Doa yang Salah (?)

Minggu, 28 November 2021 14:56 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

“Mas, lihat nih.. followers-ku udah nambah ribuan orang hanya dalam hitungan hari,” Rania berceloteh riang. 
“Oh ya, dan itu artinya kamu makin sibuk” sahutku tak terlalu antusias. 
“Kok gitu responsnya?” Rania memprotes. 
“Terus? Aku harus gimana?” tanyaku masih terus memandang acara TV di depanku.  
“Yaaa kasih selamat kek.. Ikutan senang kek,” rajuknya. 

Aku menoleh memandang wanita yang sudah dua tahun ini menjalani biduk rumah tangga bersamaku. “Mas kan sudah sering bilang apa yang membuat Mas senang terkait duniamu dengan medsos,” aku berkata dengan nada rendah dan tempo yang kuusahakan tak terlalu cepat. 
Rania mendengus tak sabar. 
“Kalau itu yang Mas mau.. Maaf, aku tak dapat memenuhinya!” ada kekesalan dalam nada bicaranya.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kalau sudah seperti ini (dan topik pembicaraan serta kondisi seperti ini kerap kali terjadi), aku kemudian harus menguatkan hati karena bisa dipastikan dalam hitungan sepersekian detik Rania akan beranjak cepat menuju kamar dan membanting pintu di belakangnya. 

Nanar. Gusar. Dan yang terpenting—ini yang kukhawatirkan bahwa aku tak akan bisa— sabar. 
Aku hanya diam. Mencoba untuk tetap berpikir jernih. Mengapa semua ini bisa terjadi?
Tak kusangka doa dan harapan yang kami panjatkan sejak hari pertama pernikahan telah dikabulkan Tuhan. Masalahnya, doa itu terkabul dengan membawa satu ujian. “Ahh seandainya saja kami tak meminta hal itu, mungkin saat ini Rania tetap sering berada di rumah dan tak menjadi bahan gunjingan maupun visualisasi kaum Adam,” ratapku penuh sesal.
***

“Aku udah siapin makanan di meja makan ya, Mas. Mas tinggal makan saja,” ucap Rania buru-buru sambil menghitung-hitung barang bawaan yang sepertinya hendak ditentengnya ke luar rumah. 
“Iya makasih. Betewe, rapi amat sih. Emang mau ke mana? Mas libur loh hari ini. Kita makan siang bareng, yuk! Kamu juga belum makan kan? Habis itu kita jalan, yuk!” aku pura-pura tidak tahu ia mau ke mana sembari berharap ia mau membatalkan agendanya hari ini semata untuk menghabiskan waktu bersamaku. 

Rania mendelik kepadaku. Mulutnya manyun. Ia menyahut tak sepatah kata, berbalik meneruskan menghitung-hitung barang bawaan dengan raut muka sebal. 

Aku memperhatikan gerak-geriknya di balik buku yang pura-pura sedang kubaca. Melihatnya tak menggubrisku dan terus melanjutkan aktivitasnya, perasaanku terusik. Kuletakkan buku dan berjalan mendekati Rania. “Kamu mau ke mana?” kucoba merendahkan suaraku sambil menahan sebuah gejolak dalam dada yang mulai membuncah. 

Aktivitas menghitung barangnya terhenti. Rania berbalik. Pandangannya serupa anak panah saat menatapku. “Kenapa?” ia masih menatapku. “Aku kan sudah bilang sama Mas jauh-jauh hari sebelumnya!” Jawabnya sedikit menjerit. Bibirnya bergetar. Kutelengkan kepalaku.
“Tetapi Mas belum menjawab apa-apa,” sergahku. 
“Pokoknya aku tetap akan berangkat!” serunya. Ia teguh mempertahankan pendapatnya. Kudekatkan mukaku ke wajahnya. Hidung kami hanya berjarak 5 cm ketika aku berkata dalam nada yang kuusahakan tetap rendah, meski amarah dalam dada bergemuruh parah.
“Kalau Mas tak memperbolehkan?” 
“Mas!” wajahnya memerah. Matanya mulai berkaca-kaca. Bulir-bulir air mulai muncul dan turun dari matanya.

Jika Rania sudah menangis, biasanya aku tak kan tega untuk meneruskan semua ini, memilih mengalah dan mempersilakan Rania untuk melakukan hal yang ia inginkan.

Tapi kali ini tidak. Hatiku lantang meneriakkan kepentinganku sebagai suami, sebagai seorang manusia yang peduli akan manusia lainnya yang hati dan jiwanya sudah tertaut dengan hati dan jiwaku. 

Kumemilih untuk tak melihat matanya karena aku pasti tak kan tega. Sebagai gantinya, kupandangi rambut, kemudian hidung, lalu bibirnya yang berbalut olesan basah merah menggoda. Pemandangan ini memicu pikiran kelelakianku betapa bibir bulat penuh ini sangat menggairahkan.

Aku jadi cemburu, berapa banyak lelaki yang pada akhirnya akan memiliki pemikiran yang sama denganku atas sensualitas salah satu bagian tubuh istriku ini.

Tatapanku turun ke dadanya, ke perutnya, ke lekuk pinggangnya, ke baju ketat yang dikenakannya. Jiwa lelakiku semakin tergugah. 

“A..a.. Aku sudah menyiapkan semua keperluan Mas. Ma..ma.. maka izinkan aku untuk pergi se..se..sebentar,” ucapnya sambil terisak.  
“Keperluan apa? Makanan? Aku bisa memasaknya sendiri,” Rania terkejut mendengar ucapanku. Aku tahu ia telah bersusah-payah memasak makanan kesukaanku di tengah kesibukannya saat ini yang bahkan mengalahkan kesibukanku. Namun, Rania tak menyela ucapanku, ia tahu aku tak serius karena pencapaian terbesarku dalam memasak adalah memasak mi instan. 

“Hentikan kegiatanmu ini, Rania,” aku sudah tak sabar masuk ke inti pembicaraan. Rania seolah kebal mendengar ucapanku ini. Berjuta kali kata-kata ini telah masuk ke telinganya, namun ia tak pernah memedulikannya. 

Sejurus Rania menatapku, dan menurutku, terbesit setitik kebencian dari pancaran sinarnya. Lalu mulutnya terbuka kembali, “Kenapa? Mas takut kalah bersaing denganku? Mas takut aku menyaingi pendapatan Mas…”
“RANIA!” kupotong cepat ucapannya dengan nada tinggi. Mataku melotot menatapnya. Tak kusangka kata-kata Rania begitu tajam, menusuk relung hati yang selama ini kupenuhi dengan rasa sayang. 

Aku berusaha mengatur napas, dadaku terasa dijatuhi beban yang teramat berat. Yang membuatku tambah nelangsa, justru pelakunya adalah orang terdekat. 

Keheningan sesaat menyelubungi kami. Kami berdua tak berkata apa-apa. Hanya pandangan kami yang terus beradu. Bagaimanapun juga, aku perlu waktu untuk mengerem mulut ini agar tidak berkata-kata buruk serta menahan tangan ini agar tak mendaratkannya dengan kasar dan kencang ke pipi Rania. 

Setelah berhasil menguasai diri, aku lantas mengendurkan tatapanku. Kucoba meredam amarahku. Kuingatkan diri bahwa manusia di depanku ini adalah makhluk tak sempurna sepertiku yang telah ditakdirkan Tuhan untuk menyempurnakan separuh hidupku. 

Perlahan, kuarahkan tangan kosongku ke rambut Rania. Membelainya dari atas ke bawah, dan ia tersedu-sedu menatapku. “Mas hanya lebih senang kalau kamu berhenti dari aktivitas seperti itu…,” ucapku tertahan. 

Aku tahu, Rania mengetahui kelanjutannya walau aku tak menjelaskannya karena bagaimanapun juga bibir ini tak kan tega menelanjangi keburukan perangai istri sendiri. 

Hati kecilku mengatakan Rania tahu bahwa apa yang dilakukannya sesungguhnya tidak sepenuhnya baik ataupun bermanfaat, namun ia seakan sudah terjebak dengan zona yang memberinya kenyamanan dan kemapanan dari segi materi. Bahkan sumbu belitan zona kenyamanan itu sudah menjalar sampai ke renovasi rumah, tambahan kiriman bulanan ke orang tuanya di kampung, dan kendaraan mewah beroda empat yang ia gunakan untuk mendukung karier barunya. 

Pikiranku kalut. Aku memilih diam daripada berkata-kata sebab kosakata buruk dan menyakitkan telah berada di antrean terdepan dalam mulutku. 

Melihatku terdiam, Rania memanfaatkannya dengan berkata, “Aku pergi dulu, Mas.” Ia berlalu dari hadapanku sambil menyeka air matanya. 
“Rania!” panggilanku tak menghentikannya mengambil semua barang bawaannya lalu menentengnya keluar. Tak lama, suara bunyi mobil menderu, hingga kemudian sayup-sayup menjauh, dan lenyap ditelan angin, terik siang serta kebisingan jalan. 

Aku terpekur sendirian, menatap apa saja di sekelilingku dengan perasaan hampa. Kucengkeramkan kedua tangaku ke kepala, menjambak rambut, sambil berharap beban yang ada di kepalaku ikut tercerabut. 

Selama beberapa jam aku masih bergeming di tempatku. Menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi sehingga mimpi buruk—menurutku—ini dapat terjadi. 

Aaahhh, seandainya saja.. Seandainya kami tak meminta lebih dari kehidupan kami yang dulu, barangkali semua ini takkan terjadi. Jika saja mata kami tak silau oleh gemerlapnya perhiasan dunia—yang bagiku sekarang terasa begitu semu—tak kan mau aku berharap lebih.

Seakan ada mesin waktu di dekatku, terasa olehku gelombang tak kasat mata yang menyeret pikiranku ke masa sekitar setahun lalu ketika Rania berujar bahwa dia ingin memiliki kegiatan di luar pekerjaan sebagai full-time wife karena menurutnya ia masih memiliki banyak waktu. Ia kemudian membuat satu akun di sebuah media sosial. Setelahnya, ia rutin membuat konten setiap hari untuk media sosialnya itu. 

Ternyata followers akun Rania kian hari kian meroket, kebanyakan kaum Hawa yang tertarik dengan konten review alat kecantikan dan kosmetik yang dibuat oleh Rania. Dari situ kemudian Rania mendapatkan gaji bulanan dan dalam waktu yang terbilang singkat, nominal gaji bulanannya bahkan melebihi upah bulananku sebagai seorang karyawan kantoran. 

Hari berganti waktu berlalu, akun Rania mulai dilirik oleh pihak-pihak lain yang tertarik menjalin bisnis dengannya. Yang aku tahu, beberapa produk kosmetik sempat meminta jasa Rania untuk melakukan endorsement. Setelahnya, beberapa kali ia diundang untuk diwawancara oleh rumah-rumah produksi di media sosial, dan yang terakhir, banyak tawaran pemotretan yang datang ke Rania untuk memasarkan produk atau sekadar mengisi konten-konten gosip mereka.

Dari situ, renovasi rumah yang merupakan salah satu mimpi kami, akhirnya terwujud. Kiriman rutin uang bulanan ke orang tua Rania di kampung semakin lancar, bahkan nominalnya sering kali bertambah setiap bulan. Puncaknya adalah ketika mobil mewah dambaan kami berhasil terparkir dengan anggun di latar garasi rumah kami.    

Sederas pundi-pundi meluncur ke rekening Rania, sesemangat itu pula ia melakukan semua itu dengan suka cita. Tiga bulan belakangan bahkan Rania tak segan untuk melakukan pemotretan dengan balutan busana super minim yang memantik kecemburuanku sebagai seorang suami. Jujur, ada rasa ketakberterimaan ketika Rania melakukan itu semua. Sebagai seorang suami, aku sangat tidak rela jika Rania harus mempertontonkan lekuk-lekuk tubuhnya ke orang banyak walau itu cuma di dunia maya. 

Dengan bahasa yang kutata agar tetap sopan dan terdengar halus, aku kerap menasihati Rania. Betapa aku sangat cemburu terhadap pria-pria yang menyaksikan kemolekan dan keindahan tubuhnya. Seakan sudah mengantipasi situasi seperti ini, Rania selalu menjawab,
“Bukankah ini keinginan kita bersama untuk punya uang lebih yang tidak hanya cukup untuk makan sehari-hari?”
“Iya, Rania. Tapi bukan dengan cara seperti ini…,” ingin kulanjutkan dengan pertanyaan, “Lantas apa bedanya dengan wanita yang menjual tubuhnya di dunia nyata?” namun ucapan itu hanya sampai di tenggorokan saja.

“Aaaargggghhhhhhhhhh……………,” kukeluarkan penderitaan batin yang menyergap seluruh ruang dalam hatiku menjadi teriakan. Andai waktu dapat kuputar kembali, ingin kutarik semua doa dan munajat kami. Biarlah kami hidup apa adanya. Biarlah gubuk reot kami tetap berdiri kuno tanpa pernak-pernik eksterior dan interior modern di sana-sini. Biarlah kami kesana-kemari dengan motor jadul kami, yang penting kehormatan Rania tetap terjaga. 

Kuberanjak dari tempatku berada, mengerling sejenak ke masakan Rania yang justru menguapkan rasa lapar dan selera makanku. 

Aku bergegas ke kamar mandi, menyalakan shower, mengguyur api emosi dan panas dalam tubuh ini. 

Terasa agak segar dan dingin kepala ini saat kurebahkan tubuhku di kasur. Terdengar kumandang panggilan ibadah umat muslim di kala senja menjelang, seketika itu aku kemudian teringat Tuhan. 

Hati dan pikiranku fokus berharap dan berdoa kembali. Tuhan, apakah aku salah dalam memiliki pinta? Aku mohon ampuni dosa dan kesalahanku, Tuhan. Rintihku dalam hati. 

Aku percaya Engkau ada, Engkau nyata. Engkau Maha Pemurah. Engkau telah mengabulkan hajatku dan istriku untuk memiliki kekayaan lebih. Kami, lebih-lebih aku, sangat berterima kasih atas semua itu. Tetapi, sebagai seorang suami yang memiliki hati dan kepedulian terhadap istrinya, aku keberatan, Tuhan, jika pencapaian semu semua ini harus dibayar dengan kemahalan yang sungguh-sungguh nyata di hadapan-Mu. 

Aku tak ingin mencoreng nama baik keluarga ini, terlebih keluarga besar kami. Juga ku tak ingin memberi dan meninggalkan kenangan buruk kepada anak cucu kami kelak. Maka, ya Tuhan, aku mohon hentikanlah kebiasaan dan kegiatan istriku akhir-akhir ini yang berpotensi memberi keburukan seperti yang aku khawatirkan. Buatlah ia bertaubat, Tuhan. 

Semoga dengan semua upayaku sejauh ini untuk menjaga mulutku dari ucapan-ucapan kotor dan menyakitkan kepada istriku serta absennya tanganku melakukan kekerasan fisik terhadap istriku dapat menjadi salah satu pertimbangan-Mu untuk mewujudkan doa dan harapanku, Tuhan. Aku sangat berharap Engkau tidak keberatan mendapatkan permohonan dan berkenan mengabulkan doa ini…..

Entah sudah berapa lama aku berjalan melalui lorong gelap dan sepi sendirian. Aku terus menyusuri lorong itu sambil setengah berlari. Kegelapan menyelimutiku. Aku berteriak namun ku tak mendengar suaraku. Ketakutan tiba-tiba meyergapku. Dan aku terus berlari…..

Samar-samar kulihat setitik sinar di ujung sana. Kulangkahkan kaki dengan sangat cepat. Kusongsong asal cahaya itu. Napasku memburu. 

Aku melihat Riana, meringkuk ketakutan setengah telanjang di bawah temaram lampu kelap-kelip. Ia tak sendirian. Ada seorang laki-laki di sana. Aku tak bisa melihat dengan jelas wajahnya. Ia memanggul kamera dan tangannya yang lain menggenggam beberapa butir bulatan kecil berwarna putih. Ia menyodorkannya ke mulut Rania. 

Rania menggelengkan kepala sambil terisak. Aku mendorong tubuh lelaki itu sambil terus berteriak. Aku tak dapat menggapainya. Tanganku tak bisa menjangkaunya. Aku juga tak mendengar suaraku. Mereka seakan tidak melihat kehadiranku. Dalam keputusasaanku, aku terus berusaha menggapai lelaki itu, dan terus berteriak.

Seakan ada kekuatan maha dahsyat yang menyeretku, aku merasa terlempar ke tempat lain. Terdengar suara berirama yang sangat familiar di telingaku. Itu membuatku berjengit dan kubuka mataku. Aku tersengal-sengal. Keringat membanjiri tubuhku. Ini nyata, batinku.
Kuraih benda asal suara itu. 
Dari Rania.
Deg.

Tanpa pikir panjang, segera kuangkat teleponnya. 
“Ha…”
“Maaasss, tolong aku..Tolong akuuu…. Aku menyesal, Mas…. Maafkan aku. Aku janji akan menghentikan semua ini. Tolong aku, Mas… Tolooooonnggg….”
 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Sarwendah Puspita Dewi

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Doa yang Salah (?)

Minggu, 28 November 2021 14:56 WIB
img-content

Batu Bata Kebaikan

Selasa, 23 November 2021 05:50 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua