Jika Ingin Berprestasi, Rio Haryanto Harus Pindah Tim F1 - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Wawan Priyanto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Jika Ingin Berprestasi, Rio Haryanto Harus Pindah Tim F1

    Dibaca : 5.404 kali

    Sebuah notifikasi dari aplikasi WhatsApp tiba-tiba muncul di layar smartphone saya, Rabu sore, 10 Agustus 2016. "Bad news, Sob," begitu isi notifikasi itu dari seseorang yang saya kenal dengan baik, yakni dari Rio Haryanto. Seorang anak muda yang tahun ini mulai merintis jalan di kancah balap mobil paling populer di jagar raya, F1, bersama Manor Racing Team. 

    Tanpa berusaha untuk bertanya, saya sudah paham arti pesan WhatsApp itu. Rio tidak lagi sebagai pembalap utama Manor Racing. Posisinya digantikan Esteban Ocon, pembalap binaan tim Mercedes yang tahun ini dipinjamkan sebagai pembalap cadangan tim Renault. Sayang sekali, kiprah Rio terhenti di tengah jalan. Kekurangan dana sponsor menjadi alasan utama Manor tak lagi memakainya sebagai pembalap utama.

    Sebenarnya, tidak ada yang mengagetkan dari pesan singkat Rio ke saya tentang bad news tadi. Sejak balapan seri ke-11 di Hungaria, Rio sudah menjadi buruan wajib bagi media asing peliput F1. Pertanyaannya rata-rata sama, "Bagaimana kelanjutan Rio di F1 setelah balapan di Hungaria?" Pertanyaan ini bahkan sudah dilontarkan beberapa media internasional jauh sebelum seri ke-11 berlangsung.  

    Manajer Rio, Piers Hunissett, secara diplomatis menjawab bahwa tim management Rio akan terus berusaha mencari sponsor. Rio sendiri optimistis balapan di Sirkuit Hungaroring bukanlah akhir perjalanan dirinya bersama Manor. "Jika Anda melihat saya balapan di Hockenheimring minggu depan, maka Anda akan melihat saya di seluruh musim," kata Rio ketika itu.

    Benar. Di Hockenheimring, Rio masih balapan dengan Manor. Setelah Hockenheimring, Rio dan management kembali menyampaikan akan berusaha keras dalam mencari sponsor tambahan. Hingga pada akhirnya bad news itu datang, Rabu pekan lalu. 

    Sisi positifnya, karir Rio di F1 belum berakhir. Dia masih tercatat sebagai pembalapan cadangan yang setiap saat siap balapan jika salah satu dari pembalap utama berhalangan. Selain itu, Rio memutuskan tetap di Manor karena bagus untuk pembelajaran. Ia dapat berinteraksi langsung dengan tim engineer untuk pengembangan mobil. "Bertahan di Manor, tim paling murah di F1, tentu menjadi ajang pembelajaran yang berharga meski sulit untuk bisa langsung berprestasi," ujar Rio.

    Kalau ditanya apakah Rio ingin kembali ke F1 sebagai pembalap utama, jawabannya iya. Rio sangat ingin kembali secepatnya balapan. "Harapan saya, kembali ke F1 dengan tim yang lebih kompetitif," Rio menambahkan.

    Tim Menentukan Prestasi

    Di balap F1, tim bagus sangat menentukan keberhasilan dalam persaingan juara. Baik itu juara pembalap maupun konstruktur. Bisa dikatakan, semua driver di F1 itu siap untuk menjadi juara, tentunya didukung oleh tim yang bagus.

    Sebagai contoh, Sebastian Vettel juara dunia empat kali (2010-2013) bersama tim RedBull Racing yang ketika itu sedang berjaya dan tampil dominan. Lalu dengan adanya pergantian regulasi di mesin secara tiba-tiba, tim Mercedes naik daun dan mendominasi.

    Musim 2014 menjadi musim yang buruk bagi Vettel. Dari 19 kali balapan, pembalap Jerman ini sama sekali tak pernah mengangkat tropi juara. Kontras sekali dengan pencapaian Vettel di musim 2013 yang berhasil meraih 13 kali kemenangan, 9 kali pole, 7 kali fastest lap, dan 16 kali podium dari 19 balapan. Di musim 2014, dari 19 kali balapan hanya 2 kali fastest lap dan 4 kali podium. Posisi di klasmen hanya di urutan kelima.

    Frustasi, Vettel lalu pindah ke Ferrari di musim 2015. Hasilnya sama saja, tak mampu membawa Ferrari menggeser dominasi Mercedes. Fernando Alonso, juara dunia 2004 dan 2005 yang penuh pengalaman juga mengalami hal yang sama. Berlomba di tim McLaren Honda, Alonso sering tercecer di urutan belakang.

    Contoh yang paling gress tentunya adalah Max Verstappen. Pembalap RedBull ini termasuk yang minim prestasi saat masih di Toro Rosso. Hingga pada akhirnya, anak dari legenda F1 Belanda, Jos Verstappen, ini ditunjuk menggantikan pembalap utama RedBull Daniil Kvyat di GP Barcelona. Hasilnya, dahsyat! Max langsung menjadi juara pertama. Sekali lagi, tim bagus akan mengantarkan pembalapnya berprestasi. 

    Di dunia F1, tim-tim juara selalu berlomba adu teknologi untuk menjadi yang terbaik. Ingat, tim terbaik akan mengantarkan pembalapnya sebagai juara. Maka tim-tim besar memiliki unlimited cost untuk pengembangan mobil.

    Tim-tim kecil seperti Manor berusaha keras untuk mengimbangi pengembangan mobil meski dengan budget terbatas. Tujuannya satu, supaya bisa masuk 107 persen time dan bisa mengikuti balapan. Maksudnya, jika ada tim yang kecepatan waktu tempuh per lap lebih lambat 7 persen dari waktu tercepat, tim tersebut tidak diperbolehkan mengikuti balapan F1.

    Maka itu, tim-tim F1 memerlukan dana besar untuk pengembangan mobil dan menjadikan olahraga ini sangat luar biasa mahal. Biaya pengembangan yang dikeluarkan Manor tahun bisa dikatakan sangat besar. Mereka mendevelop mobil dari nol, chassis baru, gearbox baru, dan mesin baru. Tapi, dana pengembangannya terbatas, tak seperti Mercedes maupun Ferrari yang mungkin bisa dikatakan unlimited cost. Dana pengembangan di tim-tim kecil ini umumnya dibawa oleh pembalap atau dikenal dengan istilah pay driver.

    Nah, istilah pay driver ini sebenarnya menarik untuk dikupas. Karena, semua pembalap di F1 itu bisa dibilang sebagai pay driver. Perbedaanya, ada pembalap yang membawa sponsor kerja sama dengan tim, dan ada sponsor yang langsung kerja sama dengan tim. Rio termasuk pembalap yang membawa sponsor ke tim. 

    Keterangan Foto: Rio Haryanto/Manor Racing Media


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.