Dari Cilawu ke Chicago, Pengorbanan Kuliah Di Luar Negeri

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Ini adalah proses kami menjadi keluarga yang lebih tangguh. Seperti kutipan kata Napoleon Hill " Great Achievement is usually born of great sacrifice...".

True Love is Selfless. It is Prepared to Sacrifice.

Sadhu Vaswani

Great Achievement is usually born of great sacrifice, and is never the resukt of Selfishness.

Napoleon Hill

 

Melanjutkan sekolah dengan beasiswa luar negeri adalah salah satu impian saya sejak tsanawiyah. Bagi saya banyak sekali keuntungannya jika bisa keluar negeri. Selain karena itu adalah pengalaman yang bisa mengubah hidup, sekolah keluar negeri memberi kita kesempatan untuk belajar di sistem pendidikan yang lebih baik, bisa lebih fokus belajar dan mendapatkan pengalaman internasional.

Tahun ini alhamdulillah saya mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliah ke Ohio University untuk program Master of International Development Studies dengan beasiswa Fulbright. Pada awalnya saya juga tidak menyangka bisa lolos karena beasiswa Fulbright sangat prestius dan seleksinya sangat ketat.

Namun meski sudah lolos beasiswa saya sempat mengalami dilema. Kuliah di luar negeri berarti saya harus meninggalkan keluarga dalam jangka waktu yang cukup lama. Setidaknya satu tahun, bahkan bisa jadi dua tahun selama saya menyelesaikan studi disana. Sementara istri saya bulan lalu baru saja melahirkan bayi kembar. 

"Kamu Tega ya?", begitu kira-kira kata-kata yang sering keluar dari orang-orang saat tahu saya akan berangkat kuliah ke Amerika Serikat. Mungkin ada dari mereka yang menyangka saya suami yang yang tidak sensitif dan tak berperasaan. Mengurus satu anak saja sudah merupakan tanggung jawab yang berat apalagi jika harus mengurus dua bayi kembar dan ditinggal sendrian jauh beribu kilometer jaraknya. Sudah terbayang berat sekali.

Jika ditanya perasaan, tentu tidak ada satupun suami yang tega meninggalkan istri mengurus dua bayi kembar sendirian. Kecuali jika ia punya niat untuk meninggalkan keluarga apapun alasannya.

Banyak yang 'menggoda' untuk mempertimbangkan keberangkatan saya ke AS. Apalagi skema beasiswa tidak menanggung keluarga yang akan ikut serta ke AS. Jika tidak ada komunikasi yang produktif urusan seperti ini bisa jadi berdampak ke pada keharmonisan keluarga.

Super Woman

Beruntung sekali, saya punya keluarga yang sangat suportif dan istri yang begitu tegar dan independen. Istri saya adalah salah satu wanita tangguh yang saya kenal sejauh ini. Karenanya meskipun akan berat saya tingga selama studi, istri saya lah yang paling tegar mendorong dan memberi restu saya untuk segera berangkat ke Amerika.   

Saya ingat, saat sudah dinyatakan lolos tahap wawancara beasiswa Fulbright dan istri sudah memasuki bulan ketiga kehamilannya saya bertanya apakah proses ini bisa saya lanjutkan? Istri saya dengan mantap menjawab "Maju terus, pantang mundur, ini adalah kesempatan baik, buat masa depan kita sekeluarga!!". Begitu pula saat usia kehamilannya masuk usia 8 bulan dan mulai banyak orang  yang 'baper' bahkan cenderung mendemotivasi, istri saya tetap tegar mendukung saya berangkat.

Di bulan-bulan terakhir sebelum berangkat inilah beberapa kali ia mengingatkan saya untuk meluruskan niat bahwa beasiswa ini dikejar untuk saya bisa belajar secara serius. Berangkatlah dengan tenang agar fokus menuntut ilmu, begitu kira-kira pinta istri. Jangan sampai sudah berkorban jauh dari keluarga tapi pulang dengan tangan hampa.

Di sela-sela program orientasi persiapan kuliah di Northern Illinois University, dan insomnia berat karena jetlag saya menyempatkan diri membuatkan video proses keberangkatan saya ke Amerika Serikat. Video ini adalah tribute untuk wanita super yang sudah mendampingi saya selama 7 tahun ini.

Terima kasih atas pengertian dan ketegarannya. Tentu semua proses ini akan ada hikmah dan pelajaran yang membuat kami menjadi keluarga yang lebih tangguh. Seperti kutipan dari Napoleon Hill dan Sadhu Vaswani diatas, ini adalah ujian cinta dan ketabahan untuk sesuatu yang terbaik di masa depan.

Mohon doa semoga proses belajar saya disini diberikan kelancaran dan bisa pulang dengan ilmu yang bermanfaat. Amin.

Selamat menonton...

Bagikan Artikel Ini
img-content
Deni Wahyudi Kurniawan

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler