Cerita Komisioner KPAI Mengikuti Aksi Pelajar Pasca-Pembubaran Demonstrasi (Bagian 3) - Viral - www.indonesiana.id
x

Komisioner KPAI dki RS AL Mintoharjo, Jakarta. Foto: Istimewa

Retno Listyarti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 7 Oktober 2019 09:17 WIB
  • Viral
  • Berita Utama
  • Cerita Komisioner KPAI Mengikuti Aksi Pelajar Pasca-Pembubaran Demonstrasi (Bagian 3)

    Dibaca : 272 kali

    Pada Senin malam (30/9) Komisioner KPAI, Retno Listyarti mendapatkan laporan melalui aplikasi WhasApp, bahwa di belakang gedung DPR RI, Palmerah dan Slipi kondisi aksi rusuh. Didiuga kuat bahwa ada demonstran pelajar juga yang terlibat dalam aksi saling serang dengan aparat.

    Aparat kepolisian berusaha membubarkan massa aksi karena sudah pukul 18.00 wib, sudah melampaui waktu aksi. Diinformasikan juga oleh dua pengadu bahwa banyak korban anak dan belum ada ambulance maupun tenaga medis di sekitar lokasi rusuh tersebut. Korban untuk sementara ditempatkan di masjid di wilayah Palmerah. 

    Saat menerima pengaduan masyarakat tersebut, posisi  saya masih di kantor KPAI, Saya mencoba menelepon 112 dan 119, meskipun sulit karena seperti sibuk namun akhirnya terhubung juga dan mendapat penjelasan bahwa ambulance Pemprov DKI Jakarta sudah berada di sekitar lokasi aksi. 

    Usai sholat maghrib saya memutuskan ke Pejompongan, lokasi dimana para demonstran yang terpukul mundur, berada di sekitar Pejumpongan dan Benhil. Saya juga akan ke  Rumah sakit AL Mintoharjo tempat korban paling banyak dibawa oleh ambulance karena posisi terdekat kosentrasi massa aksi. 

    Sebelumnya sejak Senin pagi (30/9) saya sudah mendapatkan sejumlah laporan dari masyarakat melalui aplikasi whatsApp bahwa ada undangan aksi demo melalui media sosial yang melibatkan pelajar, bahkan juga beredar 119 sekolah yang siswanya  diduga kuat ada yang akan ikut aksi demo. Atas info tersebut, KPAI melakukan pengawasan langsung ke beberapa stasiun di Jakarta yang menjadi titik turun para pelajar tersebut.

    Menyusuri  Pejompongan dan Bendungan Hilir 

    Usai sholat manghrib, dengan menggunakan mobil plat merah, saya  menyusuri jalan menunju Pejompongan, setibanya di lampu merah dekat TPU Karet, saya menyaksikan massa pelajar menaiki kendaraan bak terbuka yang lewat. Ada sekitar 2 kendaraan bak terbuka ukuran kecil disesaki oleh massa aksi yang ingin pulang ke rumah. Dari pengamatan saya, mayoritas adalah pelajar, karena beberapa anak mengenakan celana panjang putih dan abu-abu namun menggunakan jaket.

    Begitu mobil melewat TPU Karet, maka sepanjang kiri kanan jalan tampak massa aksi berjalan kaki dan ada yang berkumpul secara terpisah. KPAI juga menyaksikan deretan kendaraan roda dua milik massa aksi di parkir di beberapa lokasi di sepanjang jalan. Saat akan berbelok ke arah Bendungan Hilir, mobil mulai sulit lewat karena jalan raya di penuhi oleh massa aksi. 

    Dari pengamatan langsung, saya melihat peserta aksi di dominasi oleh mahasiswa, hal tersebut terlihat dari jaket-jaket almamater yang mereka kenakan. Beragam warna jaket. Mobil harus jalan perlahan karena kiri kanan jalan digunakan  berjalan kaki dan memarkir motor para peserta aksi. Selain itu, Kami juga harus mendahulukan ambulance yang mulai hilir mudik disertai bunyi sirene, ambulance tersebut menuju RS AL Mintoharjo.

    Di trotoar jalan nampak sekelompok kecil massa membantu rekan-rekannya yang terluka sambil menunggu ambulance. Beberapa bahkan nekat membonceng korban ke RS dengan menggunakan kendaraan roda dua agar rekannya segera mendapat pertolongan. Massa saat itu tampak terkendali, bahkan beberapa mahasiswa membantu mengatur jalan agar lalu lintas dapat dilalui kendaraan umum maupun ambulance. 

    Saat tiba di daerah Bendungan Hilir, searah jalan yang menuju  RS Mintoharjo, saya bertemu dengan sekitar 50 anak pelajar yang kelihatan kebingungan. Ketika kami bertanya mereka mau kemana, anak-anak tersebut menjawab ingin ke stasiun kereta api terdekat, karena mereka ingin pulang ke rumahnya di Bogor dan Sukabumi (Jawa Barat). Anak-anak tampak terlihat lelah. Setelah diberi petunjuk lokasi stasiun terdekat yang aman bagi mereka, anak-anak tersebut melanjutkan perjalanan. Saya kemudian melanjutkan perjalanan ke RS Mintoharjo.

    Bertemu Korban Terluka di RS AL Mintoharjo

    Setiba di halaman RS, KPAI mencoba mengontak Direktur RS AL Mintoharjo, Bapak Wiweka, karena sebelum berangkat kami sudah saling berkomunikasi. Sambil menunggu bertemu Direktur RS AL tersebut, KPAI menemui beberapa massa aksi demo yang sudah mendapat pertolongan medis karena gas air mata. Ada mahasiswa dan pelajar yang saat itu sedang memulihkan diri pasca terkena gas air mata. “Bahkan saat saya mengobrol dengan mereka, saya ikut merasakan panas pada mata, rupanya radiasi dari tubuh korban mengenai saya juga, karena posisi kami yang berdekatan,” kisah Retno. 

    Saat berada di RS Mintoharjo, KPAI mencoba mencatat kedatangan ambulance, diperoleh data sebagi berikut: ambulance pertama yang KPAI catat setelah KPAI  tiba di RS yaitu pukul 20.13 wib, selanjutnya datang ambulance dengan selisih waktu antara 4 sampai 10 menit. Saat pukul 21.17 wib, KPAI mencatat masuk 12 ambulance, 1 mobil avanza dan 1 kendaraan roda dua yang mengantar korban pelajar dan mahasiswa ke RS Mintoharjo. 

    Saat bertemu dengan Direktur RS,KPAI mendapatkan penjelasan bahwa para korban baru tiba di RS AL setelah pukul 18,00 wib. Hingga pukul 20.48 wib saat KPAI meminta keterangan, pihak RS menyatakan sudah masuk 87 pasien korban aksi. Korban terdiri dari pelajar dan mahasiswa. Pasien termuda adalah anak usia 15 tahun yang terkena gas air mata. Korban rata-rata luka ringan dan sedang. Yang agak berat adalah yang mengalami trauma pada mata akibat gas airmata, terus keluar air dimatanya; juga ada pasien dengan luka benturan pada kepala yang mulai membengkak.

    Saya meningalkan RS sekitar pukul 22.30 WIB dan sebelumnya sempat ngobrol dengan beberapa tenaga medis yang ambulance-nya terparkir di RS AL Mintoharjo, mereka sedang berkonsolidasi untuk menuju Palmerah, jembatan Slipi dan Permata Hijau, karena sebelumnya mereka tidak tahu posisi korban di mana saja. Kaena KPAI juga mendapatkan laporan posisi korban di salah satu masjid di wilayah Palmerah, maka kami menginfokan hal tersebut. Tiga ambulance tersebut kemudian bergerak meninggalkan RS AL menuju lokasi korban. 

    Jakarta, 1 Oktober 2019

    *Penulis adalah Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.121 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).