Tanpa Langkah Pertama, Gagasan Besar tak akan Terwujud - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Tanpa Langkah Pertama, Gagasan Besar tak akan Terwujud

    Dibaca : 2.669 kali

     

    Saat menyaksikan pertunjukan piano, banyak orang terkagum-kagum dan memberi tepuk tangan panjang: “Hebat ya, penampilannya luar biasa.” Sebagian penonton muda termotivasi untuk bisa bermain sehebat pemusik itu, tapi ingin dengan cara yang instan. Para penonton ini tidak menyadari bahwa penampilan luar biasa yang berlangsung hanya 10 menit itu adalah hasil berlatih keras selama berbulan-bulan.

    Banyak orang ingin mahir bermain piano—sebagian di antaranya bahkan ingin mahir dalam tempo singkat. Sebagian orang lagi menginginkannya sejak bersekolah di SD, tapi hingga lulus perguruan tinggi, tetap saja mereka tidak bisa. Terbukti bahwa niat saja tidak cukup. Setelah niat, orang harus segera melangkah. Dan perjalanan jauh sekalipun, dimulai dari satu langkah pertama. Diperlukan langkah-langkah kecil berikutnya, seperti latihan secara teratur setiap hari, tampil di depan khalayak terbatas, hingga belajar teknik-teknik bermain tertentu.

    Perjalanan jauh barangkali dapat diibaratkan upaya mewujudkan gagasan besar: menjadi pemain piano yang hebat, pengusaha sukses yang memperkerjakan puluhan ribu orang, atau menjadi ilmuwan yang menemukan teori baru. Namun, sepanjang belum melangkah, maka gagasan besar itu baru sebatas gagasan. Baru sebatas niat. Sebelum ada langkah yang diayunkan, gagasan belum bergerak menuju kenyataan atau realitas. Bagaimana mengubah gagasan besar menjadi realitas inilah yang tidak mudah.

    Langkah-langkah kecillah yang mengawali perwujudan gagasan besar. Michael Dell memulai bisnisnya yang kini mengguritas dengan  menjual komputer rakitan sendiri dan dikirim langsung kepada konsumen. Dalam bukunya, Think Big Act Small, Jason Jennings mengisahkan bagaimana keberhasilan dalam bisnis dimulai dari gagasan-gagasan besar yang otentik, murni untuk memecahkan masalah pelanggan, menjadikan sesuatu (produk, proses, jasa, prosedur) lebih baik lagi, atau menciptakan nilai bagi pelanggan dan perusahaan.

    Gagasan besar tidak ubahnya grand design yang menjadi cita-cita, dan cita-cita ini hanya dapat terwujud melalui tindakan yang bertahap. Mereka yang berpikir besar dan bertindak kecil, menurut Jennings, berarti telah berbuat benar. Jennings mencontohkan para pelaku bisnis di bidang makanan, alat kesehatan, kebutuhan hewan, hingga suku cadang otomotif. Mereka semua dihubungkan oleh garis merah yang sama yang membuahkan keberhasilan, yakni berpikir besar, bertindak kecil.

    Orang-orang yang berpikir besar dan bertindak kecil cenderung bersikap tidak boros dan memikirkan betul kesinambungan finansial jangka panjang. Bagi mereka, keberhasilan jangka panjang hanya dapat diraih dari keberhasilan jangka pendek. Mereka tidak ingin mendadak jadi besar atau bisnisnya mengalami hypergrowth yang cenderung sukar dikendalikan.

    Mereka percaya, sukses besar dirajut dari keberhasilan-keberhasilan kecil. Langkah demi langkah. Lantaran keyakinan inilah, mereka senantiasa bersikap rendah hati. Walaupun sukses, mereka tidak angkuh dan bersedia berbagi. Mereka bekerja semakin dekat dengan pelanggan maupun pemasok.

    Individu-individu yang sukses pun begitu. Mereka punya angan-angan hebat, gagasan besar, dan berusaha mewujudkannya dengan tekun. Secara individual, mereka berusaha menciptakan nilai, manfaat, maupun kegunaan bagi banyak orang. Dalam konteks bisnis, pelaku bisnis ini berusaha melakukan hal yang sama demi para pelanggan, pemasok, pemegang saham, maupun masyarakat luas. (Sumber ilustrasi: newburytherapy.com) **


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.