x
#Krisis air
Oleh: Zikri Alvi Muharram

Selasa, 23 Mei 2023 05:28 WIB

Empat Dekade Tertimbun Semen, Apakah Masyarakat Kokoh, Atau Rapuh?

Agar kokoh hampir seluruh bangunan berbahan baku semen seperti rumah, sekolah, puskesmas, dan gedung-gedung lainnya. Namun, kegunaannya tidak sebanding dengan proses produksinya yang mengorbankan ruang hidup masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada hutan yang tumbuh subur di pegunungan karst. Gunung karst sendiri merupakan pegunungan yang terdiri dari bebatuan kapur yang meluas dan memiliki sistem gua, sumur, air tanah karst, dan juga terdapat sungai bawah tanah di dalamnya. Dalam siklus ini, air dapat mengalir melalui gua dan sumur, mengikat karbon dan membentuk kapur. Kemudian air tersebut dapat mengalir kembali ke permukaan dan membawa unsur-unsur yang terikat, mempengaruhi tumbuhan dan hewan yang hidup di permukaan. Siklus ini berlangsung secara terus menerus dan memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Selain sebagai penyimpanan air tanah, karst juga berfungsi sebagai pengendalian erosi, habitat bagi spesies endemik, penyedia sumber daya alam, dan bisa dijadikan tempat wisata. Artinya, karst ini sangat penting bagi masyarakat setempat. Lalu, apa yang terjadi jika karst itu ditambang? Hal itu terjadi pada enam desa di Kecamatan Gempol Kabupaten Cirebon akibat aktivitas penambangan karst oleh PT. Indocement Tunggal Perkasa, tbk untuk bahan baku semen. Beroperasi selama empat puluh tahun terhitung dari tahun 1983 sampai sekarang. Mendapat konsesi IUP seluas 346 Ha melalui SK Kementrian ESDM 503/05.05DU/BPPT dan akan berakhir pada 2030 mendatang. Dampak yang ditimbulkan oleh PT. Indocement adalah merusak alam yang mempengaruhi aspek sosial-ekologi. Bagi yang baru datang ke sana, bisa langsung mengetahui seberapa besar dampak kerusakannya, karena meski dilihat dari jarak beberapa kilo pun kerusakan alam tersebut nampak jelas. Penampakan gunung-gunung yang rata bak lapangan, debu-debu bertebaran, dan aliran sungai yang keruh. Penambangan karst juga merusak hutan dan ekosistem lainnya. Sehingga, jika hutan dan ekosistem lainnya rusak, kapasitas hutan untuk menyerap karbon akan berkurang. Khususnya di Desa Cikeusal yang merupakan salah satu dari enam desa terdampak, dimana desa ini adalah desa yang paling terdampak langsung dibandingkan desa-desa lainnya, karena lokasinya yang berdekatan dengan lokasi pertambangan PT. Indocement dan juga desa ini merupakan wilayah yang paling lama ditambanng. Karena letaknya berdekatan dengan gunung-gunung yang rimbun dengan hutan, maka sumber kehidupan masyarakat Desa Cikeusal bergantung pada hutan. Namun, sekarang hutan yang menjadi tumpuan masyarakat telah sirna akibat tambang. Tidak hanya gunung, pemukiman warga juga turut tergusur. Setidaknya ada enam blok di Desa Cikeusal yang terpaksa harus tergusur. Akibatnya, banyak warga desa Cikeusal yang terusir dari pemukimannya. Karena pemukiman warga menjadi akses keluar masuk alat berat menuju lokasi pertambangan. Bukannya masyarakat diam dan tak melakukan perlawanan, mereka takut karena jika melawan, maka akan dicap pemberontak dan anti pembangunan. Memang tidak ada paksaan dari pihak perusahaan untuk pindah, hanya tanggung resikonya jika terjadi longsor dan sering terkena debu. Selain itu, dentuman dinamit juga mengganggu, bahkan getarannya mampu meretakkan tembok-tembok rumah warga. Hal itu juga yang memaksa warga untuk pindah ke tempat yang lebih jauh dari aktivitas pertambangan. Pecahan batu yang terlempar juga sering masuk ke pemukiman warga. Pernah sampai ada ternak yang meninggal akibat lemparan batu. Mata pencaharian masyarakat turut menghilang. Mayoritas pekerjaan masyarakat Desa Cikeusal yakni sebagai buruh kapur tradisional dan sebagian menjadi buruh tani. Kini profesi tersebut menghilang akibat banyak lahan-lahan yang dicaplok oleh PT. Indocement untuk ditambang. Peralihan profesi yakni masyarakat yang mayoritas buruh tambang kapur tradisional kini menjadi buruh kasar. Karena minimnya pekerjaan di desa sehingga membuat masyarakat bekerja di daerah lain. Masyarakat yang dulunya satu blok kini sudah banyak yang berpencar dan pindah ke daerah lain. Situs sejarah yang dikeramatkan masyarakat seperti petilasan atau makam leluhur ikut menghilang. Bersamaan dengan hilangnya situs yang dikeramatkan, tradisi kearifan lokal juga akan perlahan menghilang seperti ziarah, sedekah bumi, dan bongkar bumi. Jika tradisi-tradisi itu hilang, maka identitas masyarakat setempat dan pengetahuan tentang budaya desanya juga akan hilang. Krisis Air Dampak krusial yang sangat dirasakan oleh masyarakat sekitar adalah krisis air. Mata air yang seharusnya menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat di desa-desa yang berada di Kecamatan Gempol kini sudah banyak yang hilang karena gunung yang menjadi letak mata air rata akibat penambangan. Meskipun tersisa beberapa gunung yang masih ada titik mata airnya, tetap saja krisis air tetap melanda. Sebelum PT. Indocement belum melakukan ekspansi dan eksploitasi habis-habisan, masyarakat yang tinggal di dekat pegunungan Kromong seperti di lereng gunung Curi, masyarakat Desa Cikeusal masih bisa memanfaatkan mata air dan sungai untuk kebutuhan sehari-hari dan pertanian. Krisis air paling dirasakan masyarakat Desa Cikeusal terasa pada saat musim kemarau. Karena hilangnya beberapa sumber mata air sehingga masyarakat harus membeli air. Pihak pabrik biasanya memang sering memberikan bantuan air untuk warga sebanyak dua truk tangki, hanya saja hal tersebut tidak mencukupi kehidupan sehari-hari, seperti untuk kebutuhan minum, mencuci dan buang air. Karena bantuan air dari PT. Indocement tidak mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Desa Cikeusal, akhirnya masyarakat harus mengeluarkan uang untuk membeli air. Biasanya warga membeli air seharga Rp8.000,00/200 liter. Menurut penuturan dari salah seorang masyarakat sana, dulu Ia pernah tinggal di salah satu blok yang tergusur yaitu, Blok Citotok. Blok Citotok ini sekarang hilang karena sudah dijadikan sebagai jalan untuk akses tambang. Pada saat Ia masih tinggal di blok Citotok, warga tidak kesusahan air. Air setiap harinya muncul ke permukaan, tinggal menggali satu sampai dua meter pun air sudah muncul. Kini warga hanya bisa pasrah dengan keadaannya sekarang, mungkin ada rasa yang disesalkan oleh warga namun bagaimana lagi jika tidak mau pindah maka akan dianggap melawan pembangunan. Hilangnya Mata Pencaharian Selain menjadi buruh dan menambang batu, masyarakat desa cikeusal juga berprofesi sebagai petani. Sebagian besar dari hasil panennya digunakan untuk konsumsi atau bisa dikatakan petani di desa Cikeusal merupakan petani subsisten. Jika memang diperlukan untuk dijual karena kebutuhan mendesak atau karena ada lebihan. Mereka mendapatkan modal dari hasil uang sebagai buruh kasar. Meski sudah banyak lahan yang sudah dijual, namun masih ada sebagian lahan-lahan milik masyarakat yang belum dijual. Masyarakat menggunakan lahan tersebut untuk bertani dan hasilnya untuk kebutuhan keluarga. Harta yang miliki saat ini hanya sisa sebidang tanah yang mereka miliki. Profesi sebagai petani semakin sedikit apalagi masyarakat yang menanam di area perhutani sudah jarang karena mereka harus melewati tambang terlebih dahulu Dari hasil pembahasan di atas, hadirnya PT. Indocement rupanya tidak menguntungkan bagi masyarakat sekitar. Antara keuntungan dan kerugiannya tentu lebih banyak merugikan masyarakat sekitar. Mengenai dampak-dampak yang ditimbulkan seperti erosi, krisis air, kualitas udara memburuk, bunyi bising yang ditimbulkan oleh pabrik, dan konflik horizontal. Selama puluhan tahun, masyarakat desa Cikeusal harus bisa beradaptasi dan bertahan hidup di situasi seperti itu. Jika dibiarkan begitu saja dampaknya pasti akan semakin meluas. Maka dari itu, perlu adanya upaya pemulihan kembali alam jika perlu memang menghentikan aktivitas tambang secepat mungkin. Ada cara efektif yang dilakukan salah satu desa yang sama terdampak oleh aktivitas tambang PT. Indocement. Masyarakat Desa Cupang dengan wisata Batu Lawangnya, mereka mempertahankan sebuah gunung karst dari eksploitasi PT. Indocement dengan menjadikan gunung karst itu sebagai situs wisata alam sekaligus religi. Gunung ini juga menjadi simbolik salah satu tradisi terkenal yaitu festival Kromong sebagai bentuk penghormatan terhadap alam karena telah memberikan kehidupan. Langkah tersebut bisa dilakukan di Desa Cikeusal untuk menghentikan operasi industri ekstraktif PT. Indocement. Namun, langkah ini perlu didukung oleh seluruh lapisan masyarakat terutama pemerintah dan masyarakat terdampak itu sendiri.