Muntah pada Bayi - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi bayi baru lahir. shutterstock.com

Pevi Revina

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Muntah pada Bayi

    Dibaca : 3.494 kali

    Ketika buah hati lahir, maka tugas dari sang ibu serta ayah adalah merawatnya dengan baik serta membesarkannya. Karena buah hati merupakan amanah yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada kita. Kasih sayang seorang ibu bisa ditunjukkan tatkala memberikan ASI pada buah hatinya. Seiring dengan pertambahan usia, maka sang ibu akan memberikan makanan pendamping bagi buah hatinya. Artinya kini sang buah hati tak hanya minum ASI, tapi makanan lainnya pun bisa dikonsumsi oleh buah hati kita.

    Tumbuh kembang bayi kita salah satunya bisa dipengaruhi oleh pola makan yang diterapkan pada buah hati. Akan tetapi, meskipun pola makan yang diterapkan sudah baik tak jarang sang ibu mengeluhkan tentang sulitnya sang buah hati untuk makan. Bahkan ada juga yang sudah diberi makan, tetapi dimuntahkan kembali oleh sang bayi. Hal ini tentu membuat sang ibu khawatir serta bingung. Kebingungan orang tua akan semakin bertambah tatkala kejadian tersebut terjadi berulang ulang.

    Perlu untuk diketahui bahwa buah hati kita muntah bisa dikarenakan oleh beberapa faktor, yaitu :

    1.Virus

    2. Bakteri

    3. Gangguan pencernaan

    Sebelum orang tua mengatakan bahwa bayinya sering muntah, adakalanya harus tau terlebih dahulu bahwa bayi mungkin hanya sekedar gumoh. Gumoh adalah disaat bayi anda mengeluarkan minuman atau makanan usai menyusu atau mendapatkan makanan pendamping ASI.

    Memang untuk membedakan gumoh dan muntah memang sulit. Gumoh atau dalam bahasa medis disebut regurgitasi yang terjadi dikarenakan pergerakan balik arah isi lambung yang dikeluarkan hanya berupa cairan air liur. Sedangkan muntah merupakan keadaan dimana bayi mengeluarkan isi lambung secara ekspulsif dan umumnya lebih menyembur.

    Penyebab gumoh karena mungkin bayi mengalami kekenyangan atau waktu makan yang terlalu cepat sehingga bayi kesulitan dalam menelan. Sedangkan bila bayi sering (lebih dari 3 kali) dalam kondisi selesai makan kemudian muntah ada baiknya orang tua periksakan ke dokter untuk melihat kondisinya. Untuk menghindari penyakit tukak lambung atau granitis atau akibat keracunan makanan yang umum terjadi 1-8 jam setelah makan.

    Sedangkan untuk muntah yang dialami oleh bayi memiliki beberapa kemungkinan diagnosis yaitu bisa disebabkan karena kondisi badan yang kurang sehat, infeksi virus atau bakteri hingga penyakit yang memerlukan penanganan dini. muntah seringkali menjadi tanda bayi mengalami penyakit, misalnya muntah karena ada sumbatan dapat dibedakan dengan muntah berupa semprotan dan tidak hanya menyembur, akan tetapi memiliki warna kehijauan.

    Cara Menghentikan Muntah Pada Bayi

    Pada umumnya tidak ada cara untuk menghentikan muntahnya, akan tetapi dapat meminimalkan jumlahnya. Perut yang terlalu penuh dapat menjadi refluks sehingga bagi bayi yang baru diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI sebaiknya diberikan dalam jumlah porsi kecil saja terlebih dahulu. Setelah makan orang tua dapat membuat anak bersendawa terlebih dahulu sehingga dapat mengurangi muntah.

    Orang tua tidak perlu khawatir karena seiring bertambahnya usia, maka muntah berkurang karena kondisinya sudah dapat menerima makanan lebih banyak. Dengan demikian bagi orang tua yang seringkali mengalami kondisi anak yang muntah sehabis makan sebaiknya kenali gejala lainnya untuk menghindari masalah kesehatan yang serius pada anak, dokter dapat membantu untuk memberikan diagnosa.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.