Ujian bagi Ulama - Analisa - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Ujian bagi Ulama

    Dibaca : 443 kali

     

    Politik praktis, khususnya yang terkait dengan kekuasaan, selalu menjadi ujian serius bagi para alim: apakah ia istiqamah dengan kebenaran yang ia sampaikan sebelumnya ataukah ia akan tergoda oleh aroma kuasa yang dalam sebagian hal menafikan kebenaran demi kekuasaan. Bagi manusia biasa, kuasa itu bagaikan hidangan lezat yang membuatnya membayangkan kenikmatan berkuasa, akses yang terbuka pada alat-alat kekuasaan, kemudahan menggapai sumber-sumber daya ekonomi, hingga pemujaan yang bersifat personal dan narsistik—popularitas, liputan media, sambutan rakyat, juga puja-puji banyak orang.

    Bagi para alim, yang dapat diasumsikan atau dipersepsikan oleh banyak orang memiliki maqam lebih tinggi ketimbang manusia biasa, godaan kuasa itu bisa menjadi luar biasa. Mengapa? Karena ia menyadari benar potensi dan peluang yang ia miliki untuk memasuki wilayah kuasa. Potensi dan peluangnya lebih besar dibandingkan manusia biasa, karena itu godaannya menjadi luar biasa. Kata pepatah: ‘Semakin tinggi batang pohon, semakin kencang angin menerpa.’

    Bagi para alim, pintu ke dalam wilayah kuasa terbuka lebar, tinggal ia tergoda untuk memasukinya atau menahan diri dan tetap berada di luar. Kuasa memang menyimpan potensi manfaat yang sangat besar bagi kemaslahatan rakyat dan negeri, tapi juga bisa berubah menjadi sumber kenikmatan yang orang kemudian enggan melepasnya. Banyak orang merasakan kenikmatan memberi perintah yang orang lain tidak berani menolak dan membantahnya. Banyak orang juga merasakan kenikmatan membuat keputusan bagi orang banyak.

    Sebagian alim susah menampik permintaan dan memilih untuk memberi dukungan kepada si ini atau si itu. Dukungan alim diperlukan karena alim ibarat lokomotif; jika lokomotif berhasil dibujuk dan diarahkan kepada tujuan tertentu, gerbong di belakangnya akan turut serta. Sangat kecil kemungkinan ada gerbong yang memilih jalur lain atas kehendak sendiri.

    Gerbong besar alias umat kebingungan menyaksikan lokomotif yang satu mengarah ke kiri, lokomotif yang lain mengarah ke kanan. Pilih yang mana? Masing-masing alim mengajukan argumen kenapa mendukung yang ini dan bukan yang itu. Tarikan politik praktis demikian kuat sehingga gerbong-gerbong inipun terpisah-pisah. Andaikan para alim mampu menarik jarak dari politik praktis, umat yang besar akan merasa ada yang mengayomi.

    Di saat seperti sekarang, perkataan seorang alim bisa dipersepsikan sebagai beraroma politik, bukan dalam konteks kesadaran politik dan kemaslahatan seluruh masyarakat, melainkan dalam kaitannya dengan kepentingan politik tertentu. Menyedihkan memang bahwa akhirnya aroma kuasa terasa lebih mempesona. Di hari-hari sekarang ini, menjaga kebersihan hati, pikiran, dan niat, maupun menghalau prasangka dan kecurigaan menjadi semakin sukar dilakukan. Lantaran itu, di tengah godaan kuasa yang demikian kuat, menjaga keulamaan niscaya menjadi tugas yang semakin berat.

    Seberapa banyak alim yang menyadari bahwa saat ini umat yang besar berpaling ke kiri ke kanan dan mencari-cari manakah alim yang masih dapat diikuti sebagai lokomotif sejati, yang istiqamah pada kebenaran dan keadilan, yang mengajak pada kebaikan, serta mengayomi semua orang tanpa dilambari kepentingan politik partisan. Mudah-mudahan saja para alim tidak alpa akan tanggungjawab besarnya memandu umat besar untuk kebaikan jangka panjang hanya karena perhatiannya tersita oleh kepentingan jangka pendek. Setidaknya inilah yang dirasakan rakyat awam, termasuk saya. **


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.