Sepuntung Asap di Tangan Si Putih Abu - Analisis - www.indonesiana.id
x

Diani kramer

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sepuntung Asap di Tangan Si Putih Abu

    fenomena merokok dikalangan pelajar

    Dibaca : 3.058 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Salam , hari ini izinkan saya untuk menuliskan sebuah artikel , sebuah fenomena yang  menimbulkan keresahan di dalam benak saya, pemandangan yang nyaris sering saya lihat,  yaitu fenomena merokok pada pelajar. Jujur saja, walaupun saya bukan seorang perokok namun saya tetap menghormati para perokok aktif disekitar saya, layaknya menghormati manusia lain dengan pilihan hidupnya. Saya yakin betul mereka sudah lebih paham akan dampaknya. Jujur saja sebagai perokok pasif terkadang tidak nyaman berdekatan dengan asap rokok , namun saya memiliki alasan tersendiri mengapa tidak menjadi seorang perokok , dan hal itupun saya yakini bahwasanya para perokok  pun memiliki alasan tersendiri mengapa mereka menjadi seorang perokok .

    Yang saya bahas kali ini bukanlah masalah atau mengkritisi para perokok di semua  kalangan , namun saya perkecil ruang lingkupnya yaitu pada pelajar. Hanya ingin berbagi hal yang sering saya temui, dan sedikit menggelitik saya untuk mengamati fenomena ini.  

    Sama hal nya seperti saya , mungkin anda pernah melihat pelajar berseragam sedang asik men- cengap si asap, jujur saja saya memiliki rekuensi yang lumayan sering melihat pemandangan ini, entah di warung – warung dijalan dan tempat – tempat umum lainnya .

    Jika saya mencoba sejenak mengingat sekitar sewindu lalu dari sekarang , kita tak bisa memungkiri bahwa para pelajar di masa itu sama sekali bersih tidak ada yang merokok, diantara para pelajar pasti ada yang sudah merokok, lalu apa perbedaan nya ? berikut perbandingan berdasarkan pengamatan saya,

    1. kuantitas para pelajar yang merokok ? saya melihat jumlah nya semakin banyak dan menghawatirkan , walau logika nya memang jumlah penduduk yang bertambah dan meluapnya jumlah pelajar sekarang ini  , dan menjamur nya instansi pendidikan , jelas pengamatan secara kasat mata saya ini kurang dapat di pastikan akurasinya.

    2. pelajar yang merokok masa itu dan masa kini berbeda, para pelajar yang merokok di masa kini cenderung lebih percaya diri mememperlihatkan betapa lintingan lintingan tembakau itu telah menjadi candu mereka , berbeda dengan para pelajar beberapa dekade yang lalu , sebagian besar dari mereka mengaku telah teradiksi oleh rokok , namun sebagian dari mereka ,memiliki rasa takut dan segan untuk merokok , beberapa dari mereka mengaku harus bersembunyi dikamar mandi saat akan merokok, dan butuh keberanian dan nyali yang besar untuk menghisap si asap dengan memakai baju seragam apalagi harus menghisap nya di temapat - tempat umum , sama sama mulai merokok dibangku sekolah, namun  beda tingkat keseganan .

    Jika kita perhatikan di socmed tak sedikit para pelajar mengaplod foto nya dengan sebatang rokok yang ada di tangan mereka. Sangat disayangkan para pelajar ini salah kaprah menginterpretasikan nya mereka mengganggap hal itu keren , disini terjadi pergeseran pandangan , asal keren lalu ditiru , hal ini dikarenakan naluri yang ada pada remaja memang tidak dapat kita pungkiri, high curiosity less aware.

    Mengapa saya sangat peduli akan hal ini , saya ikut khawatir dan prihatin karena, sebagai pelajar kemampuan finansial mereka terbatas, hanya mengandalkan uang jajan untuk sebungkus rokok ,?

    Kebanyakan dari mereka, merasa tidak nyaman dengan keadaan ini, contohnya saat setelah jam istirahat, mereka jajan di kantin , mengkonsumsi makanan , atau kudapan , alhasil pada saat jam pelajaran setelah istirahat mereka merasa tidak nyaman karena tidak merokok seusai makan , walaupun gejala ini tidak dialami semua perokok , namun hal ini akan sedikit memecah kosentrasi belajar mereka , karena memikirkan sebatang rokok pada saat belajar ditambah rasa keridaknyamanan tersebut .

    Sudah bukan rahasia lagi , apa saja dampak rokok , namun jika dengan rentan usia belasan tahun saja mereka sudah mulai merokok , itu memperbesar resiko bahaya yang akan mengintai mereka. Semakin dini merokok semakin lama nikotin melebur dalam tubuh mereka.

    lalu apa yang bisa kita lakukan, jika kita peduli akan ,masalah ini ?

    walaupun kita tidak  bisa melakukan tindakan secara massive namun berikut sedikit tips tips dari saya , jika kita ingin bersumbangsih mengurangi angka pelajar yang merokok .

    1. kita tidak akan pernah bisa melawan arus jaman , yang sebegitu serba cepat , ibarat kita berada di sebuah ruangan namun banyak celah kita ridak dapat menutupi celah yang banyak itu sedangkan kita hanya memiliki dua tangan , namun arus air mengalir terus tak terbendung . begitulah kiranya penggambaran tentang kemajuan zaman dewasa ini, jadikan lah anak – anak  dan para pelajar ini layaknya ikan hidup , ikan hidup tau akan kemana ia berenang , bukan ikan yang mati yang mudah terbawa arus , berikan mereka wejangan – wejangan dan nasihat yang baik agar kelak mereka memiliki intuisi yang baik dan gemilang  , agar tak jadi ikan mati

    2. berilah pengarahan atau contoh – contoh role model figure yang sukses walau tanpa merokok , sedikit demi sedikit mengubah mindset bahwa merokok itu keren , ternyata ada pun orang yang keren tanpa rokok , pengaruhi mereka dengan cara yang tidak langsung .

    3.Bila sudah terlanjur , terkadang kita larang dan judge secara berlebihan , ini kurang efektif bahkan bisa menaikan coriousity mereka , kenapa tidak sedikit demi sedikit memberikan penjelasan penjelasan ilmiah , seperti contoh : menurut artikel ang pernah saya baca, orang yahudi tabu terhadap rokok , bahkan kita dianggap tidak sopan jika merokok di rumah – rumah mereka , padahal kaum mereka memiliki pabrik rokok  terbesar, ternyata mereka sudah paham betul bahaya rokok terhadap performa otak , itu salah satu alasan engapa orang yahudi memiliki intelegensi yang tinggi ,.kita bisa memaparkan hal ini kepada mereka , secara bijak karena tema yang  menyakut ras , agama suatu kaum memang sedikit menjadi sensitif , tapi sasaran utama kita adalah memberi informasi bahwa si pembuat rokok saja enggan merokok, selanjutnya biarkan nalar mereka yang bekerja, tanpa perlu kita mendikte .

    4.” no matter what think opposite” suatu kalimat yang sebetulnya muncul dibenak saya tapi saya sedikit sulit menjabarkannya , maksudnya kurang lebih , adalah sikap sebagian dr para remaja yang selalu terbalik , kita menyarankan A , mereka melakukan B , jadi kita tidak usah terlalu memberikan pressure kepada mereka , dikhawatirkan akan seperti bola karet semakin kita tekan semakin membal .

     

    Sekian sharing dari saya , semoga bermanfaat terimakasih ^^

    Ikuti tulisan menarik Diani kramer lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.