Hoax dalam Wayang Jawa - Analisis - www.indonesiana.id
x

Karakter Punakawan. Wikipedia

Bambang Udoyono

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 3 Maret 2022

Jumat, 4 November 2022 07:17 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Hoax dalam Wayang Jawa

    Hoax sangat subur di jagad maya belakangan ini. Bagaimana dengan di dunia pewayangan? Adakah cerita hoax di dunia wayang? Sila baca tuntas.

    Dibaca : 1.204 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh: Bambang Udoyono, penulis buku

    Beberapa hari lalu seorang teman bertanya kepada saya, apakah dalam wayang ada juga penyebar hoax seperti sekarang? Saya langsung teringat pengalaman menonton wayang kulit di jaman Orba ketika masyarakat masih aman damai, belum terbelah dalam dua kubu seperti zaman now. Maka saya menjawab ada.  Inti ceritanya masih saya ingat tapi sayang saya lupa siapa dalangnya.  Saya hanya ingat kalau tidak Ki Timbul Hadiprayitno ya sepupunya Ki Hadi Sugito.  Sebenarnya ini bukan cerita inti tapi cerita sisipan yang muncul di babak goro-goro, yaitu munculnya para punokawan untuk menghibur. 

    Aslinya pertunjukan wayang kulit memakai bahasa Jawa. Di sini saya tuliskan dalam bahasa Indonesia agar menjangkau masyarakat yang luas. Rincinya dialog tentu saja saya lupa. Tapi intinya saya masih ingat. Jadi kira kira seperti berikut ini.

    Babak goro-goro itu diawali dengan munculnya Petruk.  Dia sendirian menari dan menyanyi diiringi gending (lagu).  Tidak lama kemudian muncul Gareng.  Selain bercanda, menari dan menari si Petruk mulai usil menebar cerita hoax.

    Petruk       : Reng, mau gak aku kasih tahu kabar penting?

    Gareng      : Kabar apa Truk? Soal negara aku sudah bosan.

    Petruk       : Bukan, ini soal saudara kita Bagong.  Ada perkembangan menarik soal dia.

    Gareng langsung tertarik.

    Gareng      :  Ada gosip apa ?  Apa Bagong punya pacar baru?

    Petruk       : Hus, bukan itu.  Tapi lebih menarik lagi.  Tahu gak kamu kalau Bagong sekarang punya ekor?

    Gareng      : Hah? Yang benar?

    Petruk       : Kalau kamu gak percaya, coba lain kali kalau ketemu Bagong lihat pantatnya.  Dia pasti akan menghindari.  Dia pasti gak mau kamu lihat pantatnya.

    Gareng      : Besok aku mau ketemu dia.  Coba aku lihat pantatnya tapi awas kalau kamu bohong.  Sekarang aku mau pergi dulu ya Truk. Sampai ketemu. 

    Setelah Gareng pergi tidak lama kemudian Bagong datang.  Dia lantas bercanda, bernyanyi bersama Petruk.  Petruk lalu menebar lagi kabar bohongnya.

    Petruk       : Gong, sudah dengar belum kabar menarik soal saudara kita Gareng?

    Bagong      :  Belum Truk, kabar apa?

    Petruk       : Tahu gak, Gareng itu sekarang hobbynya menggigit pantat!

    Bagong      : Hah! Yang benar!

    Petruk       : Benar.  Coba saja kalau kamu ketemu dia pasti dia melirik pantatmu. Hati hati, dia mau menggigit.

    Bagong      : Kenapa dia begitu?  Kok aneh?  Apa dia sudah gak waras?

    Petruk       :  Ya pokoknya kamu hati-hati saja.

    Esoknya ketika Bagong bertemu Gareng keduanya sudah saling curiga.  Gareng yang penasaran dengan cerita Petruk berusaha melirik pantat Bagong.  Sebaliknya Bagong yang sudah percaya dengan provokasi Petruk jadi curiga dengan gerak gerik Gareng yang terus melirik pantatnya.  Ketika Gareng melangkah ke sampingnya sambil melirik, Bagong lalu menggertak.

    Bagong      : Mau apa kamu!

    Gareng      : Gak apa apa.  Kenapa kamu marah?  Kenapa kamu sembunyikan pantatmu?

    Bagong      : Kenapa kamu mau melihat pantat orang?

    Keduanya lalu saling debat sehingga suasana makin tegang dan hati mereka semangkin panas. Hampir saja terjadi perkelahian antara keduanya.  Untunglah Semar kemudian datang dan mendamaikan.  Akhirnya mereka tahu bahwa semuanya gara gara provokasi Petruk.  Semar menasehati Petruk dan menyuruhnya meminta maaf pada keduanya dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan buruknya.  

    Demikianlah sanépan (perumpamaan) dari dunia pewayangan.  Agaknya para dalang sudah mewaspadai bahayanya hoax yang bisa memecah belah pertemanan dan bahkan persaudaraan.  Maka mereka sudah lama mewanti wanti agar semua pihak tidak termakan hoax dan jangan jadi penyebar hoax. Tebarkan saja amal kebaikan.

    Ikuti tulisan menarik Bambang Udoyono lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.