Dakwah itu Cinta

Rabu, 31 Agustus 2022 12:49 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pemenuhan Tugas Mata Kuliah Islamic Preneur

Oleh: Hasibah Ahmad Fuad*

Kata dakwah sudah tidak asing lagi terdengar ditelinga kita, seperti yang kita ketahui, dakwah adalah upaya yang dilakukan seorang muslim untuk mengubah keadaan muslim lainnya menjadi lebih baik. Setiap muslim mempunyai kewajiban berdakwah, baik secara individu maupun kelompok. Pokok dari kegiatan dakwah sendiri adalah amar ma’ruf nahyi mungkar (mengajak kepada kebajikan dan mencegah dari keburukan) agar mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Adapun cinta, cinta adalah sebuah ungkapan perasaan, perhatian, pengorbanan untuk objek yang dicintai. Sebagaimana Syeikh Ibnu Qayyim Al-Jauziy memaparkan arti cinta dalam salah satu bukunya yang berjudul : “Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Rekreasi Orang-orang Dimabuk Rindu” seri 1 (Cinta dan Pandangan Mata): Cinta adalah bagaimana hati seseorang selalu ingat kepada objek yang dicintainya, menyerahkan diri secara total kepadanya tanpa menyisakan sedikitpun bagi dirinya, dan cinta juga adalah kesetiaan hati untuk tetap merindukan sang kekasih dengan berbagai macam pengorbanan.

Sebagai sebuah upaya, dakwah berada dalam waktu dan ruang tertentu. Seorang da’i dapat mengoptimalkan dakwahnya dengan cinta atas apa yang ia kerjakan, dan agar dakwah tepat sasaran, dakwah memiliki metode-metode yang efektif dalam menghadapi audiencenya, terdapat dalam al-qur’an surat An-Nahl ayat 125 :

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Qur’an Surah An-Nahl : 125)

Dalam ayat tersebut terdapat beberapa metode dakwah, salah satunya adalah:

  • Al-hikmah (hikmah)

Dakwah bil hikmah adalah metode dakwah dengan menjelaskan beberapa alasan yang logis, disertai dalil (al-Quran dan as-Sunnah).

  • Al-mau'idzah al hasanah (pelajaran yang baik)

Dakwah bil mau'izah al hasanah, berarti memberi kepuasan kepada jiwa seseorang atau komunitas yang menjadi objek dakwah. Hal itu dengan cara-cara yang baik, seperti memberi nasihat, pengajaran, serta teladan yang positif.

  • Al-mujadalah billati hiya ahsan (mendebat dengan cara yang baik).

Dakwah bil mujadalah billati hiya ahsan adalah dakwah yang dilakukan dengan cara bertukar pikiran (dialog), sesuai kondisi masyarakat setempat tanpa melukai perasaan mereka.

Tiga metode dakwah inilah yang sudah dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk menunaikan amanat yang Allah ‘Azza Wajalla berikan kepadanya. Lantas, Darimana dakwah harus dimulai? Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam al-qur’an:

وَاَنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ ۙ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ۚ

"Berilah pengajaran kepada keluargamu terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." (Qur’an Surah Asy-Syu’ara :214).

Dalam ayat tersebut, Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam untuk memberikan keterangan atau ajakan dakwahnya kepada kalangan keluarga terdekatnya terlebih dahulu. Mengapa? Karena dakwah itu cinta, keluarga terdekat lebih kita cintai dari masyarakat lainnya, dan juga karena kecintaan kita terhadap dakwah maka kita tidak akan memberikannya sebelum orang yang kita cintai mendapatkannya.

Sebagai seorang Muslimah da’iyyah, berdakwah sudah menjadi kewajiban dan kebutuhan sehari-hari, maka dari itu, tidak ada 1 hari pun yang dilewati tanpa dengan dakwah. Baik itu dakwah secara tatap muka, maupun melalui social media. Setelah dakwah kepada kerabat terdekat dipenuhi, perjalanan dakwah pun berlanjut kepada para santri dan santriwati yang berada di Pondok Pesantren di Bogor yang berada dibawah pimpinan paman saya sendiri.

Kenapa melanjutkan dakwah di pondok pesantren? Saya pribadi belum menemukan titik keberanian penuh untuk terjun langsung ke masyarakat awam, terlebih dengan segala batas dan kekurangan bekal saya dalam ilmu. Dan juga karena kecintaan saya terhadap lingkungan pondok pesantren yang mendorong saya melanjutkan dakwah disana.

Berdakwah di lingkungan pesantren dengan mengaplikasikan 3 metodenya tergolong cukup mudah, bahkan saya tidak menyangka adanya titik kesulitan didalamnya. Namun, tidak sesuai ekspetasi, justru berbagai  kesulitan dan rintangan datang seolah tamu yang tak diundang. Contohnya: perbedaan pendapat dari dakwah yang saya sampaikan dengan dakwah yang da’i lain sampaikan, tudingan pun dikemukakan oleh nya dalam dakwahnya di hadapan santri dan santriwati. Bukan sekali dua kali ia menyalahkan saya, mengucilkan saya dengan kata-kata yang menggores hati (menurut saya), dan dengan sindiran di media sosial yang kerap ditudingkan kepada saya.

Perbedaan pendapat memang sudah tak dapat dielakkan lagi dalam furu’ ilmu syar’i, para ulama pun berbeda-beda pendapat dalam berbagai hal, namun para ulama menghargai pendapat satu dan lainnya tanpa adanya perdebatan. Maka saya memilih untuk diam tak melawan, karena dakwah harus menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang, bukan justru menanamkan kebencian dan permusuhan  (al-`Adawah wa al-Baghdha').

Rasa kecintaan saya terhadap dakwah akan kebenaran, kebaikan dan kedamaian semakin menggebu-gebu dalam hati, tak ada rasa ingin menyerah, karena cinta dan semangat tinggi yang diberikan oleh santri dan santriwati, rasa ingin tahu mereka membuat saya semakin sadar bahwa saya ini bodoh dan kurang ilmu, maka saya harus terus belajar, dan mendakwahkan ilmu yang saya dapat kepada seluruh ummat, seperti dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang berbunyi :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو: أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :بلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتعَمِّدًا فلْيتبوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ. (رواه بخاري)

“Dari Abdullah ibn Amr: Bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra'il dan itu tidak apa (dosa). Dan barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka.” (Hadits Riwayah Bukhari).

            Dunia dakwah tidak akan mengenal siapa kita dan bagaimana  objek dakwah kita, ia hanya memberikan kita peringatan agar senantiasa terus menerus memantaskan diri menyiapkan bekal yang cukup untuk mengarunginya. Tetaplah berdiri tegak menjalani dakwah ini, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang tidak pernah menyerah untuk menyeru ummatnya kepada jalan yang benar. Mari kita tunjukkan kecintaan kita kepada Allah ‘Azza Wajalla dan Rasulullah ‘Alaihishsholaatu Wassalaam.

 

*Mahasiswi Semester 4 Prodi Komunikasi Penyiaran Islam

STIBA Ar-Raayah Sukabumi

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Hasibah A Fuad

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Dakwah itu Cinta

Rabu, 31 Agustus 2022 12:49 WIB
img-content

Cari Rezeki dengan Berwirausaha

Senin, 4 Oktober 2021 13:40 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua