x

Iklan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Jalan Menuju Sabar

Belajar sabar ternyata tidak mudah. Ada saja hal-hal kecil yang memompa tekanan darah kita.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

 

“Orang kuat itu bukanlah yang selalu bisa menumbangkan orang lain, melainkan orang yang mampu mengendalikan diri ketika marah.”
--Rasulullah Muhammad S.A.W

 

Sehabis bekerja di kantor, seorang kawan berkisah ihwal perjalanannya pulang ke rumah. Ketika indikator BBM di dashboard mobilnya turun drastis, ia pun berbelok ke sebuah pompa bensin. Rupanya harus mengantri panjang. “It’s okay,” katanya menyadari tak ada pilihan lain. Sayangnya, persis menjelang gilirannya tiba untuk diisi, petugas pompa bensin memberitahu, bensin habis. “Hahh?!” Ia berteriak tanpa sadar.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Akhirnya ia melanjutkan perjalanan dengan bensin yang tersisa. Bergabung kembali dengan mereka yang bergegas pulang agar bisa berbuka bersama keluarga ternyata menawarkan tantangan yang menguji kesabaran. Lalu lintas bergerak pelan. Satu kali, dua kali mobil lain memotong jalan. Sepeda motor meliuk-liuk. Mereka mungkin sama-sama ingin segera tiba di rumah atau tempat berbuka bersama. Hingga akhirnya saat mobil ketiga menyelinap di depannya, ia pun berteriak lagi—kali ini lewat klaksonnya. Lumayan keras, sebab orang-orang sekitar berpaling ke arahnya.

Sampai di rumah, acara berbuka keluarganya hampir selesai. Ia menyeruput teh hangat sembari bertanya-tanya, “Puasaku oke nggak ya hari ini?”

Belajar sabar, kata kawan itu berbagi pengalaman, ternyata tidak mudah. “Ada saja hal-hal kecil yang memompa tekanan darah kita,” tuturnya, “kadang-kadang justru ketika azan Magrib hampir tiba.” Ia tahu, sebagai letupan emosi, amarah itu normal. Yang jadi soal, katanya lagi, ketika kita tidak menyadari bahwa kita sedang marah sehingga muncul teriakan—seperti letupan yang terjadi di pompa bensin itu, spontan, seketika. “Kadang-kadang saya begitu,” ujarnya lagi (Dalam hati, saya bilang ‘Sama!’).

Amarah yang ditekan dan tidak disadari, kata para psikolog, bisa merusak, bukan saja orang lain—hubungan menjadi buruk, bawahan jadi takut, anak jadi kabur, acara makan jadi hambar—tetapi juga mengganggu diri sendiri. Kemarahan yang meledak-ledak, bahkan untuk sebab-sebab sepele, juga bisa menghancurkan diri. (“Setiap kali engkau marah, engkau meracuni dirimu sendiri,” begitu kata Alfred Montapert, penulis The Supreme Philosophy of Man). “Ya, saya tahu itu, tapi ternyata memang tidak mudah belajar sabar, walau setiap tahun saya berpuasa,” kata kawan saya (Dalam hati, saya juga bilang begitu).

Banyak godaan di saat belajar bersabar, karena kita memang tidak bisa benar-benar mengambil jeda dari aktivitas sehari-hari. Kita juga tidak bisa sepenuhnya menarik diri dari lingkungan—sesuatu yang, dalam hemat saya, sesungguhnya kita butuhkan di tengah kehidupan yang serba cepat dan padat. Setidaknya sekali dalam setahun, selama beberapa minggu. Kita perlu sesekali berdiri di luar arus dan mengamati apa yang tengah terjadi.

Kalaupun akhirnya amarah meletup, nasihat para psikolog, yang terpenting ialah menyadari bahwa kita sedang marah. Dengan begitu, kita lebih mampu mengendalikan amarah (saya tidak tahu pasti apakah mereka juga benar-benar mampu melakukan hal itu). Seorang kawan yang lain pernah marah besar dan membanting laptopnya. Ketika kemarahannya reda, ia menyesal melihat kepingan-kepingan laptop di lantai.

Mengendalikan amarah merupakan salah satu cara mengelola energi (Benar kata kawan saya, marah itu menghabiskan banyak energi). Marah yang terkendali berarti energi kita terkendali juga—energi itu mencakup fisik, emosi, pikiran, dan spirit. Betapa sering amarah kita menguras keempat ragam energi itu, membuangnya sia-sia, dan membuat kita lemah. Sehabis marah, capek. (“Untuk setiap menit kemarahanmu, engkau mengorbankan enam puluh detik kedamaian pikiranmu,” ujar sastrawan Ralph Waldo Emerson). Berpuasa berarti melatih diri agar sanggup mengendalikan seluruh energi itu, dan terbukti alangkah tidak mudah menjalaninya dengan sabar.

“Amarah bisa juga disalurkan ke hal-hal positif. Jika kita senang melukis, tumpahkan kemarahanmu di atas kanvas. Jika kita suka bermusik, tuangkan kemarahanmu dengan mencipta lagu. Energi besar yang bakal terbuang memang lebih baik disalurkan ke situ,” ujar kawan saya. Saya setuju sembari bergumam, “Alangkah tidak mudahnya ya berlatih bersabar.” ***

Ikuti tulisan menarik dian basuki lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler