Di Olimpiade Tokyo FIFA akan Mencoba Aturan Baru Cabang Sepakbola - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi sepak bola. Gambar oleh Rub\xe9n Calvo dari Pixabay

Supartono JW

Pengamat
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 19 Juli 2021 15:21 WIB

  • Olah Raga
  • Berita Utama
  • Di Olimpiade Tokyo FIFA akan Mencoba Aturan Baru Cabang Sepakbola

    Semoga, pesta Olimpiade Tokyo, khususnya sepak bola berjalan lancar dan sukses. Tak ada  klaster corona baru dari Olimpiade. Semoga juga aturan baru FIFA yang masih diuji coba bisa dibakukan, bahkan diterapkan dalam Piala Dunia 2022 Qatar. Ini tentu akan sangat menarik karena akan membuat pertandinngan sepak bola jadi lebih agresif.

    Dibaca : 490 kali

    Pesta sepak bola di benua Eropa dan Amerika bari saja usai. Dua gelaran tersebut terbukti sangat menghibur publik dunia yang kini sama-sama merasakan pandemi corona. Selanjutnya, sebelum Piala Dunia 2022 di gelar, publik dunia juga akan disuguhi laga sepak bola sejagat di kancah Olimpiade Tokyo dan juga ada kabar bahwa FIFA juga sedang melakukan eksperiman untuk perubahan aturan permainan yang tujuannya tentu demi menambah kualitas pertandingan sepak bola.

    Sepak bola Olimpiade Tokyo 2020

    Untuk Olimpiade, kendati publik tak akan menyaksikan pemain kelas dunia berlaga seperti di Euro 2020 dan Copa America 2021 karena aturan batas usia pemain sepak bola tak melebihi usia 23 tahun, dan hanya boleh diperkuat oleh tambahan 3 pemain senior, gelaran sepak bola Olimpiade Tokyo tetap istimewa.

    Pasalnya, selain terselip 3 pemain senior di setiap tim yang tentu pemain senior tersebut pasti banyak yang dikenal publik, pemain lain pun juga banyak yang sudah bermain di level klub besar di dunia dan juga sudah menghuni timnas di negeranya. Sementara, bagi pemain lain di bawah usia 23 tahun yang belum terkenal menjadi ajang unjuk gigi sekaligus promosi diri, di luar tugas utama membawa negaranya meraih emas Olimpiade.

    Meski pelaksanaan Olimpiade ini membikin publik dan masyarakat Jepang was-was, namun Presiden Komite Olimpiade Internasional, Thomas Bach, menggaransi akan berjalan aman.

    Bahkan, Bach menyebut Olimpiade Tokyo yang dihelat mulai 23 Juli hingga 8 Agustus 2021, akan menjadi pertunjukkan solidaritas global di situasi pandemi corona.

    Selain itu, khusus cabang sepak bola, Total 28 negara dari enam konfederasi dunia akan bersaing memperebutkan medali Olimpiade untuk tim putra dan putri musim panas ini.

    Dari 28 negara itu terbagi, 16 tim putra. Untuk tim putra terdiri dari:
    Grup A
    Jepang, Afrika Selatan, Meksiko, Prancis
    Grup B
    Selandia Baru, Korea Selatan, Honduras, Romania
    Grup C
    Mesir, Spanyol, Argentina, Australia
    Grup D
    Brasil, Jerman, Pantai Gading, Arab Saudi

    Sementara untuk tim putri ditempati oleh
    Group E
    Jepang, Kanada, Inggris Raya, Chile
    Group F
    China, Brasil, Zambia, Belanda
    Group G
    Swedia, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru

    Dari daftar peserta itu, wakil Asia di Grup Putra terselip Jepang selaku tuan rumah, plus Korea Selatan, Australia, dan Arab Saudi. Sementara di tim putri terselip Jepang, China, dan Australia.

    Kita tunggu, kira-kira siapa bintang baru pesepak bola khususnya putra yang akan lahir dan bersinar di ajang sejagat ini. Dan, apakah tim putra dan putri wakil Asia bisa berjaya, terutama Jepang yang bertindak sebagai tuan rumah?

     Eksperimen aturan baru FIFA

    Di sisi lain, demi kualitas sepak bola, publik dunia juga wajib tahu bahwa FIFA juga sedang melakukan eksperimen aturan baru permainan sepak bola.

    Selama ini, seiring kemajuan dan perkembangan zaman, sejak olah raga sepak bola lahir, lalu diiringi oleh peraturan permainan, maka seluruh publik pecintanya, para praktisinya, pelakunya di seluruh pelosok dunia akan dengan mudah beradaptasi setelah paraturan perubahan atau baru diuji coba, disosialisasikan, hingga dipraktikkan dalam event resmi di seluruh belahan bumi.

    Terlebih, sepak bola sebagai olah raga terpopuler di planet bumi ini, dari sejarahnya, semua peraturan permainan dan update perubahannya, serta segala hiruk-pikuknya, sekarang sangat mudah diakses dan diikuti oleh setiap insan di zaman digital dan tidak ada yang sulit dalam praktiknya, meski ada perubahan-perubahan aturan permainan.

    Meski di tengah pandemi corona yang melanda jagat ini, hingga perkembangan terakhir, jelang Piala Dunia Qatar 2022, Benua Eropa dan Benua Amerika juga telah sukses menggelar pesta olah raga rakyat ini dengan peraturan yang sama. Perbedaan yang mencolok hanya dari sisi suporter yang bisa hadir di Stadion Piala Eropa, tetapi bisa dikatakan tanpa penonton di Stadion Piala America.

    Dari segi peraturan, Piala Eropa atau Euro  2020 yang baru terselenggara di 2021, lengkap menggunakan aturan permainan terbaru FIFA yang menyesuaikan kondisi Covid-19, tetapi di Piala America tak ada extra time.

    Untuk terus membikin sepak bola update,  ternyata dari evaluasi dan analisis yang dilakukan, ternyata FIFA sedang bereksperimen sekurangnya pada 5 peraturan permainan sepak bola yang wajib mengikuti perkembangan zaman dan menguntungkan semua pihak. Hal ini nampak dalam liputan berbagai media massa nasional pada Sabtu (18/7/2021).

    Ternyata sumber dari media massa tersebut mengutip laporan Mundo Deportivo, dari Sport Bible, bahwa tim U-19 dari PSV Eindhoven, AZ Alkmaar, RB Leipzig, dan Club Brugge terlibat dalam proyek eksperimen aturan baru FIFA ini.

    Kendati masih eksperimen dan masih jauh dari kepastian perubahan, namun tak pelak sudah jadi perbincangan hebat di kalangan publik dan praktisi sepak bola. Ada pro dan kontra yang sudah beredar di media sosial seiring munculnya ide eksperimen ini oleh FIFA, namun hal itu wajar. Namun, apakah kita akan menjadi bagian yang pro atau kontra, bila eksperimen ini akan diwujudkan sebagai peraturan baru?

    Coba kita simak dan timbang kelebihan dan kekurangan dari point-point aturan yang sedang diuji coba tersebut.

    Pertama,  satu babak menjadi 30 Menit. Tetapi saat bola keluar dan saat laga terhenti karena ada inseden pelanggaran dan lainnya, maka waktu dihentikan. Sehingga waktu 30 menit menjadi bersih seperti halnya di cabang basket. Wasit tidak lagi memegang kendali waktu. Jadi tidak ada kecurangan mengulur waktu dan lainnya. Tidak ada lagi waktu tambahan, yang selama ini menjadi biang ricuh. Ini jelas cerdas.

    Karenanya, di eksperimen peraturan kedua, waktu berhenti saat bola ke luar lapangan permainan. Peraturan yang sekarang masih berlaki, 45 menit waktu sepak bola adalah waktu 'kotor' karena detik terus berjalan ketika bola keluar atau ada pemain yang cedera. Lalu, ada kompensasi tambahan menit di masa injury time, yang rentangnya berkisar antara 1-5 menit, atau di atas lima menit bila ada insiden yang makan waktu lama.

    Ketiga, tak ada batas pergantian pemain. Selama ini pergantian pemain di sepak bola hanya tiga, menjadi lima ketika pandemi covid-19, dalam eksperimen ini disebutkan tidak ada batas pergantian pemain.

    Peraturan ini akan sangat bermanfaat bagi sepak bola dari akar rumput hingga timnas senior, karena kesempatan bermain dibuka sepenuhnya. Malah, klub yang punya kedalaman tim mumpuni bakal diuntungkan lantaran mereka bisa memainkan seluruh pemain berkualitas di skuatnya. Ini sesuai ilmu pedagog Roberto Mancini, semua pemain staeter, utama.

    Keempat, throw in diganti kick in. Artinya tidak ada lagi lemparan ke dalam dengan tangan. Bola ke luar dimulai dengan tendangan seperti halnya futsal.

    Aturan ini pun akan menarik, sebab memungkinkan tiap situasi bola keluar bakal jadi lebih berbahaya bagi tim lawan bila dibandingkan lemparan ke dalam.

    Kelima, hukuman lima menit untuk kartu kuning. Selama ini, kartu kuning adalah hukuman awal yang bisa berujung kartu merah andai sang pemain kembali melakukan pelanggaran keras.

    Selama ini, hukuman untuk kartu kuning juga berupa akumulasi dari beberapa pertandingan. Bila sang pemain sudah mendapat beberapa kartu kuning, barulah ia dilarang tampil di beberapa laga berikutnya.

    Dalam eksperimen, FIFA mencanangkan pemain yang terkena kartu kuning harus keluar lapangan selama lima menit. Setelah lima menit berlalu, barulah sang pemain bisa kembali masuk ke lapangan.

    Untuk aturan ini juga menarik. Sebab, selain pemain terhukum ke luar lapangan lima menit dan boleh bermain kembali. Tapi, saat ada pemain yang terkena kartu kuning, tim juga terhukum karena akan kurang jumlah pemain.

    Namun yang pasti, hukuman lima menit ke luar lapangan, efeknya akan sangat banyak bagi tim secara umum. Apalagi bila saat tim sedang kurang jumlah pemain karena sudah ada yang dihukum. Kemudian ada lagi yang kena kartu kuning. Maka di lapangan bisa terjadi laga 11 vs 10/9/8. Dan lain sebagainya.

    Rasanya dari lima eksperimen aturan FIFA, khusus untuk hukuman kartu kuning masih perlu dikaji mendalam di banding aturan waktu 30 menit dan waktu berhenti saat bola ke luar, tidak ada batas pergantian pemain, serta lemparan ke dalam di ganti kick-in.

    Semoga, pesta Olimpiade Tokyo, khususnya sepak bola berjalan lancar dan sukses, tak ada  klaster corona baru dari Olimpiade. Semoga juga aturan baru FIFA yang masih diuji coba bisa dibakukan, bahkan diterapkan dalam Piala Dunia 2022 Qatar, tentu akan sangat menarik, kecuali masalah hukuman lima menit kartu kuning.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.