Mengimplementasikan Tradisi Islam terhadap Budaya Pandhalungan - Travel - www.indonesiana.id
x

Ahmad Nafisal Mahfud

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 25 April 2021

Minggu, 25 April 2021 08:08 WIB

  • Travel
  • Berita Utama
  • Mengimplementasikan Tradisi Islam terhadap Budaya Pandhalungan


    Dibaca : 557 kali

    Pandhalungan berasal dari istilah jawa, yaitu dhalung yang berarti periuk besar (alat yang digunakan untuk menanak nasi, yang terbuat dari tanah atau logam). Arti dari pandhalungan itu sendiri adalah sebuah kawasan yang besar atau luas yang di dalamnya terdapat banyak kelompok etnik, yang dimana melahirkan kebudayaan baru yang diadopsi dari perkumpulan etnik atau suku budaya yang terdapat di daerah tersebut.

    Jikalau di Kota Jember sendiri, pandhalungan merupakan gabungan dari dua budaya yang berbeda, yaitu Jawa, dan Madura. Masyarakat Pandhalungan biasa disebut dengan masyarakat hibrida, yaitu masyarakat berbudaya baru akibat terjadinya percampuran budaya yang dominan. Budaya Pandhalungan ini, dapat kita temukan di daerah “tapal kuda”, di Provisi Jawa Timur, yaitu meliputi Kabupaten Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Jember, lumajang dan Banyuwangi.

    Dalam konteks geososio-kultural, masyarakat Pandalungan merupakan bagian dari masyarakat tapal kuda. Masyarakat tapal kuda adalah masyarakat yang bertempat tinggal di daerah tapal kuda, yakni suatu kawasan di Provinsi Jawa Timur yang membentuk lekukan mirip ladam atau kasut besi kaki kuda. Kawasan ini memiliki karakteristik tertentu dan telah lama menjadi kantong pendukung Islam kultural dan kaum abangan. Pendukung Islam kultural dimotori oleh para kiai dan ulama, sementara kaum abangan dimotori oleh tokoh-tokoh politik dan tokoh-tokoh yang tergabung dalam aliran kepercayaan. Kawasan Pandalungan yang telah secara jelas menunjukkan ciri-ciri budaya hibrida adalah wilayah pantai utara dan bagian timur Provinsi Jawa Timur. Pada umumnya, orang-orang pandalungan bekerja di sektor-sektor pertanian, perkebunan, perdagangan informal, dan PNS.

    Dilihat dari perilakunya sehari-hari, orang Pandalungan sangat menghargai perbedaan. Di kawasan ini hampir tidak pernah terjadi konflik antarkelompok etnik. Jika terjadi konflik, akar konflik lazimnya berupa kecemburuan sosial yang bernuansa pribumi dan nonpribumi, atau bernuansa keagamaan. Orang Pandalungan juga dikenal tidak suka basa-basi.Jika merasa tidak senang, mereka akan segera mengungkapkannya. Sebaliknya, jika merasa senang, mereka pun akan segera mengatakannya. Etika sosial, seperti tata krama, sopan-santun, atau budi pekerti orang Pandalungan berakar pada nilai-nilai yang diusung dari dua kebudayaan yang mewarnainya, yakni kebudayaan Jawa dan kebudayaan Madura. Dalam perkembangannya, budaya orang pandalungan sangat erat dengan nuansa Islam. Hal itu terjadi karena di wilayah ini ulama dan kiai bukan hanya menjadi tokoh panutan, melainkan juga tokoh yang memiliki akar kuat pada beberapa kekuatan politik.

    Budaya Pandhalungan tidak bisa terlepas dari budaya Madura, budaya Jawa, dan agama Islam. Ketiga unsur tersebut seakan menjadi bahan baku pada budaya Pandhalungan. Selain menghasilkan logat baru yang merupakan campuran antara bahasa Jawa dialek Arekan dengan bahasa Madura, kesenian yang tumbuh di wilayah tapal kuda pun terbilang unik. Budaya Pandhalungan sendiri, diisi oleh kesenian yang berkarakter Jawa dan Madura. Namun dengan dasar nilai-nilai agama Islam yang sangat kuat. Kebanyakan nilai atau makna dari kesenian Pandhalungan merupakan ungkapan syukur masyarakat atas hasil bumi dan laut yang telah diberikan oleh Tuhan, juga terdapat unsur sejarah yang pernah terjadi di wilayah Tapal Kuda.

    Produk-produk kesenian yang berkembang di wilayah Pandalungan merupakan produk-produk kesenian yang bernuansa agraris dan keagamaan (Islam). Selain sebagai ungkapan syukur masyarakat atas hasil bumi dan laut, produk-produk kesenian tersebut digunakan sebagai aspek-aspek keamanan dan kesejahteraan hidup petani. Berikut merupakan beberapa produk kesenian yang terdapat pada masyarakat budaya Pandhalungan:

    1. Musik Patrol

    Seni musik patrol merupakan jenis seni musik yang instrumennya terbuat dari bambu. Secara historis seni ini terinspirasi oleh kegiatan jaga malam yang dilakukan para peronda. Selain itu, musik patrol ini biasanya digunakan untuk membangunkan orang sahur pada saat bulan ramadhan. Iramanya sangat dinamik, dan jenis musik ini dipakai untuk mengiringi lagu-lagu tradisional Madura, Jawa, atau Banyuwangen.

    Dalam perkembangannya, para seniman musik patrol banyak melakukan modifikasi, baik pada perangkat instrumen maupun lagu-lagu yang dipilihnya. Bahkan, pada seni patrol jenis hiburan, lagu-lagu pop yang sedang favorit pun dibawakan. Meskipun telah dilakukan modifikasi dengan menambahkan alat musik modern untuk melengkapi iramanya, instrumen utamanya tetap menggunakan bambu sebagai bahan dasarnya. Instrumen-instrument tersebut antara lain krucilan (perangkat angklung), gong, dua buah bambu terikat dalam satu bentuk insrumen, dhung-dhung, kempul, dan seruling.

    2. Jaran Kencak

    Jaran kencak atau kuda kencak adalah kuda yang dilatih menari. Selain menari, kuda ini juga mengenakan aksesoris warna-warni. Hewan-hewan yang pandai menari ini biasa ditanggap untuk memeriahkan hajatan atau upacara-upacara tertentu.

    3. Can Macanan Kadduk

    Can macanan kadduk adalah tarian rakyat Jember yang merupakan produk masyarakat agraris Pandalungan. Tarian ini melambangkan keperkasaan harimau atau macan yang diposisikan sebagai hewan yang sangat ditakuti. Salah satu pewaris aktif mengatakan, bahwa pada awalnya tarian ini digunakan untuk menakut-nakuti atau mengusir penjahat yang akan mengganggu keamanan kampung.

    4. Kentrung

    Seni kentrung adalah pelantunan pantun Madura yang diiringi bunyi rebana atau terbang. Seni ini masih banyak dijumpai di daerah kebudayaan Madura di wilayah tapal kuda.

    5. Singo Ulung

    Singo ulung adalah tarian rakyat dari Kabupaten Bondowoso. Dalam legendanya, Singo Ulung merupakan gelar yang diberikan kepada seseorang yang bernama Juk Seng, bangsawan dari Blambangan yang suka mengembara. Dalam pengembaraannya ke arah barat, secara tidak sengaja memasuki hutan yang dipenuhi tumbuhan belimbing. Kedatangan Singo Ulung ke hutan belantara menarik perhatian Jasiman, seorang tokoh yang hidup di wilayah hutan tersebut. Jasiman terpanggil untuk menjajal kesaktian Singo Ulung. Keduanya terlibat pertarungan dan berusaha saling mengalahkan. Karena sama-sama sakti, pertarungan berjalan dengan seimbang. Akhirnya Juk Seng dan Jasiman bersahabat.

    6. Lengger

    Lengger adalah tarian rakyat yang mirip dengan tandhak yang dikenal dalam wilayah kebudayaan Jawa. Meskipun pada awalnya berupa tarian ritual yang terkait dengan mitos Dewi Kesuburan/Dewi Padi, kini tarian tersebut menjadi tari pergaulan yang bersifat menghibur. Lagu-lagu yang dibawakan penarinya adalah lagu-lagu tradisional berbahasa Madura.

    Di wilayah Pandhalungan, juga berkembang produk-produk kesenian yang bernuansa Islami, seperti hadrah, samroh, dan japin. Ketiga bentuk kesenian ini tumbuh dengan subur di masyarakat-masyarakat islam kultural, terutama di pesantren-pesantren. Karena keterbukaan dan sifat akomodatifnya, kemudian muncullah salah satu kantong budaya pandalungan, festival mode global yang dikenal dengan Jember Fashion Carnaval (JFC). Peringkat JFC cukup luas, bahkan mendunia. Saat JFC digelar, beratus-ratus model menapaki catwalk jalanan sepanjang 3,6 kilometer mulai dari pelataran kantor Pemkab Jember hingga Gedung Olah Raga (GOR) Jember. Dan lain sebagainya.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.