Biografi KH. Mukhyiddin (Mama Pagelaran ) Pendiri Pesantren Pagelaran Sumedang - Pilihan Editor - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi tangan seorang kyai

Oky Nugraha Putra

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 1 Agustus 2022 18:00 WIB

  • Pilihan Editor
  • Topik Utama
  • Biografi KH. Mukhyiddin (Mama Pagelaran ) Pendiri Pesantren Pagelaran Sumedang

    Artikel ini merupakan biografi dari KH. Mukhyiddin Mama Pagelaran, Sumedang.

    Dibaca : 412 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Pesantren menjadi salah satu gen kelahiran bangsa Indonesia. Kehadiran pesantren tidak bisa dilepaskan dari sosok kyai yang menjadi patron di institusi keagamaan tersebut. Pesantren Pagelaran yang sekarang tersebar di Sumedang, Subang, dan Purwakarta punya sosok KH. Mukhyiddin yang hidup dari akhir abad ke 19 hingga paruh kedua abad 20 sebagai master of mind yang juga memiliki peran penting dalam perang mempertahankan kemerdekaan di masa Revolusi Fisik.

    Lahir di Kampung Koromoy, Banyuresmi, Kabupaten Garut pada sekitar tahun 1880 M, nasab KH. Mukhyiddin hanya diketahui sampai kakeknya saja yang bernama Eyang Muhammad (Lubis, 2016: 1). Kenapa KH. Mukhyiddin nasabnya hanya diketahui sampai kakeknya saja? Menurut informasi salah satu keturunannya, beliau tidak ingin garis keturunannya dikultuskan sehingga membakar informasi silsilah keluarganya sendiri ke atas. Akhirnya, yang diketahui garis keturunan KH. Mukhyiddin hanya dari sang kakek ke bawah saja.

    Semasa kecil, KH. Mukhyiddin dipanggil dengan sebutan kesayangan Aceng Uca. Di masa remaja, dia menimba ilmu keagamaan di salah satu pesantren berlokasi di Cianjur bernama Pagelaran. Hal yang mana nantinya menjadi salah satu versi sejarah bahwa nama pesantren yang didirikannya ini mengacu kepada nama pesantren tempat dia belajar dulu semasa muda di Cianjur. Selesai menimba ilmu di pesantren, Mukhyiddin muda pun pulang ke Garut.

    Bupati Sumedang saat itu, R. Aria Soeriaatmadja atau Pangeran Mekah (1883-1919) meminta kepada koleganya bupati Garut R. Adipati Wiratanu Datar VIII (1871-1915) untuk dikirimkan seorang ulama ke sana dengan maksud mengajarkan dan menyebarkan agama Islam di bumi Cadas Pangeran (Kusdiana, 2016: 3). Ketika ditempatkan di daerah Cimalaka, Sumedang, Mukhyiddin mendirikan pesantren yang nantinya dikenal dengan nama Pesantren Pakacangan.

    Tahun 1920, Mukhyiddin pindah tempat dari Cimalaka ke Tanjungsiang, Sumedang. Di tempat inilah, dirinya mendirikan pesantren yang nantinya namanya dinisbatkan kepadanya sebagai “Mama Pagelaran”. Setelah lebih dari seperempat abad bermukim mengajar di sana, Mukhyiddin kembali berpindah tempat ke daerah Kauman, Sumedang dan mendirikan Pesantren Pagelaran II di dekade 1950-an.

    10 tahun kemudian, di awal tahun 1960, Mukhyiddin kembali hijrah. Kali ini ke Desa Gardusayang, Kecamatan Cisalak, Kabupaten Subang. Di sana dia mendirikan Pesantren Pagelaran III. Selain untuk membuat institusi pendidikan keagamaan, di sana juga didirikan pesantren sebagai langkah antisipasi membendung penyebaran paham komunisme. Ada dua pendapat tentang mengapa nama pesantren yang didirikan oleh dirinya dinamai “Pagelaran”.

    Pertama, saat dirinya masih berdiam di pesantren Pakacangan, Cimalaka, datanglah seseorang mengabarkan bahwa gurunya di pesantren Pagelaran Cianjur sedang sakit keras. Hendak menjenguk gurunya, namun ternyata takdir berkata lain. Mukhyiddin tidak bisa bertemu dengan sang guru karena beliau keburu wafat. Pulang ke Sumedang dengan bersedih hati, tetiba ketika di suatu malam Mukhyiddin bermimpi bertemu dengan sang guru. Didorong dengan rasa hormat dan cinta kepada gurunya, akhirnya nama pesantren yang didirikan Mukhyiddin diberi nama Pagelaran. Sama seperti pesantren tempat dia di masa remaja menimba ilmu di Cianjur.

    Kedua, pendapat lain menyatakan bahwa karena dia sendiri sudah bernama Muhyiddin berarti orang yang menghidupkan (agama), menyiarkan agama, maka pesantrennya harus bernama Pagelaran berasal dari bahasa Sunda, gelar yang berarti menyebarkan, membuka, menyajikan.

    Di zaman pendudukan Jepang, Mukhyiddin pernah mengikuti kursus ulama yang diberikan oleh pemerintahan pendudukan Dai Nippon. Hal ini tidak lain adalah maksud Jepang agar mereka bisa mendapat dukungan ulama yang memiliki peran sosial strategis saat itu. Di masa Revolusi Fisik mempertahankan kemerdekaan, Mukhyiddin ikut berjuang dengan santrinya dengan masuk ke Laskar Hizbullah.

    Di samping sebagai pimpinan laskar, pembina mental, juga pembimbing rohani, Mukhyiddin juga acapkali menanamkan semangat jihad fii sabilillah salah satunya memberikan wirid khusus bernama Robbi Syiffi untuk para pejuang. Namun, dalam sebuah serangan ke markas tentara NICA (Netherlands Indische Civil Administration) di Ciateul, Bandung, salah seorang putranya bernama Edeng Abdurrahim gugur. Karena sepak terjangnya sangat berpengaruh di kalangan santri-pejuang, maka Belanda memutuskan untuk menjebloskan Mukhyiddin ke penjara Kebonwaru, Bandung dengan tuduhan mengobarkan semangat pemberontakan kepada pemerintah NICA.

    Di masa “gerombolan” Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) S.M. Kartosuwiryo, Mukhyiddin membuktikan loyalitas dan kecintaannya kepada Tanah Air dengan menolak bergabung dengan mereka. Menurut salah satu cucunya bernama Kemal Graham, kakeknya ikut terlibat dalam penumpasan gerakan itu bekerja sama dengan Kodam III Siliwangi.

    Mukhyiddin juga merupakan sosok ulama yang produktif dalam menulis. Tercatat, dirinya menghasilkan 48 kitab hasil pemikirannya. Beberapa di antaranya adalah Miftahussaadah, Kawajiban Ati, Tarjamah Asmaul Husna, Tarjamah Surat Waqiah, Tarjamah Surat Ar-Rohman, Wawacan Hasan Shoig, Wawacan Nabi Sulaeman, Wawacan Manuk Angko, Wawacan Kakolotan, Nadzhom Pepeling Kabeh Istri, Wiridan Sakabeh, Dangding Kumaha Abdi Nya Syukur, Dangding Dirasa-rasa Ku Kuring, Imam Ghazali Ngandika, Ciri Baleg, dan Jampe Maot.

    Mukhyiddin yang juga merupakan kakek Gubernur Jawa Barat saat ini, Ridwan Kamil wafat pada Jumat, 4 November 1973 di usia sekitar 93 tahun. Kepemimpinan Pesantren Pagelaran diteruskan oleh anak, menantu, cucu, dan santrinya.

    Sejarah sebagai Kisah

    Membaca biografi KH. Mukhyiddin di atas seharusnya mengingatkan kita bahwa sejarah selain sebagai suatu disiplin ilmu, juga hadir sebagai sebuah kisah. Konsep dasar sejarah yang berkaitan erat dengan silsilah atau riwayat tidak mungkin “dihilangkan” begitu saja (Susmihara, 2013: 4-5). Dalam konteks narasi bahasa Indonesia, sejarah bisa dipahami sebagai asal-usul, peristiwa yang benar-benar terjadi, juga ilmu pengetahuan.

    Hasil karya KH. Mukhyiddin berupa 48 kitab tersebut bisa juga dikaji sebagai sejarah pemikiran si empunya tulisan. Latar belakang apa yang menyebabkan beliau menulis kitab tersebut? Apa sebab-akibat dari adanya kitab tersebut? Apakah ada dampak sosial dari kitab yang ditulis oleh beliau itu? Makna tersirat apa yang ada dalam karangan itu?

    Semoga secuil tulisan biografi tentang KH. Mukhyiddin ini bermanfaat bagi kita semua, generasi bangsa Indonesia masa kini.

     

     

    *Penulis, alumnus Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran

    Ikuti tulisan menarik Oky Nugraha Putra lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.