Senja Untuk Yeyen

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

"Soal Tuhan, ibu rasa juga tahu apa konsekuensi dari kekejian." Bapak terdiam. Matahari terbenam itu perlahan sirna.

Waktu itu, senja menyiratkan guratan langit yang indah, bak lukisan Tuhan yang maha kuasa. Sebuah rumah sederhana di ujung jalan tak lagi semarak dengan canda tawa dan bahagia. Suasana sendu masih merundung di rumah itu. 

Di depan rumah, nyonya duduk termenung, mengingat-ingat kala anaknya masih bermain di pekarangan rumah. Terkadang, ia berteriak untuk diambilkan minum ataupun makan sambil bermain. Ia rindu dengan suasana sulit ketika menyuapi makanan sedang dia bermain. 

Terkadang juga dia bergumam "kemana kamu nak? Kenapa tidak lagi main di rumah?". Di depan pintu, bapak melihat nyonya bersedih. Hatinya teriris melihat selama seminggu nyonya sedih tak karuan.

Ia kemudian berinisiatif mengajak nyonya ke makam Yeyen, tak jauh dari rumahnya. "Bu, ini tasnya. Yuk, kita lihat Yeyen lagi main", ujar bapak. "Memang, Yeyen main dimana pak?", Tanya nyonya. "Di sana, bu. Tak jauh kok!"

Sebuah sepeda motor mengantar mereka untuk menyambangi makam Yeyen yang lengang, terkadang hanya suara serangga yang menemani sore itu. "Di sini, bu. Bapak sering lihat Yeyen main".

Perlahan, matahari terbenam mulai semakin menunjukkan taji dan cantiknya. Nyonya perlahan tersenyum melihat matahari terbenam itu. Lantas, bapak menyahut,"bagus ya, bu! Matahari terbenam jarang kita lihat, kan?".

Nyonya menghela nafas. "Apalah arti indah itu pak, kalau anak kita diperlakukan dengan perih seperti itu. Matahari terbenam pun kelihatan kelabu kalau hati masih menunggu. Makanan terasa getir dan minuman terasa pahit, jika sudah begitu."

"Memangnya ibu menunggu apa?" Tanya bapak. "Menghitung waktu untuk keadilan, pak. Menunggu angin keadilan itu datang, pak. Jika kekejian datang pada anak kita, kenapa mereka yang melakukannya tidak diperlakukan secara keji? Soal Tuhan, ibu rasa juga tahu apa konsekuensi dari kekejian." Bapak terdiam. Matahari terbenam itu perlahan sirna. "Peluang kita untuk membalas Yeyen bagaimana pak?".

Bagikan Artikel Ini
img-content
Oky Handoko

Seorang yang hobi menulis

0 Pengikut

img-content

Memimpikan Jakarta yang Bebas Macet

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua