Perjalanan Bayang

Jumat, 19 November 2021 08:22 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Perjalanan Bayang

 

            Aku sudah gila!

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

            Sebenarnya aku berada di mana sekarang? Aku sendiri bingung di mana raga dan jiwaku tengah berpijak.

            Detik pertama aku merasa sedang berada di depan kelas menerangkan aljabar, detik berikutnya aku merasa seperti tidur di ranjangku, bergelung bersama suamiku di bawah selimut yang menghangatkan tubuh kami. Pikiranku melayang lalu membawaku ke jalan raya dengan motor matic yang kukendarai.

            Dan ketika transku berakhir, ternyata aku tengah duduk di ruang kantor guru, sedang menilai kertas ujian murid-muridku.

***

            Sepeda motor yang kukendarai berjalan perlahan merembeti jalan utama kota, berusaha menjaga keseimbangannya di antara ratusan kendaraan yang memadati jalanan tersebut. Semuanya berharap bisa segera pulang dan menikmati mandi air hangat dan makanan yang masih mengepul panas.

            Begitu pun denganku. Sekolah Menengah Atas tempatku mengajar terletak dua puluh kilometer dari rumahku di pinggiran kota. Jadwal mengajarku yang selalu berakhir sore hari memaksaku harus rela dan berhati-hati melintasi jalan utama dengan seluruh buruh pabrik, sopir angkutan umum, pegawai negeri, para dokter dan perawat, serta seluruh orang yang masih berstatus bukan pengangguran. Kota ini memang kota besar yang menjadi tempat strategis ketika para jutawan real estat dan arsiteknya berbondong-bondong membangun bangunan megah mall, yang dilengkapi gym tempat orang-orang pecinta tubuh atletis suka menghabiskan waktunya, hotel bertingkat-tingkat yang berlomba menawarkan hunian sementara yang mengusung konsep ‘rumah’, mediterania, modern minimalis, atau era klasik.

            Pikiranku tanpa sadar melayang hanya sepersekian detik sebelum aku bisa menyadari bahwa di depanku ada sebuah mobil sedan yang tengah berhenti menunggu lampu hijau menyala. Aku tersentak dan dengan refleks membelokkan motorku oleng ke kanan. Terlambat menyadari bahwa jalan di lajur kanan sama padat dan kencangnya seperti lajur kiri. Motorku menabrak motor yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Belum hilang kesadaranku ketika aku merasakan tubuhku terpental dan terpelanting dari motorku yang remuk dan terdengar bunyi berdebum dan berderak yang mengerikan ketika tubuhku terbanting menabrak bak belakang sebuah truk yang membawa berkarung-karung pasir.

            Lalu aku tak bisa merasakan apapun di sekujur tubuhku selain kegelapan yang memelukku dengan dingin.

***

            Ketika aku mulai trans, dan menemukan diriku merasa tidak di tempatku yang semula, tempat yang kutuju terakhir sebelum aku mulai kembali adalah jalan raya utama yang padat kendaraan. Selalu merasa diriku sedang mengendarai motor dan berjuang hati-hati melawan hentakan maut yang selalu memburuku dan siap mengoyakku.

            Aku sedikit bingung kadang-kadang. Di mana aku berada saat ini, selalu membuatku bertanya-tanya. Suamiku sendiri sering mencemoohku ketika aku menceritakan kisahku ini padanya.

            “Kau terlalu capek belakangan ini, Sayang,” ucap suamiku lembut sambil mengelus rambut panjangku dan berjalan meninggalkanku ke kamar kami. Selalu hanya begitu saja yang diucapkannya.

Aku ingat dulu waktu kecil banyak kawan-kawanku yang menganggapku gila karena kebingungan-kebingunganku itu. Sewaktu duduk di sekolah menengah tingkat pertama, aku pernah berseru dengan ceria pada salah satu temanku, “Kita perlu mengunjungi toko boneka itu lagi. Bagaimana kalau nanti kita ke sana lagi?”

Temanku hanya melongo tak mengerti pembicaraanku. Ia bertanya, “Toko boneka apa? Aku tak pernah pergi ke toko boneka apa pun denganmu.” Aku berusaha meyakinkannya bahwa kemarin kami telah mengunjungi toko boneka di ujung jalan beberapa blok dari sekolah mereka. Teman-temanku pun hanya memandangku dengan tatapan aneh dan bisa kulihat bahwa mulai saat itu, predikat ‘aneh’ akan mulai disandangkan padaku.

            Ketika sampai di rumah siang hari setelah kejadian itu, aku mulai memasrahkan diriku dalam dekapan lelap. Lalu aku terkesiap dan langsung terduduk tegak di ranjang kecilku. Apakah aku sudah mulai bermimpi? Tapi itu bukan seperti mimpi. Itu tadi terlihat sangat nyata. Barusan aku tengah berada di toko boneka itu lagi bersama temanku yang mulai menganggapku gila. Aku tidak bermimpi. Aku merasakannya. Aku ada di sana.

Ketika kuliah dulu aku mengalami hal yang semakin buruk. Aku mulai sering berpindah tempat. Hingga terkadang aku tak sadar di mana aku sedang berada. Aku mulai menyebut keadaanku itu sebagai trans atau perpindahan. Aku sendiri bingung apakah aku memang berpindah atau itu hanya ada dalam bayanganku semata, atau mungkin itu hanya mimpi. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi itulah yang terjadi. Pernah aku mengalami depresi ketika aku menginjak tahun kedua di universitas. Perpindahanku tak terkendali. Pernah aku sedang berada di kelas, sedang sibuk mencatat penjelasan dari dosen ketika beberapa menit kemudian aku berdiri dan bersorak, “Yeee… goolll…”

Ketika akhir sorakanku tersebut, aku terlambat menyadari pandangan terperangah dari seluruh teman sekelasku dan juga dosenku. Mereka hanya menatapku sambil menganga. Ketika kusadari bahwa ini adalah petaka, memang benar. Aku duduk perlahan sambil menahan panasnya wajahku. Aku tak berani mendongak menatap seluruh isi kelasku. Tapi aku tahu mereka semua masih terpana menatapku. Aku bisa merasakan panasnya pandangan mereka yang menusuk punggungku. Ketika jam kuliah waktu itu berakhir, dosenku mengajakku ke ruang dosen.

“Apa kau tadi tengah tidur di kelasku?”

Aku berani menjawab ‘tidak’ karena aku sangat sadar bahwa memang tadi aku tidak tidur. Tapi menjelaskan ke dosen ini akan membutuhkan kebulatan tekad yang sangat besar sebelum besok seluruh kampus akan memandangi dan membicarakanku dari belakang bahwa aku gila. “Saya tidak tidur, Pak. Saya sendiri juga tidak mengerti apa yang saya alami ini. Saya mengalami trans. Dan perpindahan saya tadi hanya sekitar empat menit tepat ketika tim sepak bola kampus kita berhasil menyarangkan gol ke gawang lawan.” Aku menyebutkan universitas mana yang tengah menjadi lawan kampusku, dan ketika aku menyebutkannya, dosenku mengernyit karena pertandingan itu baru terjadi besok.

Keesokan siangnya, ketika sorak-sorak membahana meraung dari stadion membelah langit, aku tahu bahwa transku kemarin akan membuat dosenku berpikir bahwa aku dapat melihat masa depan.

***

            Semakin aku dewasa, serangan transku tersebut semakin sering menyerangku. Tak peduli tempat, tak peduli waktu. Ketika aku berkendara, ketika aku makan, ketika aku bercinta, ketika aku mengajar, ataupun  ketika aku mandi. Keadaan transku tak mengenal batas apapun. Semakin dewasa pula aku menyadari bahwa itu hanya seperti bermimpi. Rasanya mirip semacam itu, bedanya hanya ketika bermimpi kau butuh tidur. Tapi yang terjadi padaku tidak membutuhkan tidur.

            Semakin aku dewasa pula caci maki dan cemoohan semakin sering memburuku. Hingga suatu saat aku menyadari bahwa banyak teman-temanku menganggapku tidak waras karena selalu berceloteh tentang sebuah masa yang kuanggap sudah terjadi, tapi menurut mereka itu hanya rekayasaku saja untuk mencari perhatian.

            Ketika tujuan transku yang sekarang lebih sering berakhir pada kecelakaan yang kualami di jalan raya sebelum kembali ke tempatku semula, suamiku pun tak percaya. Dia selalu menatapku selayaknya ada dua tanduk merah di kepalaku. Sepertinya segala sesuatu tentang perjalanan bayangku ini, memang tak pernah ia mempercayainya.

            “Lebih baik kau memeriksakan dirimu ke psikiater, Lina. Kau mulai sering melantur dan mengigau. Kau tak tahu batas kenyataan dan bayangan-bayanganmu. Aku takut kau mulai bergantung dengan semua itu.”

            Aku hanya menatapnya tidak percaya ketika dia pun tak mempercayaiku dengan semua trans-transku. “Aku tahu bahwa kau mulai menganggapku gila. Aku akan membuktikan padamu dan pada semua orang bahwa aku tidak gila, dan perjalananku itu bukan hanya mimpi-mimpiku semata.”

***

            Aku memacu motorku semakin kencang. Hanya ingin membuktikan pada diriku sendiri dan juga orang-orang yang telah menganggapku gila, bahwa aku masih sama warasnya seperti mereka kebanyakan. Setelah aku menabrakkan tubuhku ke sesuatu yang keras atau aku menjatuhkan diriku menampar licin dan kakunya jalanan, aku akan segera terbangun dan mendapati diriku sedang menikmati geliat percintaanku. Atau mungkin aku akan terbangun dari transku dan menyadari sedang berada di meja makan, menyantap sajian makan malam bersama keluargaku.

            Aku harus mencoba itu jika aku ingin berhenti dianggap tidak waras dengan selalu meracau tentang kebingunganku berada. Aku akan membuktikannya. Dan aku bisa.

            Lampu merah jauh di depanku menyala dengan terang. Malam hari yang berkabut membuat semuanya tampak gelap dengan hanya setitik terang dari lampu lalu lintas ataupun dari lampu kendaraan. Aku tak memperlambat lajuku. Motorku menggeram ketika aku semakin keras menambah kecepatanku. Menderu menggilas kerikil dan debu di jalanan utama itu. Barisan motor, mobil, dan bus umum berjajar di batas lampu lalu lintas, seperti tampak ingin bersaing mencapai tujuan dan mendahului semua kendaraan. Aku tetap tidak memperlambat lajuku. Ini hanya trans sementaraku. Sebentar lagi aku akan bangun dan menertawakan usaha kerasku dalam perjalanan bayangku. Usaha kerasku untuk membuktikan pada semua orang bahwa aku tidak hanya berkhayal bahwa aku mengalami loncatan waktu.

Sebuah sepeda motor yang tepat berada di tengah barisan kendaraan lain di lajur kiri adalah hal terakhir yang diperhatikannya semakin bergerak mendekat –atau ia sebenarnya yang bergerak maju- dengan kecepatan tinggi. Ketika benturan itu terjadi, tubuhnya seperti tersedot ke arah pusat tabrakan itu lalu terlempar dan menghantam bagian depan sebuah mobil angkutan umum secara keras. Bunyi bedebum dan berderak yang selalu muncul dalam trans-nya sama mengerikannya seperti bunyi itu sendiri yang terdengar menyuarakan terkoyaknya kulit serta lapisan daging merahnya. Derakan itu juga menyuarakan tulang tubuhnya yang patah serasa menjadi potongan-potongan kecil. Benturan-benturan keras itu yang terakhir dirasakannya sebelum paru-parunya serasa terbakar ketika mencoba mengambil oksigen terakhirnya dari udara. Tak ada yang didapatnya, hingga membuat nafasnya mendesing menakutkan.

Ia bertanya-tanya, kenapa trans-nya ke jalan raya yang keras ini tidak juga berakhir. Ia tetap terbujur di jalanan, berkubang di kolam darah yang bersumber dari ribuan lukanya.

Mungkin aku memang hanya bermimpi melakukan perjalanan dalam bayang.

***

 

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Veyasa Kumala

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Perjalanan Bayang

Jumat, 19 November 2021 08:22 WIB
img-content

Kulacino Mengering

Jumat, 19 November 2021 07:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua