Cerita Komisioner KPAI Turun Langsung Mengawasi Aksi Pelajar (Bagian I) - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

KPAI

Retno Listyarti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 6 Oktober 2019 20:48 WIB
  • Peristiwa
  • Pilihan
  • Cerita Komisioner KPAI Turun Langsung Mengawasi Aksi Pelajar (Bagian I)

    Dibaca : 116 kali

    Pada Rabu (25/9) mulai pukul 14 wib, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menerima pengaduan masyarakat terkait aksi demo para pelajar SMK melalui aplikasi whatsApp dan media social karena situs resmi KPAI sejak rabu pagi dalam keadaan di hack sehingga tidak bisa melayani pengaduan online.Pengaduan yang dikirimkan ke KPAI terdiri atas poster seruan-seruan aksi untuk pelajar STM (bukan SMK), foto dan video-video yang menunjukkan anak-anak sekolah tersebut bergerak, mulai dari menaiki truk, bus transjakarta sampai KRL dengan titik naik di Bekasi dan Depok. Namun menjelang sore ada foto-foto yang menunjukkan pergerakan anak-anak yang turun di stasiun Palmerah dan Manggarai.

    Atas semua laporan tersebut, saya berinisiatif untuk mengontak beberapa pejabat Kemdikbud RI dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat yang saya kenal. Kebetulan saya adalah salah satu Komisioner KPAI yang menangani isu pendidikan. Saya mencoba mengajak para pejabat tersebut untuk bersedia membuat edaran singkat yang ditujukan kepada para kepala sekolah di wilayahnya yang peserta didiknya di duga bergerak menuju DPR RI untuk mengikuti aksi demo pelajar. Edaran tersebut akan dikirimkan ke grup whatsApp MKKS (Musyawarah Kerja Kepala Sekolah).

    Isi edaran yang dimaksud adalah memerintahkan kepada kepala sekolah agar segera berkoordinasi dengan para wali kelas di sekolahnya untuk menghubungi para orangtua di kelasnya agar memastikan keberadaan anak-anaknya. Kalau ada anak yang belum pulang sore itu, maka para orangtua dihimbau untuk segera mengontak anaknya. Jika anaknya terdeteksi berada di sekitar DPR maka diminta untuk segera meninggal lokasi sebelum rusuh dan anak-anaknya menjadi korban.

    KPAI

    Memastikan anak-anak darimana saja yang bergerak ke Jakarta juga mudah dideteksi dengan pesan berantai tersebut, karena tidak lama kemudian para kepala sekolah segera mengetahui bahwa ada anak didik di sekolahnya yang bergerak ke gedung DPR RI, meski tidak banyak dalam satu sekolah, namun memberikan gambaran kepada kita semua bahwa aksi demo di depan gedung DPR RI pada Rabu, 25 September 2019 benar diikuti oleh para pelajar SMA dan SMK di wilayah Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

    KPAI dan Kemdikbud Menuju Penjompongan

    Usai sholat maghrib di kantor KPAI, saya langsung menuju gedung Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI untuk menemui pejabat yang masih ada di kanto untuk saya ajak serta melakukan pengawasan langsung ke Pejompongan tempat peserta aksi demo pelajar di pukul mundur aparat kepolisian. Saat itu saya sudah mendapatkan beberapa telepon yang melaporkan bahwa banyak pelajar yang menjadi peserta aksi demo mengalami luka-luka di depan BNI Pejompongan.

    Namun, ternyata malam itu kondisi jalan menuju Pejompongan macet, padat pejalan kaki dan sulit dilalui kendaraan roda empat. Kendaraan yang ditumpangi saya dan para pejabat Kemdikbud berjalan perlahan, dan saat memasuki wilayah Bendungan Hilir mobil semakin perlahan karena banyaknya anak-anak peserta aksi yang berjalan kaki secara berombongan hingga ke badan jalan. Sulit bagi Kami menembus lokasi-lokasi titik massa berkumpul atau berlari menyelamatkan diri setelah aparat kepolisian menembakan gas air mata kearah para demonstran yang diduga mayoritas masih berusia anak.

    Terlihat di kiri kanan jalan para pelajar yang berjalan kaki berbondong-bondong kearah Bendungan Hilir dan ambulance-ambulance yang hilir mudik membawa korban ke RS AL Mintoharjo. Karena tidak mungkin menembus Pejompongan, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi RS AL Mintoharjo tempat para korban aksi demo pelajar di bawa untuk mendapakan pelayanan medis.

    Bertemu Anak Korban di RS AL Mintoharjo

    Setibanya di RS AL Mintoharjo, KPAI dan Kemdikbud langsung menuju IGD (Instalasi Gawat Darurat), secara kebetulan Direktur RS AL Mintoharjo, Bapak Wiweka. Sedang berada di IGD sehingga kami bisa langsung berbincang seputar korban yang di bawa ke IGD RS Mintoharjo. Menurut Direktur RS, korban mulai berdatangan selepas maghrib, Korban dibawa dengan ambulance hampir setiap 15 menit. Selama berada di RS, saya juga menyaksikan ambulance yang terus datang mengantar korban.

    Saat saya tiba di RS sekitar pukul 21.00 wib, korban yang ditangani berjumlah 24 orang yang semuanya usia anak, dan menjelang pagi korban sudah mencapai 164 orang. Kami diijinkan pihak RS menemui anak-anak yang sudah mendapatkan perawatan medis dengan luka ringan dan sedang yang ditempatkan di ruang transit. Ruangannya sangat luas, bersih dan berpendingin udara sehingga nyaman untuk anak-anak korban beristirahat dan mengobrol ringan dengan kami. Anak-anak korban ditempatkan di tempat tidur lipat yang diletakan berjejer ke samping. Saya hitung ada sekitar 16 bed, namun yang ditempati baru 14.

    Saat itu, korban termuda yang diajak berbincang oleh saya berusia 16 tahun dan yang bersangkutan mengalami patah tulang lengan sehingga dirujuk untuk operasi. Korban masih duduk di bangku SMP di Jakarta Selatan. Kepada saya, korban terus menyatakan ingin pulang dan tidak mau menjalani operasi besok pagi. Ketika saya Tanya mengapa? Dia menceritakan bahwa ibunya tidak akan mampu membayar biaya RS, karena sang ibu hanya tukang cuci. Lalu saya tenangkan dan jelaskan, bahwa seluruh biaya operasinya nanti akan ditanggung oleh Pemprov DKI Jakarta. Sang anak agak tenang dan kemudian dengan handphonenya mencoba menghubungi ibunya melalui nomor kawannya yang tinggal dekat rumahnya.

    Anak-anak korban menyatakan megalami luka karena terjatuh saat di tembakan gas airmata, pingsan karena kelelahan dan belum makan dari siang, ada yang pinsan karena dehidrasi kekurangan minum diterik matahari siang itu, dan juga ada korban-korban luka karena diduga akibat pukulan aparat. Bahkan ada satu anak dengan luka lebam di sekujur tubuh dan mata kanan bengkak yang menurut pengakuannya diduga di pukul aparat sekitar 10 orang ketika ybs terpisah dari rombongan saat kondisi kocar kacir karena massa aksi di tembakan bertubi-tubi dengan gas air mata

    Mengikuti Ajakan Media Sosial Untuk Ikut Aksi

    Korban yang dilarikan ke RS Mintoharjo ternyata tidak hanya anak SMK (dalam ajakan medsos disebut STM), tetapi juga siswa SMA dan SMP. Bahkan korban patah tulang lengan yang akan menjalani operasi adalah siswa SMP. Yang bersangkutan diajak teman mainnya di rumah (bukan satu sekolah) untuk aksi di DPR bahkan diminta membolos sekolah hari itu, anak ini masih SMP dan yang mengajak siswa SMA.

    Anak-anak korban mengaku ikut demo karena ajakan dari media social, seperti instagram dan aplikasi WA. Namun ada anak korban yang tidak tahu diajak untuk demo kawan sekolahnya, tahunya dia diajak jalan-jalan ke pusat kota, nanti dapat makan dan minum. Para korban juga menyatakan bergerak ikut aksi adalah atas kemauanya sendiri dan tidak ada pihak yang mengiming-imingi uang.

    Saya juga berbincang dengan seorang anak SMPN di Jakarta Pusat yang rumahnya dekat lokasi rusuh aksi demo pelajar, dia menjadi korban gas air mata juga karena menunggu di jemput ayahnya sepulang sekolah. Ternyata ayahnya lupa menjemput dan sang anak memutuskan mengikuti teman-temannya menonton aksi demo pelajar usai pulang sekolah itu. Anak-anak SMP tersebut mengaku pulang sekolah lebih awal dari biasanya karena di sekolah sedang ada PTS (penilaian tengah semester) semacam UTS, kebetulan para siswa SMP ini masuk sekolah siang hari atau sistem 2 shift. Anak-anak tersebut mengaku bergerak ke DPR dengan berjalan kaki beramai-ramai untuk menonton kakak-kakak SMK dan SMA aksi demo, hanya ingin tahu saja.

    Saya juga bertemu dengan beberapa orangtua anak-anak korban karena dikontak pihak rumah sakit atau relawan. Saya juga bertemu dengan beberapa orangtua yang tidak dikontak RS, namun inisiatif mencari anak-anaknya di RS. Para orangtua tersebut sangat kebingungan mencari anak-anaknya karena belum pulang ke rumah, sementara handphone nya tidak aktif.

    Ada orangtua yang mengaku mencari anaknya ke RS Mintoharjo setelah menerima WA wali kelas di grup para orangtua dan baru menyadari anaknya tidak berada di rumah dan kemungkinan ikut aksi. Kepanikan para orangtua terlihat nyata dan mereka telah mencoba mendatangi beberapa RS. Himbauan pengecekan keberadaan anak melalui kepala-kepala Dinas Pendidikan yang dilakukan KPAI berarti cukup efektif. Anak-anak itu ternyata merahasiakan rencana aksi mereka kepada para orangtuanya;

    Malam itu, saya juga bertemu dengan para relawan dan mendapatkan informasi masih ratusan anak terjebak di kolong jembatan tol Slipi dan Tomang, juga banyak korban tergelatak di depan kantor BNI Pejompongan. Namun, saya katakan bahwa saya tidak bisa menembus lokasi yang dimaksud relawan tersebut.

    Hingga tengah malam, ambulance terus membawa korban anak-anak ke RS. Selama beberapa jam berada di RS AL Mintoharjo, saya menyaksikan sendiri setiap 15 menit masuk ambulance sampai jumlahnya menurut pihak RS Mintoharjo adalah 164 orang.

    Jelang pukul 24, saya memutuskan meninggalkan RS untuk pulang ke rumah. Mobil yang saya naiki melewati jalan Sudirman menuju Bundaharan HI. Sepanjang jalan saya masih melihat beberapa anak dalam kelompok kecil berjalan kaki dan ada kelompok anak sekitar 20 orang duduk di trotoar di bawah jembatan fly over Casablanca. Setelah melewati bundaran HI, saya sudah tidak melihat ada anak usia pelajar SMA/SMK di jalanan.

    Jakarta, 26 September 2019
    Penulis adalah Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.