Islam Mazhab Pop

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Secara sosiologis, kita bisa mengatakan sejak awal abad XX Islam mazhab pop dikesampingkan, dicemooh, dan diharamkan.

Islam mutakhir dan di masa mendatang didominasi Islam mazhab pop. Dan, Ramadan adalah panggung besar yang sangat dinantikan muslim pop di seluruh pelosok dunia. Umat Islam Indonesia (ikut) memproduksinya secara massal, menyebarkannya secara masif, mengkonsumsinya bersama, dan menjadikannya sebagai sebentuk berkeislaman.

Secara ekonomis-religius, kita bisa membuat satu kesimpulan: tidak ada proyek berkeislaman yang berani menggunakan dana lebih dari Rp 11 miliar untuk memproduksi budaya pop film Ayat-ayat Cinta plus sekian triliun rupiah untuk menontonnya (dari sekitar 4 juta lebih penonton).

Begitu juga ambisi beragama bentuk konsumsi hijab dengan dana sekitar US$ 2,2 miliar dalam lima tahun mendatang. Belum lagi dana untuk memproduksi dan mengkonsumsi musik islami, sinetron islami, acara pengajian gaul, pakaian islami, buku-buku islami, wisata religius islami, plus sirkulasi uang di bank-bank islami. Sungguh tidak ada proyek beragama yang begitu ambisius di negeri ini selain beragama dalam mazhab pop.

Secara sosiologis, kita bisa mengatakan sejak awal abad XX Islam mazhab pop dikesampingkan, dicemooh, dan diharamkan. Di awal pendirian negara, umat Islam Indonesia sibuk dengan Islam kenegaraan, hingga ke tahun-tahun awal penguatan orde. Sedangkan pada masa Orde Baru yang merepresi ekspresi keagamaan secara politik, keislaman publik yang mengejawantah adalah perlunya masyarakat madani sebagai bentuk "kesalehan sosial".

Yang menarik, saat Islam politik direpresi dan ditinggalkan, Islam pop yang berkelindan dengan ekonomi modern semakin menemukan panggung utamanya. Ini hampir persis seperti yang diprediksi Nurcholis Madjid sejak 1970 dengan slogan: "Islam Yes, Partai Islam No".

Islam mazhab pop memiliki kekuatan untuk memaksa arus pemikiran berislam radikal untuk tetap berada di jalur moderat dan rasionalitas publik keislaman. Jika tidak, publik pop Islam hampir pasti bakal membelakanginya. Dan, sudah jelas bahwa orientasi nilai Islam mazhab pop adalah ramah, toleran, moderat, inklusif, dan fashionable kekinian.

Mereka tak hanya mematahkan representasi keislaman yang seakan cuma dimiliki oleh manusia unggul secara keilmuan dan keibadahan, tapi sekaligus menghantam hasrat berkeislaman yang radikal mengancam raga jiwa.

Sekarang, hampir tidak terdengar kecaman keras terhadap Islam mazhab pop. Alasannya sederhana: semua itu sudah lulus uji kesalehan dan keimanan (minimalis) berdasarkan teks keagamaan. Ekspresi dan identitas Islam bermazhab pop sudah dianggap sepantasnya hadir dalam keseharian umat.

Ini seperti seorang ulama menggunakan teknologi komunikasi terbaru untuk meluaskan jangkauan dakwahnya. Dalam hal-hal inilah Islam mazhab pop mendominasi, dan ke arah inilah sebagian besar kalangan Islam bergerak betapa pun berbedanya aliran teologi atau organisasi.

Sepintas, Islam mazhab pop memang bergerak dalam hal-hal material yang sesekali dikecam oleh para arif agama. Namun umat manusia beragama mutakhir sadar: pilihan beragama yang begitu berhasrat pada kebakaan akhirat dengan melupakan dunia atau ambisi beragama dalam kefanaan duniawi yang terus berubah tanpa kontrol akan memundurkan agama itu sendiri bagi manusia. Pilihannya cukup jelas: raga yang tak sepantasnya terancam haus lapar mampu melanjutkan hidup ragawi dengan layak dan memenuhi harapan-harapan duniawi, termasuk mencari ilmu.

M. Fauzi Sukri, Penulis buku Guru dan Berguru (2015)

*) Artikel ini terbit di Koran Tempo edisi 9 Juni 2016

Bagikan Artikel Ini
img-content
Fauzi Sukri

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Islam Mazhab Pop

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua