Bisnis Berkelanjutan Asia Pulp & Paper Diapresiasi PBB

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Asia Pulp & Paper (APP) menjadi satu-satunya perusahaan asal Indonesia dari 17 daftar perusahaan yang memenuhi ekspektasi pembangunan berkelanjutan PBB.

Forum Sektor Swasta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nations Private Sector Forum telah mengumumkan kajiannya terhadap 17 perusahaan yang dianggap memenuhi kriteria pembangunan berkelanjutan. Suatu kegiatan bisnis yang dinilai berkelanjutan adalah yang tidak semata-mata hanya mengincar keuntungan bisnis, tetapi juga harus memperhatikan konservasi lingkungan.

Sektor swasta yang mampu memenuhi target implementasi pembangunan berkelanjutan tersebut, mendapatkan apresiasi dari PBB yang disampaikan pada kesempatan Climate Week 2016, 19-25 September.

Dalam proses kajiannya, PBB menggandeng DNV GL (Det Norske Veritas dan Germanischer Lloyd)--lembaga sertifikasi internasional dan konsultan di sektor minyak dan gas (migas).

Fokus PBB tentang pembangunan berkelanjutan ini berangkat dari kerangka kerja “Transforming our world: the 2030 Agenda for Sustainable Development”, yang memiliki 17 Sustainable Development Goals (SDGs) dan 169 target. Upaya global ini melibatkan 193 negara di dunia dan juga lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Asia Pulp & Paper (APP) menjadi satu-satunya perusahaan asal Indonesia dari 17 daftar perusahaan yang memenuhi ekspektasi PBB. Laporan DNV GL tentang studi kasusnya terhadap APP telah dipublikasikan pada 19 September 2016, dengan judul “Life on Land”.

Sementara 16 perusahaan multi-nasional lainnya: [2]Tata (India), [3]Danone (Perancis), [4]HiTechnologies (Belanda), [5]ARM (Inggris), [6]Symantec (California, Amerika Serikat), [7]Grundfos (Denmark), [8]SolarWorld (Jerman), [9]NYK (Jepang), [10]Hydro (Norwegia), [11]Safaricom (Kenya), [12]Siemens (Jerman), [13]Marks & Spencer (Inggris), [14]Iberdrola (Spanyol), [15]Cermaq (Norwegia), [16]Calvert Investments (Amerika Serikat), [17]Unilever (Inggris).

Sejak Februari 2013, APP mengimplementasikan Kebijakan Konservasi Hutan atau Forest Conservation Policy (FCP). Dengan mengimplementasikan FCP, berarti perusahaan diwajibkan tidak menggunakan hutan alam sebagai bahan baku produksi kertas dan tisu, melainkan hanya yang berasal dari hutan tanaman industri (HTI).

Itikad baik tersebut dikuatkan oleh pernyataan Direktur Pelaksana Program Keberlanjutan APP, Aida Greenbury. Ia mengatakan APP akan terus melakukan berbagai cara untuk melaksanakan instruksi Presiden Joko Widodo agar tidak ada lagi pembangunan di atas lahan gambut yang merugikan lingkungan.

Apa yang telah dilakukan APP adalah memenuhi SDG15 dari ke-17 indikator SDGs yang ditetapkan. SDG15 berkaitan dengan pengelolaan berkelanjutan dari ekosistem darat, secara lebih spesifik menyasar pada konservasi lingkungan yang tinggi keanekaragaman hayatinya seperti hutan alam di Indonesia.

Dengan masuknya APP sebagai salah satu perusahaan yang mewakili Indonesia, diharapkan akan lebih banyak perusahaan lainnya di Tanah Air yang mengimplementasikan pembangunan berkelanjutan, sebagai wujud upaya menjaga pelestarian lingkungan.

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Erin Noviara

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua