Mati Sunyi (11)

Jumat, 29 Desember 2023 20:16 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Pertanyaan atau jawaban tentang mati, mungkin menjadi relatif ketika masuk ruangan ide imajinasi. Pertanyaan mungkin saja sekaligus jawaban tentang kini, lampau ataupun akan datang.

Mati Sunyi (11) Episode: Polarisasi.

Kisah alegoris atau realistis. Sesuka telaah imajinasi. Jangan pernah merasa bisa membaca makhluk dengan benar sekalipun telah terlatih sahih. Makhluk-makhluk, sebenarnya misteri ungkapan dari keniscayaan. Oh begitu ya. Lantas mengapa aral melintang datang pergi tak mampu menerkanya lebih awal.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Oh, apa ada hidup makhluk tak lengah, sekalipun melotot terus siskamling, tapi genteng bocor pada bingung. Ketakutan momen makna dicuri sang waktu tapi toh bocor tercuri jua. Waktu tak pernah wujud tak terlihat. Harusnya bisa dong. Makhluk hidup sebenarnya bisa belajar dari cara melewati tekno natural apapun itu, kalau mau.

Apalagi sekadar model kecerdasan buatan, hiks, rancangan tekno kuantumnya sudah ada sejak sosok manusia punya sel otak sekalipun di masa purba. Bergantung serapan, terapan ilmu kebudayaan ketika ia hidup. Interaksi tekno canggih apapun, satu hal; tak punya idea pencapaian imajinasi laiknya tekno natural. 

Artifisial-rekaan; program data buatan otak manusia. Mesin tak punya ide natural. Manusia di siram air, segar makin bugar. Buka mesin lautkan, mati. Kapal selam dibalut metal agar mesinnya tak mati. Dor! Siapa menekan peluru keluar, nilai daya berat gravitasi pada titik kulminasi tekanan; rudal terbang, satelit loncat ke angkasa.

Plus kekuatan frekuensi. Oke, dua hal tak bisa dibikin teknologi; gravitasi plus frekuensi. Teknologi buatan manusia sampai dengan tekno canggih terkini, termasuk bom oksigen negara anu, diledakan oleh dua kekuatan gravitasi plus frekuensi. Teknologi numpang hidup di frekuensi plus gravitasi, oke deh. 

Siapa pencipta frekuensi plus gravitasi tak terlihat itu. Menjadi kontrol Bimasakti sejauh penglihatan tekno manusia, hingga semesta lain di luar lingkar magnet semesta ini. Apakah tekno buatan manusia bisa bikin langit berlapis-lapis. Enggak tau deh, teknologi tercanggih bikin ember pun bisa bocor banjir isu loh.

Sebuah lembaga sains dunia, pun sampai hari ini tak mampu memastikan apa isi, black hole menuju white hole sebenarnya. Kemampuan makhluk manusia hanya sampai pada dugaan paling hebat ditingkat persepsi analisis, teori pendukung hasil peniruan isi alam raya. Siapa pencipta alamraya hingga luar lingkar semesta nun tak terhingga.

"Kagum."

"Hanya sebatas itu pikiran kita."

"Jujur. Ya."

"Dihidupkan. Dimatikan. Kembali ke asal."

"Seperti kita kini."

"Mungkin."

"Menunggu pengadilan universal."

"Ya. Pasti."

"Waktu kau pergi. Kesadaran suci, mampir, seperti mengingatkan, kau takkan pernah kembali. Setiap perasaanku mengatakan sesuatu, seperti, membuka jendela, melihat kamar, membuka lemari baju, melihat benda-benda kesayanganmu, seperti mendengar suara kendaraan, selalu mencoba melihatnya." 

"Ya, kau tak ada, tak pernah kembali. Awalnya, terasa kosong, lenyap. Tapi lama kelamaan kesadaran ngobrol-ngobrol, bahwa hidupmu sudah berpindah jauh di baliknya langit semesta-semesta. Aku coba memandang bintang-bintang, tak ada tanda-tanda apapun tentangmu, kehidupan barumu, ingin aku melihatnya. 

Kini di sini aku berhasil menyusulmu. Seringan tak bisa aku bayangkan tak seperti apapun."

"Bersyukur kita dipertumukan."

"Oleh siapa?"

"Oleh entah tak terbantahkan, hening memanjang entah kemana semua tak terbatas tanpa batas."

"Dari sini kita bisa melihat kehidupan masa lalu, kini menuju akan datang."

"Indahnya."

"Ya."

"Wow! Lihatlah itu! Burung-burung Elang bersama anak-anaknya, tempo hari pernah kita selamatkan, di tebing terjal pendakian itu. Kau masih ingat?"

"Ya. Baru kali ini bisa melihat keajaiban. Wow! Aku ingat peristiwa itu."

"Lihat! Itu kita! Di tengah tebing terjal, perhatikan tak lama setelahnya kau sudah lebih tinggi di atasku, lalu terpeleset lumut tebal dari huma tebing. Lihat! Kau terpeleset. Aku menangkap lenganmu menggenggam piyik burung Elang. Kita akan mengembalikan piyik burung itu kesarangnya setelah terjatuh tersangkut akar-akar pohon tebing." 

"Ya, lantas induk Elang melintas sedekat kita berpelukan ketakutan dia akan melampiaskan amarahnya hihihi menyangka kita menculik piyiknya."

"Ya. Lihat! Tuh! Indahnya adegan kala itu. Kabut menjelang tengah hari, di ketinggian menakjubkan. Kita masih berpelukan menyembunyikan si piyik Elang."

"Kalau induknya tahu waktu itu, habis kita diserang."

"Atau mungkin dugaan kita saja. Lihat! Ternyata induknya berputar-putar berjarak dari kita. Adegan ini tak terlihat oleh kita kala itu."

"Karena kita ketakutan hihihi."

Kini dua insan, berada di balik serupa kaca bening, pembatas antara langit Planet Bumi dengan planet-planet lain. Melihat dua dunia sekaligus setajam gambar film. 

Sepasang insan, melihat keindahan manuver terbang keluarga Elang, seakan-akan berdialog sebagai ucapan terima kasih. Manuver keluarga Elang menuju sejajar kearah dua sejoli. Lantas serentak keluarga Elang merubah konfigurasi terbangnya sekilat vertikal meninggi lantas menghilang di hadapan dua sejoli itu.

Terpana sepasang insan, melihat realitas dialog keluarga Elang. Kami bersyukur mereka masih hidup menjaga udara ekosistem planet tempat masa lalu hidup kami.

"Terima kasih ..." Lirih menyirna. 

***

Jakarta Indonesiana, Desember 29, 2023.
Salam NKRI Pancasila. Banyak hari baik setiap hari.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Taufan S. Chandranegara

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Antumbra

Selasa, 2 Juli 2024 19:30 WIB
img-content

Eskrim Pop Up (35)

Selasa, 25 Juni 2024 19:34 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terkini di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua

Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua