Cerita Komisioner KPAI Mengikuti Aksi Massa di Stasiun Manggarai, Tanah Abang, Karet, dan Palmerah (Bagian 2) - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

kpai

Retno Listyarti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Minggu, 6 Oktober 2019 20:59 WIB
  • Peristiwa
  • Pilihan
  • Cerita Komisioner KPAI Mengikuti Aksi Massa di Stasiun Manggarai, Tanah Abang, Karet, dan Palmerah (Bagian 2)

    Dibaca : 146 kali

    Meskipun berbagai pihak, yaitu Kemdikbud RI, Kepala-Kepala Dinas Pendidikan, Kepala-kepala Sekolah, para wali kelas, dan para orangtua siswa sudah melakukan upaya antisipasi aksi pelajar pada 30 September 2019 ini, bahkan aparat kepolisian dan TNI di beberapa wilayah juga sudah berusaha mencegah anak-anak pelajar menuju Jakarta di berbagai stasiun maupun jalan raya dimana ditemukan pergerakan massa pelajar secara berkelompok menaiki Kerta api, bus dan truk. Namun, anak-anak pelajar ini nampaknya tidak kehilangan akal, dengan berbagai cara tetap saja ada yang berhasil lolos menuju gedung DPR RI, tempat aksi demo berlangsung.

    Imbauan Mendikbud RI tentang pencegahan keterlibatan peserta didik dalam aksi unjuk rasa yang berpotensi kekerasan juga direspon baik oleh sejumlah besar kepala-kepala Dinas Pendidikan, diantaranya Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat, bahkan sejumlah kepala Dinas Pendidikan kota/kabupaten juga, misalnya Kepala Dinas pendidikan kabupaten Ciamis. Namun, para pelajar dari berbagai daerah di Jabodetabek, tetap saja berupaya menuju ke gedung DPR RI.

    Polisi Belikan Minum Pelajar Sampai Menyediakan Angkot untuk Pulang

    Berdasarkan hasil pantauan tersebut, maka KPAI melakukan koordinasi dengan pihak kepolisian setrempat untuk mengajak dialog para pelajar yang berada di dekat stasiun kereta api atau yang menuju ke Jakarta dengan menggunakan transportasi lain.

    Sepanjang pengawasan KPAI di sejumlah daerah melalui pantauan media massa, pihak kepolisian di berbagai wilayah patut diapresiasi. Misalnya, puluhan pelajar yang bergerombol di dekat stasiun Palmerah diajak berdialog dan diminta ingat orangtuanya dan dihimbau pulang ke rumah. Puluhan pelajar tersebut akhirnya memutuskan pulang.

    Puluhan pelajar yang berada di stasiun Rawabuntu Tangerang Selatan (Tangsel) juga diamankan dengan cara sangat simpatik dan ramah anak oleh Kapolsek Serpong, Kompol Stephanus Luckyto Andri Wicaksono. Sang Kapolsek maju sendirian menghampiri kerumuman anak-anak dengan melambaikan tangan. ANak-anak yang sudah siap dengan batu dan kayu akhirnya menjatuhkan batu dan kayu, kemudian duduk berdialog. Kapolsek meminta anak buahnya membelikan beberapa dus air mineral untuk dibagikan ke para pelajar tersebut. Setelah diberikan pemahaman bahaya ikut aksi ke Jakarta, anak-anak itupun akhirnya ingin pulang. Pihak kepolisan menyiapkan mobil mengantar anak-anak tersebut, bahkan menyewa 2 angkot.

    Polres Tangerang Selatan dan sejumlah Polsek di wilayah Tangsel juga melakukan patrol dan berhasil mencegah pergerakan sebagian massa pelajar yang menuju Jakarta.

    Tim gabungan (terdiri dari pihak sekolah, polisi dan TNI) di kabupaten Ciamis juga terbukti berhasil mencegah massa pelajar ke Jakarta untuk aksi di DPR. Tim gabungan menggelar patroli di jalanan perkotaan cegah pelajar Ciamis ikut aksi. Surat imbauan Kadisdik kabupaten Ciamis juga sudah disampaikan kepada seluruh kepala sekolah. Patroli ini berhasil mencegah massa pelajar berangkat ke Jakarta.

    Membubuti Pergerakan Massa Pelajar di Stasiun

    Pergerakan massa pelajar tersebut berhasil saya ikuti dari pengawasan di beberapa stasiun yang menjadi titik turun massa peserta aksi, yaitu yang menggunakan moda transportasi Kereta Api. Mereka terpantau mulai pukul 12-16 wib dari pengawasan KPAI di stasiun Manggarai, stasiun Tanah Abang, Karet dan Palmerah.

    Di stasiun Manggarai pergerakan massa pelajar terlihat dalam kelompok-kelompok kecil namun jumlahnya cukup banyak. Dari percakapan anak-anak tersebut, mereka ada yang naik dari Bekasi dan ada yang naik dari Depok dan Citayam.

    Saya didampingi asisten mengikuti pergerakan anak-anak tersebut dari stasiun Manggarai, ternyata mereka menaiki kereta menuju Tanah Abang. Dari stasiun Tanah Abang, ternyata anak-anak tersebut menuju stasiun Palmerah. Setiba di stasiun Palmerah ternyata penuh petugas keamanan dan sulit keluar stasiun. Mereka akhirnya naik kereta lagi menuju stasiun Karet. Setiba di stasiun Karet, ternyata penuh sesak, sebagian keluar dan berjalan kaki menuju gedung DPR dan sebagian lagi memutuskan naik kereta lagi dan dari percakapannya ingin kembali ke rumah;

    Saat pemantauan di stasiun Manggarai, anak-anak yang diduga akan hadir dalam aksi demo ke DPR rata-rata menggunakan celana panjang abu-abu dengan atasan kaos yang ditutup dengan sweater atau jaket, ada juga yang berseragam putih-putih dan abu-abu putih. Penggunaan jaket oleh massa pelajar ini, tampaknya untuk menutupi seragam sekolahnya. Namun uniknya, kebanyakan para pelajar itu tidak membawa tas, hanya handphone yang terlihat mereka bawa, bahkan air mineral pun tidak tampak mereka bawa. Jarang juga yang menggunakan topi.

    Para pelajar yang akan aksi nampaknya mempelajari situasi dan kondisi kalau berseragam akan dikenali dan dihentikan aparat, maka mereka mengganti pakaian atasnya dengan kaos atau jaket sebagai upaya mengelabui aparat. Celana panjang dan sepatunya tetap dikenakan sesuai seragam sekolah pada umumnya. Para pelajar juga bersiasat menjadi kelompok kecil 1-5 orang agar tidak mendapatkan hambatan ketika pindah kereta atau keluar dari stasiun. Namun, kalau dengan seksama diamati, mereka tetap dapat dikenali sebagai pelajar;

    Para pelajar tersebut juga menunjukkan sikap menutup diri, atau mereka akan pindah posisi berdiri kalau terlihat ada yang mau mengambil gambar, yang tampak memperhatikan gerak gerik mereka atau mau mengajak bicara mereka.

    Saya merasakan betapa gigihnya para pelajar ini untuk ikut aksi demo di DPR. Mereka melakukan segala cara untuk bisa ikut aksi. Sangat terlihat bahwa mereka bergerak atas kemauan sendiri, tak punya uang memadai, tak membawa bekal apapun, hanya bermodal rasa ingin tahu, keberanian dan nekat.

    Jakarta, 30 September 2019
    *Penulis adalah Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.