumah biodiversitas. Namun ketika pemilihan lokasi penelitian adalah hutan belantara gung lewang lewung, dimana hutan-hutan macam itu kebanyakan berstatus kawasan konservasi, maka 20,9 juta hektar luas kawasan konservasi adalah halaman yang sungguh luas sekali. Ada 527 unit kawasan konservasi (seperti taman nasional, cagar alam, suaka margasatwa, dll) yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia yang terbagi menjadi tiga wilayah biogeografi adalah habitat alami bagi berbagai macam jenis flora dan fauna yang khas dan unik. Pohon, lumut, burung, reptile, amfibi, serangga, moluska, terumbu karang, ikan, komunitas lokal, kearifan lokal adalah sumber inspirasi besar yang belum tergali.

    Tuhan telah menganugerahi Indonesia dengan kekayaan alam yang tak terkira harganya. Betapa bodoh dan celakanya kita semua jika tidak menjaganya dan membiarkan anugrah itu hilang. Mari kita mengenali makhluk-makhluk indah itu dan menyelamatkannya demi masa depan yang lebih baik.

     

    www.pratapapa81.wordpress.com


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.