Perombakan Kabinet Jilid Dua

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Kondisi ekonomi tumbuh positif selama dua tahun pemerintahan Jokowi-JK, namun masih dibawah pencapaian beberapa periode sebelumnya.

Perombakan kabinet jilid dua tampaknya membawa sejumlah harapan, meski tantangan yang dihadapi kabinet juga tidak ringan. Tantangan kabinet bidang ekonomi tentu menjadi tumpuan dan harapan banyak pihak, terutama mengatasi kelesuan ekonomi. Indonesia tidak bisa terus menerus tergantung pada kondisi global yang sedang melemah dan diperlukan terobosan melalui penguatan ekonomi domestik.  

Selama dua tahun usia pemerintahan Jokowi-JK kondisi ekonomi tumbuh positif, namun masih dibawah pencapaian beberapa periode sebelumnya. Kondisi ekonomi yang dihadapi pemerintah juga sedang dalam trend melemah akibat tekanan ekonomi global. Sementara perombakan kabinet jilid pertama Agustus 2015 juga tidak cukup kuat mengangkat performa ekonomi ditengah kondisi pelemahan ekonomi global.

Pemerintah sudah mencoba mengatasi sejumlah bottleneck yang menghambat pencapaian pertumbuhan ekonomi, namun tidak cukup memadai untuk memecahkan persoalan ekonomi yang cukup berat.

Ada banyak tantangan yang dihadapi mulai dari masalah ketersediaan dan kualitas infrastruktur fisik dan nonfisik, masalah kebijakan energi dan pangan, masalah konektivitas yang diharapkan dapat mengefisienkan kelancaran arus barang hingga masalah kualitas dan penataan birokrasi. Sektor riil juga menuntut pembenahan, terutama mendorong laju pertumbuhan ekonomi guna menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.

Pemerintah sudah mematok target mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 7 persen dalam lima tahun. Target yang cukup tinggi, sementara pertumbuhan ekonomi tahun 2014 mencapai 5,02 persen. Tahun berikutnya yakni tahun 2015 pertumbuhan ekonomi yang berhasil dicapai sebesar 4,79 persen, atau terendah dalam 6 tahun terakhir. Pada triwulan pertama tahun 2016 pertumbuhan ekonomi mencapai 4,92 persen. Dalam tahun 2016, pertumbuhan ekonomi ditargetkan mencapai  5,2 persen.

Untuk mencapai target tersebut, memerlukan pertumbuhan investasi 8,8 persen disertai peningkatkan produktivitas agar selama 2016-2019 dapat mencapai pertumbuhan ekonomi 6,4 persen atau 7 persen pada akhir 2019. 

Tentu saja tidak hanya investasinya saja yang tumbuh. Melainkan efisiensi penggunaan investasi itu sendiri. Sebab, jika investasi yang masuk tidak digunakan secara efisien, maka investasi yang masuk tidak akan mengatrol pertumbuhan ekonomi.

Dalam beberapa tahun terakhir pertumbuhan investasi nampaknya tidak diikuti dengan pertumbuhan ekonomi yang sepadan. Ada indikasi inefisiensi dalam pemanfaatan modal. ICOR (Incremental Capital Output Ratio) terus mengalami peningkatkan.

Indonesia membutuhkan banyak investasi untuk mengatasi hambatan infrastruktur, merevitalisasi sektor industri dan pertanian, serta industri kreatif dan inovatif serta prioritas investasi publik lainnya.

Upaya pemerintah menggenjot proyek-proyek infrastruktur diharapkan dapat memimpin laju ekonomi secara berkelanjutan. Naiknya belanja modal untuk pembiayaan infrastruktur diharapkan memberi sentimen positif, terutama mendorong masuknya investasi swasta. Di tambah dukungan penurunan bunga kredit dan perbaikan iklim investasi. 

Namun yang tidak kalah penting adalah Indonesia seharusnya tak bertumpu pada satu sektor semata. Pemerintah perlu mendiversifikasi faktor pendorong ekonomi. Misalnya, memacu pertumbuhan sektor perikanan, pariwisata, dan manufaktur. 

Reformasi kebijakan investasi harus berjalan lebih cepat guna memperbaiki iklim investasi dan bisnis. Terutama mendorong investasi ke sektor sektor yang memiliki keunggulan daya saing dengan minim kandungan impor. Indonesia memiliki kekayaan alam dalam sektor perikanan dengan nilai yang besar, termasuk potensi pariwisata. Sementara revitalisasi industri manufaktur dan pertanian diperlukan guna menjaga kemampuan daya saing industri dan kemampuan menjaga ketahanan pangan.

Kestabilan makro ekonomi memiliki pera penting dalam upaya menurunkan angka kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan. Inflasi yang terjaga, terutama menjaga harga bahan pangan tetap stabil, akan mampu menurunkan jumlah penduduk miskin. Kapasitas laju pertumbuhan juga harus lebih tinggi dari laju inflasi sehingga kenaikan pendapatan secara riil meningkat.

Sejak Indonesia dilanda krisis, kinerja ekonomi seperti investasi dan industri manufaktur tidak beranjak naik bahkan terus merosot. Kinerja ekspor masih bertumpu pada sumberdaya alam. Konsumsi domestik justru menjadi pendorong laju pertumbuhan ekonomi.

Konsumsi domestik juga banyak ditopang oleh golongan menengah atas yang punya investasi dan tabungan. Golongan ini terus meraih keuntungan akibat rezim bunga tinggi berupa keuntungan dari pasar saham, deposito, dan surat utang. Investor domestik pun akhirnya ikut-ikutan menaruh dananya pada portofolio keuangan ketimbang berinvestasi di sektor riil. Apalagi imbal hasil investasi aset keuangan rupiah relatif tinggi dibandingkan negara lain.

Trend impor barang konsumsi juga meningkat. Kita lihat produk impor sudah banyak membanjiri pasar. Konsekwensinya, industri dalam negeri semakin terpuruk. Manfaat dari permintaan konsumen yang tinggi justru diraih pabrikan luar negeri seperti pabrikan Tiongkok, bukan industri dalam negeri.

Disinilah pentingnya membangun industri manufaktur yang kuat, terutama industri menengah dan kecil.  Termasuk memperkuat dan melindungi pasar dan industri domestik dari serbuan impor, sehingga daya saing industri dalam negeri tidak terpuruk.***

 

DR. Fahruddin Salim

Dosen Program Magister Manajemen Universitas Pancasila

Bagikan Artikel Ini
img-content
fahruddin salim

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Perombakan Kabinet Jilid Dua

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua