Panggil Aku Maria

Minggu, 5 Desember 2021 12:14 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Apa yang bisa kubuat, jika orang yang kusayangi membiarkan kupergi karena rasa cintanya kepadaku?

Nona Maria. Aku dikenal dengan panggilan manis ini. Sapaan nona hanya diberikan kepada kami yang masih perawan. Selain itu panggilan ini membedakan aku dengan teman-temanku yang sudah lama hidup berkeluarga. Begitulah orang-orang di kampungku, selalu melawan tuntutan ekonomi dengan cepat menikah dan berkeluarga. Bagi mereka, lebih baik cepat menikah daripada hidup sendiri dalam kemiskinan.

Hidupku berbeda dengan mereka yang sudah menikah. Aku tinggal dengan paman Hubert. Dia adalah adik kandung dari ibuku. Ayahku sudah lama pergi merantau dan tidak mau pulang lagi. Bahkan wajahnya tidak pernah kulihat. Menurut paman Hubert, ayahku pergi setelah menghamili ibu waktu mereka mencari nafkah di biara. Sejak saat itu, relasi paman Hubert dan ayahku tidak harmonis lagi, mereka seperti dipisahkan dalam dendam dan darah.

Dari cerita paman Hubert, aku paham mengapa paman Hubert tidak pernah menunjukan foto ayah. Ibuku sudah meninggal sejak aku berumur enam tahun. Karena rasa belas kasihan yang begitu luar biasa, paman Hubert mengasuhku sejak ibu meninggal. Kebetulan paman Hubert tidak mempunyai anak karena istrinya mengalami penyakit endometriosis. Penyakit yang menelan rasa putus asah dan trauma itu, membuat istri paman Hubert stres dan meninggal dunia saat aku merayakan hari ulang tahun yang kesembilan. Sekarang, aku dan paman Hubert tinggal di rumah warisan kakek.

Begitulah riwayat keluargaku, kadang aku duduk merenung sendiri sambil menulis di buku harianku. Aku memang suka menulis kisah harian, sambil terus berharap akan pertemuan keluarga yang harmonis. Jujur saja aku sangat merindukan ayah dan ibu. Walaupun mereka tidak bersamaku lagi, aku selalu mengingat mereka dalam setiap doa malam sebelum tidur.

Pernah suatu waktu aku menulis: “Tuhan, jika tak kudapati senyum mereka lagi, izinkan aku menyebut mereka dalam doa dan heningku”. Bagiku doa dan keheningan adalah senjata yang paling ampuh untuk melawan rindu dan hati yang gundah.

Setelah menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA, aku memutuskan untuk tidak lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Sebenarnya ini bukan tekad dan mimpiku. Aku terpaksa mengambil keputusan ini dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi paman Hubert. Paman Hubert hanya mendapat sedikit uang dari hasil kerja kerasnya menjual sayur hasil panen. Waktu aku duduk di kelas dua SMA, paman Hubert sering kali meminjam uang untuk membayar tunggakkan sekolah supaya aku bisa mengikuti ujian akhir.

Peraturan di sekolahku sangat ketat, para siswa tidak bisa mengikuti ujian akhir jika belum melunasi uang sekolah. Saya berpikir, hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa teman-temanku lebih banyak membantu orang tuanya di kebun, dari pada melanjutkan sekolahnya. Aku beruntung karena paman Hubert bisa membantuku hingga tamat SMA pada pertengahan Juni 2020 lalu.

Setiap hari aku membantu paman Hubert membersihkan kebun sayur di dekat rumah kami. Pekerjaanku tidak rumit, setiap jam sepuluh pagi aku hanya membersihkan rumput liar dan menabur pupuk di bedeng-bedeng sayur. Paman Hubert tidak ingin aku kelelahan karena pekerjaan yang berat. Menurutnya, aku harus tetap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi hingga selesai. Oleh karena itu, paman Hubert selalu menjaga dan memperhatikan keadaanku.

Kadang-kadang, aku merasa tidak bebas dan dikekang. Kini umurku sudah 24 tahun, tentunya aku sudah dewasa dan bisa mengatur diri sendiri. Tetapi aku tetap berpikir positif tentang paman Hubert. Segala bentuk perhatiannya menjadi tanggung jawab atas kehidupan dan masa depanku.

Minggu, 10 Juni 2021. Hari kudus untuk warga di Kampung Baru. Semua orang tidak ke ladang, termasuk pergi menggembalakan sapi dan kerbau. Warga di Kampung Baru sangat taat pada agama dan perayaan misa mingguan. Anak-anak kecil bernyanyi ria dalam Gereja berdinding tembok tua. Orang-orang tua berdandan rapi, ada yang mengenakan celana tisu lentik, ada yang mengenakan sarung adat khas daerah, ada juga yang mengenakan kemeja yang sudah disetrika malam sebelumnya. Mereka akan merias diri secakap mungkin bukan untuk memamerkan pakaian rapinya, tetapi sebagai bentuk kegembiraan untuk menerima santapan rohani di Gereja tua.

Aku dan paman Hubert turut mengambil bagian dalam kegembiraan itu. Kami mengenakan pakaian biasa yang disiapkan khusus hanya untuk perayaan misa mingguan. Paman Hubert sangat hemat dalam menggunakan uang. Bahkan sepatu kulitnya yang sudah sobek di bagian telapak tidak dihiraukannya sedikitpun. Paman Hubert sering berujar, “nona Maria, Tuhan butuh iman kita, bukan harta dan kemewahan”. Pesan ini selalu aku ingat ketika muncul niatku untuk membeli baju gaun mewah seperti dalam iklan.

Setelah merayakan misa hari Minggu, aku dan paman Hubert kembali ke rumah. Tidak lupa paman Hubert selalu membeli pisang goreng kesukaannya di Ine Bety. Aku juga suka makan pisang goreng buatan Ine Bety. Ini makanan khas daerah kami yang hampir punah dimakan zaman. Ine Bety satu-satunya orang yang masih mempertahankan makanan khas daerah kami. Maka dari itu ia memberi nama warungnya, Bhale Nua. Bhale artinya kembali, dan Nua artinya kampung, dalam bahasa Bajawa.

Belum sampai membuka pagar rumah, kami disapa lembut oleh seorang laki-laki paru baya. Mengenakan celana jeans dan kemeja batik. Dari penampilannya, aku tahu dia dari golongan orang berada dan banyak uang. Paman Hubert menoleh dengan lagak lembutnya. “Wah Joni orang kota paling ganteng“. Kamu kelihatan semakin elegan dan tampil beda, mari masuk kita minum kopi dulu”. Sambung paman Hubert dengan nada penuh akrab.

Tanpa menghiraukan mereka aku langsung bergegas ke dapur dan meracik kopi permintaan pak Joni dan paman Hubert.

Sambil menikmati kopi hangat, paman Hubert memperkenalkan pak Joni kepadaku. “Ini om Joni, dia adalah sahabat lama saya. Sudah 15 tahun kami berpisah, sejak keluarga mereka pindah ke kota”. Aku mengangguk lugu sambil melempar senyuman ramah kepada sahabat paman Hubert itu.

Tak menunggu waktu lama, pak Joni langsung menyampaikan maksud kedatangannya. “Saya ingin menawarkan pekerjaan untuk nona Maria. Kebetulan saya sudah membuka sebuah restoran makanan khas daerah di kota. Saya ingin nona Maria bekerja di sana sambil mengumpulkan uang untuk membiayai kuliahnya nanti”. Aku dan paman Hubert saling menatap dalam kebisuan. Ada kata yang hendak diucap tapi tak sampai dikatakan hati.

Aku dan paman Hubert sudah tinggal bersama dalam waktu yang lama. Paman Hubert sudah kuanggap ayah kandungku sendiri semenjak ibu meninggal dunia.

Mulut kami kaku tak mengucap sekatapun. Rasanya dunia akan berakhir, jika kami menyetujui permintaan pak Joni. Di sisi lain, paman Hubert masih bergelut dengan janjinya untuk membiayai perkuliahanku nanti. Kelemut hatiku mulai merekah lagi. Ini lebih sadis ketimbang membenci masa lalu keluargaku. Perasaan hati yang tak terucap itu, mengalir lembut pada bening air mata paman Hubert. Rasanya ingin menolak permintaan ini, tapi aku harus kuliah dan meringankan beban paman Hubert.

“Baiklah saya beri waktu dua hari terhitung dari hari ini. Hari Selasa pagi saya harus berangkat kembali ke kota, sebab masih banyak pekerjaan yang belum beres”.  Suara pak Joni dengan nada penuh ibah memecah kebiusan kami. Paman Hubert menyambung pembicaraan itu dengan mengucapkan terima kasih dan berjanji akan memberi kabar secepatnya.

Dua hari berjalan begitu cepat. Aku dan paman Hubert masih bergelut dengan sakitnya perpisahan. “Nona Maria, pergilah ke kota, saya sudah memberi jawaban kepada sahabat saya Joni”.

Hatiku makin hancur mendengar ungkapan itu. Aku diam sejenak, hati ingin protes tapi raut wajah paman Hubert mengalahkan kesedihanku. Aku tidak mungkin menolak lagi. Masa depanku harus kutanggung sendiri.

Apa yang bisa kubuat, jika orang yang kusayangi membiarkan kupergi karena rasa cintanya kepadaku? Lagi pula ini adalah satu cara paman Hubert untuk menepati janjinya. Aku harus menerima permintaan ini, meski hatiku masih berkecimpung dalam sakitnya perpisahan.

Aku teringat kata Kahlil Gibran, “ketika kau bekerja kau memenuhi sebagian dari mimpi terjauh bumi, yang dibebankan kepadamu ketika mimpi itu terlahir”. Aku harus mengejar mimpiku, yaitu melanjutkan kuliah dan meringankan beban ekonomi paman Hubert.

Pakaian dan perlengkapan sudah dikemas dan siap untuk berangkat. Tak lupa aku membawa buku harian, biar aku bisa membunuh kesepian dalam kesendirianku nanti. Aku dijemput pak Joni tepat hari Selasa pagi. Beberapa teman sekolahku dulu, menatapku dengan penuh harapan dan penuh kebanggaan. Sedangkan paman Hubert masih membasahi pipinya dengan air mata perpisahan. Aku yakin ini adalah keputusan terbaik, dan aku akan memulai hidup baru tanpa kehadiran paman Hubert.

Hati makin hancur, ketika pak Joni mulai menancap gas mobil sambil berpamitan dengan paman Hubert. Sejujurnya aku belum siap dengan kehidupan yang baru ini. Aku anak kampung yang belum tahu keramian kota, aku berharap hidupku akan baik-baik saja. Demi mimpi dan tekad yang mulia, aku memberanikan diri untuk keluar dari zona nyaman.

Untuk menghilangkan kecemasan ini, aku menutup mata membiarkan semua perasaan tenggelam dalam mimpi. Sesekali saat kubuka mata, pak Joni menatapku dari kaca depan. Aku tidak pernah berpikir buruk tentangnya. Aku yakin dia adalah sahabat paman Hubert yang jujur dan memiliki sikap yang baik. Aku kembali berkelana dalam mimpi, berharap perjalanan yang panjang ini cepat usai. Jalan demi jalan kami lalui, situasi kota mulai tampak dengan lampu di gedung-gedung pencakar langit.

Kami memasuki kompleks perumahan yang berjejer di sepanjang jalan lurus dengan taman lampu di tengahnya.  Mobil berhenti di rumah lantai dua paling ujung. Benar dugaanku, pak Joni adalah orang berada dan banyak uang. Rumah semewah ini hanya dimiliki oleh orang-orang berduit.

Pak Joni mempersilahkan aku masuk dan langsung mengantarku ke ruangan lantai dua. Ia menunjukan kamar baru. Bagiku kamar ini sangat mewah dan indah. Aku bisa melihat pemandangan kota dan menghitung jumlah bintang bila tak punya teman bicara. Malam makin larut, pak Joni berpamitan dan aku menikmati malam pertama di atas kasur empuk.

Hari berganti begitu cepat, aku belum juga pergi ke tempat kerja. Menurut pak Joni, restorannya masih direnovasi dalam waktu dua bulan. Jadi aku bisa mengisi waktu dengan membersihkan rumah dan mengangkat daun-daun kering di kolam berenang.

Sementara itu, aku belum bisa memberi kabar kepada paman Hubert. Apalagi paman Hubert tidak memiliki handphone. Jika aku rindu, aku hanya menulis di buku harian berharap doaku sampai ke hatinya yang tulus itu.

Malam ini adalah malam Minggu. Aku sudah terbiasa dengan kebisingan malam di kota. Di luar rumah aku melihat pemandangan kota yang ditutupi kabut gelap. Lampu-lampu gedung di luar sana seperti berkedip mencari ruang untuk menampakkan cahayanya.

Aku hanya berdiam diri dalam kamar, sambil menulis sebait puisi tentang hujan rintik di luar jendela. Sesekali aku menoleh ke arah pintu kamar. Kubiarkan terbuka sampai aku benar-benar mengantuk dan tertidur. Lagi pula di rumah ini hanya aku dan pak Joni. Ia lagi sibuk mengutak-atik laptopnya di ruangan tengah. Jadi aku bisa berbuat apa saja di kamarku untuk memerangi kerinduan pada kampung halaman.

Malam makin larut, aku lupa menutup pintu kamarku. Hangatnya selimut dan bantal peluk membius aku pada dunia entah di mana. Aku seperti sudah menginjak surga tempat paling nyaman.

Malam kian larut dan gelap, tempat tidurku terasa penuh ditempati banyak orang. Ini seperti mimpi buruk yang tak pernah kualami sebelumnya. Saat kubuka mata dan sedikit membuang nafas, satu tamparan melayang deras di pipiku. Rambutku dijambak, kaki dan tanganku diikat dengan tali, kemudian mulutku disumbat dengan gulungan kain basah. Aku tak bisa melihat orang-orang itu. Mereka mengeluarkan suara kasar seperti singa yang baru saja menerkam mangsanya. Aku panik dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dari suara mereka, aku kenal satu suara yang sering kudengar sejak aku tinggal di rumah ini. Itu suara pak Joni. Tak kuhiraukan suara itu lagi. Aku berontak dan menangis sekuat-kuatnya. Tapi sayang, orang kota masih sibuk dengan kebisingan malam minggu.

Dalam waktu beberapa menit aku tidak mengingat satu hal pun. Aku dimasukan dalam sebuah kamar dengan lampu warna-warni menghiasi seisi kamar itu. Aku sangat takut dan tak berdaya. Berdiri dua lelaki berbadan besar sedang terburu-buru membuka risleting celana, menatapku dengan penuh nafsu. “Wanita jalang, puaskan kami sampai pagi!” Aku berteriak minta tolong, tapi bunyi musik seperti deru ombak kencang, tak satupun yang mendengar aku. Kedua laki-laki itu melakukan aksi brutal, melahap tubuhku dan mempermainkan aku seperti anjing. Dua, tiga, empat, sampai lima menit aku menjerit dalam kesakitan sementara mereka mendesah dalam kenikmatan. Kepalaku pusing, rasa nyeri mulai terasa di sekujur tubuh. Dalam keadaan badan telanjang aku menangisi diri yang kotor dan menjijikan ini.

Malam berikutnya, aku disekap di kamar yang sama, datang lagi orang baru meniduriku dengan sangat ngeri.

Jika nanti aku pulang, aku tidak lagi disapa nona. Panggil saja Maria. Aku tak tahu harus bercerita tentang tekad dan mimpiku nanti. Paman Hubert pasti membenci aku lebih dari ia membenci ayah kandungku. Sekarang aku menjadi manusia kamar yang tak berguna, tubuhku kotor berselimut lumpur dosa.

Sekarang aku adalah Maria, wanita dengan harapan-harapan yang pupus. Tubuhku kian rapuh dalam asah dan mati dalam nestapa. Tidak ada mimpi yang bisa kukejar lagi, selain berharap akan pulang dalam keadaan tak bernyawa.  

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Ando Roja Sola

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Tali

Sabtu, 20 Mei 2023 09:32 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content

Purata

Selasa, 7 Desember 2021 14:09 WIB

img-content
Lihat semua