Pengadilan Nurani - Analisa - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 29 Juni 2020 16:25 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Pengadilan Nurani

    Dibaca : 530 kali


    Banyak pencari kebenaran dan keadilan yang membentur tembok. Di ruang-ruang pengadilan, para pencari keadilan menanti apakah para hakim yang bertugas akan mampu menyingkapkan kebenaran di balik perkara yang keruh oleh siasat. Rakyat cemas kalau-kalau para hakim akan tenggelam ke balik baju toganya karena terperangkap oleh ketakutan akan kuasa-dunia. Rakyat khawatir andaikan para hakim keliru memaknai kebenaran dan keadilan dan bertumpu semata kepada pasal dan ayat.

    Sidang pengadilan sesungguhnya merupakan ikhtiar menemukan kebenaran sejati yang melampaui jenis kebenaran yang dibangun di atas kepiawaian berargumen dan kecerdikan bersiasat di ruang-ruang sidang. Sering terjadi, mereka yang cerdik membangun argumen dan bermain siasat lebih punya peluang untuk meraih kemenangan dalam berperkara, walaupun kemenangan itu belum tentu berpijak pada kebenaran.

    Para hakim dituntut memiliki kepekaan dan kewaskitaan dalam melihat perkara yang ditanganinya. Namun, lebih dahulu dari itu, para hakim dituntut untuk jujur dalam memahami perkara dan dalam mengambil putusan. Kejujuran menjadi soal penting sebab hanya dengan kejujuranlah nurani hakim akan peka terhadap kebenaran. Ia akan tahu jalan mana yang harus ia tempuh. Ia tidak akan tergoda oleh siasat. Kejujuran akan membuat hakim mampu menemukan kebenaran secara jernih di tengah perkara yang barangkali keruh.

    Jika hakim mampu menaklukkan hasrat dan ketakutannya sendiri, dan mendengarkan dengan tenang suara nuraninya, ia akan sanggup memutus perkara secara benar. Pemahaman hakim mengenai kebenaran dan keadilan semestinya melampaui siapapun yang menghadiri majelis persidangan. Karena itu, kewaskitaannya dapat mengungguli segala siasat yang dihadirkan di ruang sidang. Andaikan mau membuka mata jernihnya, mestinya hakim mampu melihat siapa yang jujur, siapa yang bersiasat, siapa yang memperdaya.

    Setiap orang tahu, menemukan kebenaran sejati memang bukan jalan yang mudah, sebab manusia cenderung menyembunyikan kebenaran dan membungkusnya dengan berlapis-lapis dusta.Di relung nurani manusialah kebenaran sejati tersimpan, sehingga pengadilan hati nuranilah sesungguhnya tempat menemukan kebenaran. Di ruang-ruang sidang, orang bersilat lidah demi meraih kemenangan, kendati untuk itu ia harus menutupi kebenaran lebih rapat lagi. 

    Pengingkaran terhadap hati nurani hanya akan mendorong majelis menjauhi kebenaran yang dicari. Pengingkaran manusia terhadap nurani kerap terjadi karena alasan, motif, dan pikiran tertentu. Pengingkaran terhadap nurani tidak ubahnya menjerat leher sendiri dengan tali yang semakin lama semakin kencang. Untuk mendukung pengingkaran terhadap hati nurani, setiap orang harus mencari alasan lain untuk menyokong alasan yang terdahulu--berulang-ulang dilakukan hingga ikhtiar mencari kebenaran tidak mampu mendekatinya, melainkan justru menjauhinya.

    Kepada hakimlah, pencarian kebenaran menggantungkan nasibnya. Hakim akan membawa majelis pengadilan untuk mendekati kebenaran atau justru menjauhinya. Andaikan ia berpikir bahwa rakyat tidak tahu, hati nuraninya akan tahu. Apabila pengadilan hati nurani tak mampu membuat hakim tergerak menemukan kebenaran, mahkamah yang lebih tinggi lagi telah menantinya. Di sanalah para hakim tidak berkutik, dan hati nurani akan menjadi saksi baginya--saksi yang tak mungkin ingkar, bahkan kepada pemiliknya sendiri. >>


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.