GP Kanada: Jebakan Batman di Wall of Champions - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Wawan Priyanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • GP Kanada: Jebakan Batman di Wall of Champions

    Dibaca : 2.532 kali

    Rio Haryanto di Monaco Grand Prix, Monte Carlo, Monako, 29 Mei 2016. (Foto/Manor Racing Media)

    Sirkuit Gilles Villeneuve, Montreal, Kanada, akan menjadi area balap F1 seri ketujuh musim ini. Balapan akan dilangsungkan pada Minggu siang waktu setempat, 12 Juni 2016. Sirkuit ini merupakan satu di antara sekian banyak sirkuit yang memanfaatkan jalan raya (street circuit). Hanya saja, sirkuit di Kanada yang sudah menggelar balap F1 sejak 1978 ini lebih lebar dibanding sirkuit jalan raya di Monako. Sirkuit dengan panjang 4,361 km ini memiliki 14 tikungan dan rencananya tediri dari 70 putaran (305,27 km).

    Sebagian besar berupa chicane (tikungan berbentuk huruf “S”) dan salah satu tikungan yang cukup berbahaya adalah tikungan Wall of Champions (tikungan 13-14). Tikungan ini berada di track lurus menjelang garis finish/start. Tikungan maut itu menjadi tantangan tersendiri sekaligus perlu diwaspadai bagi setiap pembalap, termasuk Rio Haryanto, pembalap Indonesia yang tergabung dalam tim Manor Racing.

    Kepada penulis, Rio sempat bercerita tentang sejumlah persiapan sebelum balapan GP Kanada. Salah satu di antaranya adalah mengenal karakter sirkuit melalui simulator. “Saya belajar karakter sirkuit (Gilles Villenueve) di markas Manor, Inggris, sebelum berangkat ke Kanada,” kata Rio, Rabu malam, 8 Juni 2016. “Tikungan 13-14 (Wall of Champions) memang yang perlu di waspadai. Sangat tricky karena posisinya setelah di lintasan lurus dan panjang.”

    Wall of Champions berada persis sebelum garis finish/start dan berada di zona DRS. Di titik pengereman sebelum tikungan ini terpasang speed trap untuk mengukur kecepatan maksimal yang dicapai mobil-mobil F1. Setelah menggeber mobil dengan kecapatan maksimal, mobil lalu melakukan pengereman berat, menikung ke kanan dan langsung ke kiri.

    Sialnya, saat menikung ke kiri ini ban depan sebelah kiri mobil sering melanggar kerbs yang agak tinggi. Jadilah mobil sedikit terbang dan tentu akan menyulitkan pengemudi dalam mengendalikan mobilnya. Jika ini terjadi, sekedip mata saja mobil nyelonong bablas dan menabrak tembok di sebelah kanan yang berbatasan langsung dengan track.

    Sejumlah pembalap beken semacam Michael Schumacer (Ferrari/1999), Jacques Villeneuve (BAR Honda/1999), Jenson Button (BAR Honda/2005), hingga Sebastian Vettel (RedBull/2011) pernah merasakan pahitnya mencium tembok di tikungan Wall of Champions. Nyenggol sedikit saja, ban depan atau ban belakang sebelah kanan bisa pecah. Dan itu yang sering terjadi saat balapan.

    Bukan salah si tikungan maut, rata-rata pembalap menyalahkan diri mereka sendiri. Pembalap umumnya memacu mobil sekencang mungkin, namun terlambat melakukan pengereman. Yang sering terjadi, pembalap menginjak rem terlalu keras yang menyebabkan ban belakang mengunci dan mobil kehilangan keseimbangan. “Saya mulai masuk tikungan, mobil agak melebar karena ban belakang mengunci. Saat di chicane, mobil mengalami understeer hebat dan menabrak tembok ,” kata Button ketika itu.

    Sejak 1961, Ferrari dan McLaren sama-sama memenangi balapan sebanyak 13 kali. Michael Schumacer merupakan pembalap yang paling sering memenangkan balapan di sini, yakni sebanyak tujuh kali (1994, 1997, 1998, 2000, 2002, 2003, dan 2004). Lewis Hamilton (Mercedes) menjadi pembalap aktif dengan kemenangan terbanyak 4 kali (2007, 2010, 2012, dan 2015).

    Dalam 10 tahun terakhir, tercatat tujuh pembalap yang memenangi balapan di Sirkuit Gilles Villeneuve yakni Hamilton, Daniel Ricciardo (RedBull), Sebastian Vettel (Ferrari/ketika juara masih memperkuat RedBull), Jenson Button (McLaren), Robert Kubica (BMW Sauber), Fernando Alonso (McLaren), dan Kimi Raikkonen (Ferrari/saat juara memperkuat McLaren).

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.