Dunia Orang Sawu

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Budaya Orang Sawu

Judul: Dunia Orang Sawu

Penulis: Nico L. Kana

Tahun Terbit: 1983

Penerbit: Penerbit Sinar Harapan

Tebal: 150 halaman

 

Setiap kebudayaan memiliki keunikannya sendiri. Demikian pula dengan Orang Sawu di Nusa Tenggara Timur. Sebagai komunitas yang tinggal di sebuah pulau, orang Sawu membangun budaya, kepercayaan dan cara hidupnya sendiri. Orang Sawu memiliki konsep tentang kehidupan, kematian, aturan sosial, asal muasal manusia dan asal muasal alam semesta. Nico L. Kana menyajikan budaya orang Sawu dalam buku ini.

Orang Sawu sangat erat berhubungan dengan perahu. Pulaunya dianggap sebagai sebuah perahu. Anjungan berada di barat dan buritan ada di timur. Demikian pula saat membuat perkampungan dan rumah. Mereka membuat kampung berjajar dari barat ke timur mengikuti arah perahu. Letak lelaki dan perempuan di dalam rumah ditentukan berdasarkan peran dalam perahu. Lelaki berada di depan untuk menentukan arah, sementara perempuan berada di belakang sebagai juru mudi. Bentuk rumahpun digambarkan sebagai perahu. Rusuk-rusuk sumah dinamai sama dengan rusuk-rusuk perahu. Apakah perahu yang begitu dominan dalam budaya Orang Sawu berhubungan dengan migrasi mereka di masa lalu? Sayang Niko L. Kana tidak menyinggung masalah ini di bukunya.

Hal kedua yang menarik dari budaya orang Sawu adalah semua benda dan lain-lain memiliki jenis kelamin. Matahari, siang, terang, kemarau, langit, anjungan, menyadap nira adalah laki-laki. Sedangkan bulan, malam, gelap, musim hujan, bumi,buritan, bercocok tanam adalah perempuan.

Meski orang Sawu menganut paham patrilineal, namun peran perempuan sangat menonjol. Perempuan mempunyai hak yang sama dalam komunitas. Bahkan perempuan yang sudah siap menikah boleh memilih pasangan untuk memiliki anak tanpa pernikahan. Orangtua yang memiliki anak perempuan yang sudah siap menikah akan membangun pondok yang agak jauh dari rumah. Dengan demikian si anak perempuan bisa berhubungan dengan lelaki yang disukainya. Anak yang lahir dari hubungan di luar nikah diakui secara sah dalam klan ibunya.

Niko L. Kana membeberkan berbagai upacara dalam siklus hidup orang Sawu. Orang Sawu memiliki upacara sejak dari kehamilan, kelahiran, sunat, papak gigi, permandian, menikah, dan meninggal. Upacara-upacara lain berhubungan dengan mata pencaharian. Pada musim kemarau ada berbagai upacara menyadap nira, sedangkan saat musim hujan ada berbagai upacara bercocok tanam.

Pertanyaan saya tentang hubungan orang Sawu dengan laut masih tak terpuaskan. Seperti di atas sudah saya ungkapkan, bahwa orang Sawu begitu lekat dengan laut –sehingga pulau, kampung dan bentuk rumah dianggap sebagai personifikasi dari perahu, tetapi mereka juga memandang laut sebagai sumber hal-hal buruk. Penyakit dan malapetaka dianggap berasal dari laut. Meski mereka juga mendapat rejeki dari laut, yaitu menjadi nelayan dekat, tetapi hubungan orang Sawu dengan laut perlu digali lebih lanjut. Apakah ada bencana besar dari laut yang membuat pandangan orang Sawu tentang laut begitu kelam?

Bagikan Artikel Ini
img-content
Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua