Sekuat Apa Dirimu? - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Aulya sofiya

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 28 Januari 2020

Rabu, 5 Februari 2020 13:55 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Sekuat Apa Dirimu?

    Dibaca : 338 kali

    Wanita adalah makhluk penuh rasa sayang. Cinta dan kasih sayangnya yang seluas Samudra merupakan anugerah terindah dari Sang Ilahi. Kelembutan yang dimilikinya menjadikan sosoknya sangat dinanti. Dari dulu hingga sekarang, topik tentangnya selalu menjadi pilihan yang tak terlewatkan.

                Dialah makhluk yang paling pandai bersandiwara. Selalu berusaha untuk terlihat kuat meskipun sebenarnya jiwanya rapuh. Dia rela berkorban untuk menyelamatkan orang yang dicintainya walaupun hal tersebut membahayakannya. Terlepas dari semua ini, seorang wanita sangat dituntut untuk menjadi pribadi yang tegar dan tangguh. Karena, dia adalah pemegang tonggak peradaban umat. Darinya dan di tangannya pula generasi baru umat terlahir dan terdidik. Maka, jika keadaan wanita di suatu kaum telah hilang budinya dan rusak moralnya, tidak akan pernah maju umat tersebut.

                Di zaman yang sangat modern ini, banyak dari kaum wanita yang belum mengetahui tugas dan perannya. Mereka masih terus menyibukkan diri dengan hal – hal yang tidak bermanfaat. Lebih parahnya lagi, mereka sering terbawa arus perkembangan zaman yang salah, yang pada akhirnya mereka berubah menjadi sosok yang sering mengkerdilkan diri sendiri dan pesimistis. Jika seorang wanita  sudah sampai di tahap ini, maka dirinya kan cenderung menjadi rapuh, cengeng, dan mudah mengeluh. Untuk menghindari hal – hal tersebut terjadi pada diri kita yaitu kaum wanita, maka kita dapat menerapkan beberapa tips menarik, antara lain :

                Pertama, kenali potensi diri. Kita sebagai makhluk Allah yang paling mulia telah diciptakan dengan penciptaan yang sempurna”. Seperti yang dijelaskan Allah dalam firman – Nya yang artinya : “Sungguh telah Aku ciptakan manusia dengan penciptaan yang sempurna tanpa suatu kekurangan”. QS. At – Tiin : 4. Tidak hanya itu, Allah juga menganugerahi kita kelebihan – kelebihan luar biasa yang sangat banyak ragamnya. Ibarat kelebihan atau potensi diri adalah sebuah emas, maka potensi diri butuh digali dan diasah agar dapat berkembang dengan semestinya.

    Namun pada faktanya, banyak dari kita yaitu kaum wanita yang belum mengetahui potensi diri. Akibatnya, ia akan sering merasa minder jika berhadapan dengan orang lain yang memiliki kemampuan lebih darinya.Untuk itu, penanaman dalam setiap sanubari setiap diri bahwa kita punya potensi sangatlah urgent. Karena itu adalah sebuah langkah awal untuk memajukan diri.

    Kedua, up grade diri. Dalam rangka meningkatkan kualitas diri, kita tidak hanya akan ber – orientasi pada satu titik fokus saja, akan tetapi kita akan berfokus pada empat point. Point pertama, kita harus meningkatkan kualitas otak kita, yang artinya kita harus selalu memperbaharui pengetahuan kita, baik itu dengan membaca, menghafal, belajar, ataupun hal – hal lain yang sesuai dengan minat namun masih tepat tujuan. Dalam agama Islam telah dijelaskan cara meningkatkan kualitas otak, yaitu dengan membaca. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al – Alaq yang artinya : “Bacalah!, dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”.

    Sudah selayaknya, sebagai seorang wanita kita dituntut untuk terus memperluas pengetahuan kita, karena di masa mendatang kita akan menjadi seorang pendidik bagi anak – anak kita. Semakin banyak buku yang dibaca dan dihafal, niscaya semakin banyak pula ilmu yang akan kita dapat. Dan ketika kita telah berilmu, maka kita akan melangkah dengan langkah yang pasti tanpa ada keraguan sedikitpun.

    Point kedua yaitu, peningkatan kualitas iman. Bagi seorang mukmin dan mukminah keimanan merupakan nikmat yang paling besar yang harus disyukuri. Sebagai bentuk kesyukuran, maka kita harus meningkatkan kualitas keimanan kita. Meningkatkan kualitas keimanan bukan perkara yang mudah, butuh sebuah ke – istiqamahan dan tekad yang kuat. Oleh karena itu, keimanan harus selalu diiringi dengan  sikap ihsan. Aplikasi perilaku ihsan dalam memberikan konsekuensi untuk terus menjaga diri dari perbuatan yang dilarang oleh Allah dan terus berupaya melakukan hal – hal yang mendekatkannya dengan Allah.

    Point ketiga yaitu peningkatan kualitas keahlian. Untuk dapat meningkatkan kualitas keahlian kita, maka kita harus mengetahui potensi diri. Setelah mengetahui potensi diri, maka kita dapat meng – explore kemampuan kita dengan baik. Setelah itu, kita harus membuka wawasan kita tentang hal – hal yang dapat mdalaemberikan pengaruh positif bagi keahlian kita, agar dapat lebih berkembang. Misalnya, seorang wanita bernama Anita pandai membuat kue. Kepandaiannya dalam membuat kue telah mendorongnya untuk mulai berbisnis kue. Tidak tanggung – tanggung, tiap harinya dia mendapatkan omset yang menguntungkannya. Untuk itu, Anita pun selalu berupaya mengembangkan kemampuannya dalam dunia memasak, misalnya dengan membuat variant rasa terbaru. Hal ini ia lakukan semata – mata untuk terus dapat eksis dalam bisnisnya dan bentuk penyaluran hobinya.

    Point keempat yaitu, peningkatan cara dan kualitas berpenampilan. Bagi seorang muslimah penampilan merupakan hal yang sangat diperhatikan. Tata cara berpakaianpun telah dijelaskan dalam Al – Quran secara rinci. Islam telah menempatkan wanita pada sebuah kedudukan yang penuh dengan kehormatan. Oleh karena itu, Syariat Islam telah membuat batasan – batasan bagi wanita dalam berpenampilan ketika hendak keluar dari rumahnya, diantaranya : mewajibkan seorang wanita untuk melebarkan jilbabnya, tidak memakai wewangian, tidak memakai baju yang menarik perhatian orang di sekitarnya terutama lawan jenis, tidak transparan, tidak menggunakan make up yang berlebihan, dan lain sebagainya. Akan tetapi wanita dapat menggunakan pakaian, dan make up ini ketika berada dalam rumahnya.

    Islam memberikan batasan ini bukan untuk mempersulit ruang gerak wanita, namun Islam berusaha menjaga wanita dari berbagai macam fitnah dan tindak kejahatan yang akan mengancam kehormatan serta harga dirinya. Untuk itu, standar berpakaian wanita adalah yang sesuai dengan Syariat – Nya, bukan yang sesuai dengan model ataupun tren.

    Ketiga, bergaul dengan wanita yang salihah dan tangguh. Seperti yang kita ketahui, lingkungan itu berpengaruh. Saat kita telah terbiasa hidup dalam sebuah lingkungan yang bersih, maka secara tidak langsung kepribadian kita telah dibentuk menjadi pribadi yang bersih. Begitu pun dengan teman.

    Seorang wanita yang salihah dan tangguh terlahir dari sebuah lingkungan yang baik yang memberikannya sebuah inspirasi untuk menjadi sosok yang luar biasa. Dengan mempergaulinya, niscaya kita akan tertular sifat – sifat positif yang ia miliki. Dan ketika sifat – sifat tersebut telah tumbuh pada diri kita, maka kita dapat merasakan manfaatnya. Misalnya, bagi seorang teman, ia cenderung malu apabila belum melakukan suatu  hal, yang hal tersebut telah dilakukan temannya.

    Sebagai seorang wanita,kita harus berusaha dengan keras untuk menjadi pribadi yang tangguh. Tuntutan ini adalah sebuah bukti nyata bahwa kita para wanita memiliki peran yang sangat besar untuk memajukan peradaban umat. Di hadapannya segala yang tidak mungkin menjadi mungkin. Hatam segala rintangan yang menghadang. Hadapi segala masalah dengan penuh keberanian. Dalam kutipan sebuah lirik lagu yang berbunyi, “…What doesn’t kill you make you stronger and make you fighter….”

                Dan teruslah bersemangat dalam menggapai ridha – Nya. Jika ridha – Nya telah kau raih maka surga yang penuh dengan kenikmatan telah menunggumu. Selalu ingatkan dirimu, bahwa letih yang kini kau rasakan akan digantikan dengan lipatan pahala yang tidak terhitung banyaknya.

     

     

     

    Sekian

     

     

             Referensi :

    Andonesi, dkk. (2017)  Jangan Jadi Cewek Cengeng. Indiva Kreasi


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: iin anggryani

    2 hari lalu

    Kerakusan Manusia untuk Kekuasaan

    Dibaca : 450 kali

    Salam.. Manusia adalah salah satu makhluk yang di ciptakan Allah yang diberi kesempurnaan berupa kelengkapan akal dan nafsu sehingga beda dengan makhluk lainnya. Bumi adalah tempat hidupnya manusia. Manusia adalah makhluk yang paling unik juga na’if. Manusia pada dasarnya adalah makhluk bersosial, bermasyarakat dan berkelompok. Manusia diciptakan dengan dua jenis yaitu laki-laki dan perempuan. Sedangkan kekuasaan adalah kewenangan yang didapatkan atau di berikan kepada salah satu manusia atau kelompok yang dianggap mampu mengemban tugas tersebut. Manusia berlaku sebagai subjek sekaligus objek dalam kekuasaan atau jabatan. Manusia era sekarang ini berlomba-lomba untuk menduduki wewenang kekuasaan, segala cara mereka lakukan agar bisa mendapatkan posisi itu. Yah karena menurut mereka dengan mampu menduduki wilayah kekuasaan itu merupakan sebuah keistimewaan, kebnaggaan bagi mereka. Mereka tidak tahu berani naik dan berada di posisi itu adalah sebuah tanggungjawab besar yang kelak mereka harus memenuhinya, yang banyak manusia lain bertumpu dan beradu nasib padanya. Tapi kita lihat saja koledornya sekarang ini, banyak manusia yang berada di jabatan sebagai pemimpin daerah, desa bahkan Negara yang lupa akan tugas utamanya, menaungi masyarakat sehingga dengan itu banyak sekali kita lihat sekarang ini pemimpin banyak yang dzolim. Banyak sekarang ini terjadi perang saudara, saling bacok membacok, anak membunuh ayah, kakak membuh adek itu tidak lain motifnya karena berebutan kekuasaan. Memang tidak heran lagi banyak orang bilang dari dulu sampai sekarang kekuasaan dan kedudukan selalu saja menjadi objek yang menarik manusia untuk merebutnya. Banyak sekali kita lihat manusia yang menjadi gila karena haus akan kekuasaan, sehingga apapun cara rela dilakukan demi meraihnya. Kekuasaan memang membuat kita lupa diri dan membutakan hati nurani kita. Kekuasaan terlihat seperti madu dari jauh oleh mata manusia yang haus akannya, yang seketika akan berubah jadi racun apabila kita mendekati dan ada didalamnya. Karena ketika kita berada dalam kekuasaan jelas sekali agama dan ajaran moral, etika akan disingkirkan. Harus kejam itulah senjatanya. Ketika berada dalam kekuasaan, orang yang benar dan luruspun bisa menjadi tersesat, apalagi yang sebelumnya tidak benar. Orang bijak pernah mengatakan “bila ingin hidup dalam kebenaran, maka hindarilah untuk masuk dalam kekuasaan”. Orang-orang yang sudah terpedaya dan sangat haus akan kekuasaan akan rela melakukan apa saja dan mengejarnya bahkan sampai ke ujung dunia sekalipun bahkan rela mengorbankan segala hal. Machiavelli mengatakan pada dasarnya, selalu ada manusia didunia ini yang memiliki ambisi besar untuk berkuasa, dan merealisasikan ambisinya itu dengan berbagai cara. Manusia harusnya dengan kekuasaan itu harus memberikan manfaat dan pelayanan yang baik bagi rakyatnya. Kekuasaan biasanya tergantung dari manusia mana yang memegangnya, kalau orang baik yang memegangnya maka kekuasaan akan digunakan untuk melayani masyarakat sehingga terciptanya kemakmuran, kedamaian, dan keteraturan. Dan sebaliknya kalau orang salah, gila jabatan dan haus akan kekuasaan maka tidak heran lahir semua kehancuran, banyak permusuhan, saling benci dan lain sebagainya. Manusia ketika mendapati sebuah kekuasaan banyak berubahnya, menganggap dirinya yang paling tinggi dari manusia lainnya dan seenaknya memperlalukan yang lainnya. Manggekompo, 18 Januari 2020 I’in Khairudin