Cemburu yang Aneh

Jumat, 22 September 2023 06:44 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Di dunia ini tak ada yang mustahil.

Di Pasar Senggol, Erika Mayasari melihat mesin ketik di lapak majalah bekas langganannya. Ia tertarik lalu menawarnya. Bersoraklah hati gadis itu ketika pulang menenteng mesin ketik. 

Malam ketika rumah sudah hening, Erika menggunakan mesin ketik itu. Sebelumnya, ia telah menyimpan laptopnya ke laci meja di kamarnya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Pintu kamar Erika terbuka. Mama muncul dengan mata menggantung.

“Bisa kecilkan suara mesin ketikmu?”

Erika melipat selimut. Meletakkannya di meja sebagai alas mesin ketik, untuk meredam suara berisik. Cara yang pernah ia lakukan, dahulu, ketika mesin ketik masih berjaya sebagai alat menulis. 

Seminggu sudah Erika menulis menggunakan mesin ketik dan telah menghasilkan duabelas cerpen. Ia harus menyalin semua cerpennya ke laptop. Ia menyimpan mesin ketik di rak paling bawah lemari pakaiannya. Lantas, ia mengeluarkan laptop dari laci meja.

Ups, mengapa tak mau menyala? Berkali-kali Erika menekan tombol power, tetapi gagal. Erika menelepon Om Fandi yang dosen komputer. 

Rumah Om Fandi di sebelah timur rumah Erika, terpisah kebun pisang. Tak sampai sepuluh menit, Om Fandi sudah berada di kamar Erika. 

 “Sudah seminggu Rika nggak memakainya, Om,” lapor Erika.

“Aneh,” sahut Om Fandi. “Teman Om pernah menggadaikan laptopnya di pegadaian. Setahun kemudian ia menebusnya dan laptopnya masih normal. Tetapi laptopmu hanya seminggu menganggur, mengapa tak bisa menyala?”

“Apa onderdilnya bermasalah, Om?”

“Entahlah. Om perlu membongkarnya.” Om Fandi membawa laptop itu ke rumahnya. 

Lima menit kemudian Om Fandi menelepon, laptop Erika masih normal. Om Fandi hanya menekan tombol power, laptop langsung menyala. Mungkin baterainya drop.

Erika mengambil kembali laptopnya. Menekan tombol power. Lampu biru di tepi bodi laptop itu menyala. Aha! Wajah Erika semringah. Ia mulai menyalin cerpennya ke laptop. Belum ada lima menit Erika mengetik, laptop itu mati mendadak! Huh!

Erika kembali menelepon Om Fandi.

“Laptop Rika mati lagi, Om.”

“Aduh, Om sudah berangkat, mau ke Yogya. Ada seminar smart city. Dari Yogya terus ke Surabaya dan kota lainnya. Kamu pakai laptop papa kamu saja. Om perlu membongkar laptop kamu, tapi sekarang nggak mungkin, kan?”

“Ya, sudah, Om. Kapan Om Fandi pulang?”

“Sepuluh hari lagi.”
***
Di tempat parkir motor gedung Fakultas Ilmu Budaya Universitas Nusa Bangsa, Pekalongan, Erika bertemu Savitri.

“Selamat pagi, sobat. Sudahkah kamu merangkai cerpen hari ini?” sapa Erika tersenyum.

“Yap,” sahut Savitri. “Sebuah cerpen tentang sepeda cemburu pada motor. Sejak si pemilik sepeda punya motor, ia tak pernah lagi mengendarai sepeda. Sepeda itu hanya ia pakai saat hari Minggu. Tetapi sepeda itu selalu kempis ban dan rantainya lepas. Sepeda itu ngambek dengan caranya sendiri, karena si pemilik jarang memakainya lagi.”

“Mustahil! Sepeda cemburu pada motor?”

“Di dunia ini tak ada yang mustahil,” Savitri tersenyum.
***
Erika belum bisa memakai laptopnya. Kepulangan Om Fandi tertunda, karena ada agenda mendadak. Siang itu datanglah Ratri, anak teater di kampus, ke rumah Erika.
“Masuklah. Sudah lama kamu nggak main ke sini,” sapa Erika.

“Yeah,” sahut Ratri. “Kudengar kau punya mesin ketik. Kebetulan, teater kami butuh mesin ketik untuk properti pementasan. Boleh kupinjam mesin ketikmu selama seminggu?”

“Boleh. Bawa saja.”
***
Beberapa lama Erika duduk terpekur di depan meja di kamarnya. Laptopnya sudah diperiksa Om Fandi, sudah beres. Malam ini ia rindu menulis.  Ia mengeluarkan laptop dari laci meja. 

Erika menekan tombol power. Lampu biru berkedip. Laptopnya menyala! Gadis berambut sebahu itu berseru girang. Semangatnya untuk menyalin cerpen, meletup seketika.

Pada saat itu, ponsel Erika berdering. Ratri menelepon, grup teaternya akan pentas ke lima kota.

“Boleh kami pinjam mesin ketikmu untuk beberapa lama lagi?” tanya Ratri.

“Nggak masalah. Aku hibahkan untuk teatermu.”

“Sungguh?”

“Serius.”

Erika mematikan ponselnya. Memandang layar laptop dengan penuh rindu. Halaman kosong program Word telah menantinya. Ia tersenyum, meregangkan jari-jari tangan.

“Mari, kawan, kita guncang dunia.”

Jemari Erika menari-nari di keyboard laptop. Menorehkan kata, merangkai cerita. Cerita tentang laptop yang cemburu pada mesin ketik.
***SELESAI***

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sulistiyo Suparno

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Menari Bersama Bidadari

Sabtu, 21 Oktober 2023 13:57 WIB
img-content

Jangan Pacari Kakakku

Senin, 16 Oktober 2023 09:43 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua