Mourinho vs Guardiola, Mengapa Rivalitas Positif - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Olah Raga
  • Pilihan
  • Mourinho vs Guardiola, Mengapa Rivalitas Positif

    Dibaca : 5.868 kali

     

    Penggemar Liga Inggris niscaya sudah tidak sabar lagi menyaksikan laga musim depan antara dua klub papan atas: Manchester City versus Manchester United. Dua pelatih kesohor yang bersaing ketat di Liga Spanyol akan saling unjuk kecerdasan masing-masing melalui tim asuhan masing-masing: Josep ‘Pep’ Guardiola bersama City dan Jose Mourinho bersama MU.

    Kehadiran dua pelatih ini jelas akan menghangatkan kembali Liga Inggris yang sempat kurang pamor setelah pensiunnya Sir Alex Ferguson. Namun, lebih dari persaingan antara kedua klub asal Manchester ini, aroma rivalitas antara Pep dan Mou akan memberi warna tersendiri. Dan inilah yang akan menguntungkan perkembangan sepak bola Inggris, termasuk dari segi bisnis sebab jumlah penonton dan sponsor sangat mungkin bakal meningkat. Bagi perkembangan sepak bola ini positif sebagaimana dulu rivalitas antara Bill Gates dan Steve Jobs telah mendorong kemajuan industri komputer.

    Pep dan Mou jelas akan berusaha menciptakan tim terbaik tanpa meremehkan kemampuan manajer klub-klub lain, karena ada Claudio Ranieri yang sukses melejitkan Leicester City ke puncak Liga dan memberi kejutan pada tahun ini. Betapapun demikian, rivalitas ini lebih dari sekedar menciptakan tim terbaik, melainkan juga persaingan prestise bagi keduanya—dan terutama bagi gengsi Mou.

    Keduanya sudah 20 tahun saling mengenal, sejak Mou menjadi asisten pelatih Sir Bobby Robson di Barcelona dan ketika itu Pep menjadi salah satu pemain. Namun, ketika Barcelona menunjuk Pep yang tidak berpengalaman untuk menggantikan Frank Rijkaard, Mou yang sudah menunggu posisi pelatih lantas patah arang. Mou hengkang ke Inter Milan dan ketika di Liga Champions 2010, Inter berhasil menaklukkan Barca, Mou pun puas. Sejak itu, rivalitas kedua pelatih menapaki standar permainan yang semakin tinggi.

    Meskipun sudah saling paham gaya masing-masing dalam konteks Liga Spanyol, pecinta sepak bola niscaya menanti apakah keduanya akan memunculkan resep baru di Liga Inggris. Bila ya, rivalitas kedua pelatih dan kedua klub akan jadi lebih menarik. Publik akan antusias, sebab rivalitas ini akan sangat ketat mengingat reputasi dan tuntutan tinggi Guardiola maupun Mourinho dalam melatih klub selama ini.

    Rivalitas yang sehat jelas bagus bagi perkembangan sepak bola—hal serupa dapat terjadi di lapangan manapun (bisnis, politik, dsb). Situasi persaingan yang sehat akan mendorong para pemain di dalamnya untuk mencapai prestasi terbaik. Sangat boleh jadi, ini akan mendorong peningkatan standar sepak bola, setidaknya di Liga Inggris. Dengan jadwal pertandingan yang ketat sepanjang musim, para manajer dituntut mampu menjaga kualitas skuadnya dari laga ke laga.

    Para pecinta bola di seluruh dunia jelas menunggu apa yang akan dilakukan kedua pelatih, khususnya terkait dua isu: pemain baru dan gaya bermain baru. Rivalitas yang sehat mampu memicu datangnya inspirasi, menggelorakan antusiasme, mendatangkan energi, dan inilah yang dinanti banyak orang. Harapan banyak orang mungkin sangat tinggi mengingat Pep maupun Mou telah menorehkan banyak keberhasilan sebelumnya. Pecinta sepak bola niscaya tidak ingin disuguhi permainan yang biasa-biasa saja dari City maupun United. Jadi, kita tunggu saja pertarungan dua maestro ini—adakah sesuatu yang baru.

    (foto: Pep dan Mou ketika masih bersama di Barcelona pada 1990an, sumber: dailymail.co.uk/offside, marcamedia)***


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.