Hoax Putih, Adakah?

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Hoax atau berita bohong dianggap merusak. Bagaimana jika hoax itu untuk kebaikan, layakkah disebut Hoax Putih? Seperti adanya White Lie.

Hoax. Sebuah kata yang menjadi populer akhir-akhir ini di seluruh dunia. Hoax sering diartikan sebagai kabar bohong. Motif penyebarannya macam-macam. Ada alasan politik dan ada juga alasan ekonomi.

Alasan politik paling banyak ditenggarai, karena Hoax digunakan untuk melakukan character assasination terhadap pihak tertentu. Bisa juga untuk propaganda yang menguntungkan si pembuat hoax. Sekelompok orang juga secara sadar memproduksi dan menyebarkan hoax untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Seorang remaja berusia 16 tahun di Macedonia mendulang uang hingga USD 200.000 dari menyebarkan berita bohong mengenai Hillary Clinton pada masa kampanye pemilu presiden di AS yang lalu. Beberapa media ‘tidak jelas’ juga menjual berita yang dipelintir untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Semakin terpelintir, hoaxnya semakin laku.

Di Indonesia kejadiannya juga sama. Di pemilihan presiden tahun 2012, berbagai berita bohong yang menyerang Jokowi hingga pada tingkat yang ‘menjijikkan’ juga muncul. Dengan cara yang sangat strategis dan modal yang besar. Mungkin masih ingat dengan Tabloid Obor.

Menggoreng hoax di medis digital juga menjadi keasyikan tersendiri bagi sebagian orang. Bisa mendapatkan traffic yang tinggi akan mendorong kepada terciptanya lapangan pekerjaan. Motivasi-motivasi itu menciptakan dunianya sendiri. Dunia yang pada akhirnya mengganggu, karena kembali pada artinya, itu hanyalah berita bohong.

Apakah hoax munculnya di zaman modern ini, ketika media sosial menjadi sesuatu yang jamak di masyarakat? Ternyata tidak.

Pada kenyataannya hoax telah menjadi bagian dari peradaban manusia. Menurut catatan laman wikipedia, hoax pertama kali dicatat di Inggris pada tahun 1661, ceritanya tentang seseorang yang menuduh orang lain telah menghantuainya. Beritanya tersebar dari mulut ke mulut. Ternyata berita itu tidak benar.

Perkembangan selanjutnya sesuai dengan perkembangan jaman dan teknologi, hoax disebarkan melalui selebaran, koran, majalah dan media cetak. Pada awalnya, hoax digunakan hanya sebagai candaan. April mob atau April Fools bisa dimasukkan juga sebagai hoax. Meskipun hanya berupa candaan, tetapi kontennya bohong. Tetapi perkembangannya berita bohong bisa muncul dalam bentuk propaganda dan digunakan untuk tujuan-tujuan tertentu.

 

Analogi White Lie

Selalu ada yang terbaik dari yang terburuk. Ketika nasi sudah menjadi bubur, buburnya masih bisa dimakan. Demikian kira-kira analoginya. Maka jika tujuannya baik, yang buruk pun boleh-boleh saja digunakan.

Pada masa kecil dulu, pastinya semua orang diajari untuk tidak berbohong. Berbohong adalah dosa yang sangat serius. Karena jika berbohong pasti akan kena hukuman. Jika berbohong, pasti dosanya dicatat.

Tetapi ketika itu ada kebingungan tersendiri. Karena dengan syarat dan ketentuan tertentu, ternyata berbohong itu masih diperbolehkan. Berbohong demi kebaikan. Untuk yang mengenal bohong dalam konteks hitam putih, tentunya tidak ada alasan untuk berbohong. Akan tetapi, untuk tujuan yang baik, berbohong diperbolehkan. Bohongnya disebut dengan bohong putih.

Cerita yang dulu sering disampaikan untuk dapat memahami soal bohong putih ini adalah sebagai berikut. Diceritakan, ada seorang pemuda yang sedang berlari ketakutan. Tubuhnya pucat dan kecemasan yang teramat sangat tampak di wajahnya. Dengan nafas yang terengah-engah, dia mencari perlindungan. Dia bersembunyi di salah satu kolong yang tidak kelihatan dari pinggir jalan. Tidak lama kemudian sekelompok orang dengan wajah beringas muncul. Teriakan bunuh, bunuh menggema. Kebetulan kamu disitu.

Salah seorang dari pengejarnya lalu bertanya, “Lihat tidak laki-laki berbaju lusuh dan kurus. Tadi lari ke arah sini”.

Pada titik ini, si pencerita bertanya, ‘Kira-kira apa jawaban kamu? Jika kamu menjawab dengan jujur, maka laki-laki lusuh itu akan mati. Jika kamu mengatakan tidak tahu, maka dia akan selamat”

Biasanya, karena takut untuk menjadi ‘pembunuh’, jawabannya adalah memilih untuk tidak memberitahukan kepada para pengejar yang ingin membunuh laki-laki lusuh itu. Jadilah berbohong menemukan pembenarannya. Jika tujuannya adalah baik, maka berbohong masih bisa diterima.

Bohong putih ini memang sesuatu yang kadang dipertentangkan dan dipertanyakan. Karena jika hanya berbicara dalam konteks biner, maka berbohong adalah salah. Tetapi, ternyata masih ada wilayah abu-abu yang bisa ditempati bohong putih ini.

Mungkin banyak juga yang pernah menyampaikan bohong putih. Misalnya dalam wawancara kerja dimana kita harus ‘menjual’ diri. Asal tidak benar-benar bohong, mungkin masih bisa diterima. Masyarakat juga sering merasa dibohongi oleh banyak pemberi layanan publik, seperti yang banyak muncul di suara pembaca media-media. Mungkin penjualnya dulu berbohong demi kebaikan. Tetapi kebaikannya sendiri.

 

Bagaimana dengan White Hoax

Ini sebenarnya hanya keliaran imajinasi penulis berdasarkan analogi dengan bohong putih. Apakah benar-benar ada hoax putih? Jika kembali ke paparan di atas terutama terkait propaganda yang dilakukan pemerintah untuk menenangkan masyarakatnya, propaganda itu bisa dikategorikan hoax putih. Toh tujuannya adalah untuk kebaikan masyarakat.

Satu yang dijadikan contoh adalah pemberitaan di Bloomberg beberapa waktu lalu. Dikabarkan bahwa Jokowi menjadi presiden di Asia dan Australia dengan indikator kinerja hijau. Indikator yang dinilai Bloomberg adalah menaikkan kekuatan nilai tukar (2,41%), menjaga pertumbuhan ekonomi tetap positif (5,02%), dan memiliki tingkat penerimaan publik yang tinggi (69%).

Lalu, tersebar berita lanjutan di media sosial di Indonesia yang mengatakan bahwa Jokowi Presiden terbaik se Asia dan Australia menurut Bloomberg. Ini menjadi viral dan ada yang mengatakan ini hoax. Memang benar, Bloomberg tidak mengatakan bahwa Jokowi adalah presiden terbaik di Asia dan Australia. Bloomberg hanya menujukkan kinerja hijau terkait tiga indikator.

Tetapi, jika mendengar bahwa Jokowi adalah presiden terbaik tentunya menenangkan dan baik bagi masyarakat Indonesia. Meski ada sebagian yang tidak suka. Setidaknya pemilihnya yang 70 juta lebih suka. Beritanya tidak sepenuhnya benar, tidak dinyatakan secara lugas, tetapi baik buat disebarkan.

Selanjutnya, jika kita coba mencermati pesan-pesan pemerintah di media-media yang tersedia, sering sekali masyarakat tidak puas dengan penjelasan atau pun berita yang disampaikan oleh pemerintah. Rasanya ada yang disembunyikan. Tetapi, lebih baik disembunyikan daripada di sampaikan secara lugas. Demi kemaslahatan bangsa.

Seperti misalnya pemberitaan soal kunjungan Luhut Panjaitan, Kapolda Metro Jaya, Pangdam Jaya ke kediaman Kiai Ma’ruf pasca heboh persidangan Ahok. Dalam penjelasannya kepada media, Luhut hanya mengatakan berkunjung biasa, bersilahturahmi.  Luhut lebih lanjut menjelaskan bahwa Luhut dan Kiai Ma’ruf adalah teman lama.

Apakah itu yang sebenarnya terjadi? Masyarakat akan melihatnya dengan cara yang berbeda. Masyarakat tidak sepenuhnya percaya kunjungan itu hanya silaturahmi, karena kejadian terkait yang melatarbelakanginya. Bisa jadi bahwa pertemuan itu adalah untuk hal lain yang tidak dijelaskan.

Dengan mengatakan bahwa itu silaturahmi, sepertinya semuanya baik-baik saja. Padahal bisa jadi itu bukan silaturahmi biasa. Tetapi akan lebih menenangkan jika disampaikan demikian. Dilihat dari konten, itu adalah hoax, setidaknya yang dipercayai masyarakat. Tetapi jenis yang putih.

Dari gambaran di atas, hoax masih menemukan tempatnya di masyarakat dalam posisi yang baik. Jika dan hanya jika itu demi kebaikan. Hoax putih, kalau boleh dinamakan demikian. Jadi, kalau itu hoax putih, sebarkanlah!

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rinsan Tobing

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua