Perempuan di Gerbong Empat - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi perempuan dikereta

Dimas Bagus Aditya

Jadikan Jiwa Mudamu Mengukir Sejarah!
Bergabung Sejak: 14 Oktober 2021

Rabu, 30 November 2022 07:35 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Perempuan di Gerbong Empat

    Dua tahun sudah aku tak pulang ke Jombang. Kereta jarak jauh mengantarkanku pulang ke kota itu. Selama perjalanan kereta kudapati perempuan di gerbong empat yang menarik hati.

    Dibaca : 438 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    SUARA announcer yang cukup bising dengan pengeras ala kadarnya membangunkanku. Ini adalah kali pertama aku menaiki kereta api dengan waktu tempuh yang lama. Biasanya, aku lebih memilih moda transportasi kapal terbang untuk menuju kampung halamanku dari Jakarta ke Jombang. Perjalanan selama kurang lebih dua belas jam terasa suntuk. Untungnya, aku mendapatkan gerbong eksekutif untuk ku duduki. Walaupun harganya cukup mahal tetapi tak masalah bagiku. Toh, kenyamanan lebih berharga dibandingkan dengan nilai mata uang.

    Sepanjang perjalanan kereta, aku tertidur lelap dari stasiun keberangkatan Pasar Senen hingga pemberhentian di Stasiun Yogyakarta. Aku melihat jarum jam ditangan sudah menunjukkan pukul 19.42 WIB. Itu artinya aku sudah tertidur selama kurang lebih delapan jam. Setidaknya, kurang empat jam lagi aku akan sampai di stasiun pemberhentian akhir, Jombang. Pada awalnya aku akan melanjutkan ‘tidur malam’ ku. Tetapi rasanya kelopak mataku terlalu capek untuk tidur kembali. Terpaksa, aku membuka smartphone ku. Tak ada notifikasi yang terlihat diberanda. Segera ku tutup kembali screen handphone ku dan kembali melanjutkan tidurku.

    Belum sempat aku melanjutkan tidur, sepasang bola mataku melihat perempuan cantik dengan menyeret koper kecil. Tingginya yang mungil membuatku sigap untuk menyelidik paras ayunya. Ia tampak cantik sekali dengan balutan dress putih dan kerudung hitam bermekaran bros. Dalam sekejap ia melewati tempat dudukku. Aku cukup heran, mengapa dadaku bergetar hebat saat menatapnya. Tiba-tiba, suara lembut terdengar ditelingaku. Segera ku mengarah sumber suara itu.

    Deg.

    “Permisi mas, nomor 15A gerbong 4,” ujar perempuan yang membuat jantung hatiku bergetar tak karuan itu.

    Tampaknya ia duduk disamping kursiku. Alamak, Tuhan, mengapa kau takdirkan perempuan cantik ini untuk duduk disampingku? Dengan cepat, aku mempersilahkannya duduk dikursi nomor 15A. Aku cukup canggung berada didekatnya. Perasaan macam apalagi ini, Tuhan? Beberapa menit kemudian kereta melaju dengan perlahan sebelum langkahnya dipercepat kembali. Perjalanan kali ini cukup gerah, bukan karena pendingin udaranya yang mati, tetapi karena jantungku yang berdetak dua kali lebih kencang. Baru juga didekati perempuan cantik, bagaimana nanti kalau didepan mertua?

    Sebenarnya, aku ingin sekali mengajaknya bicara untuk sekedar bosa-basi. Namun, mengapa lidah ini terasa keluh untuk mengucapkan sepatah-dua patah terhadapnya? Padahal biasanya aku selalu mengajak bicara orang yang tidak aku kenal. “Mungkin begini ya nasib seorang jejaka tua melihat perempuan muda tipenya?” pikirku.

    Setelah lama aku bergelut dengan hatiku yang tak karuan bergetar dan pikiranku yang melayang-layang menembus masa depan dan tak jelas peruntungannya. Suara itu kembali merasuki telingaku. Segera aku menyaut suara itu. Ya, suara perempuan cantik disampingku yang membuat hatiku gusar-gundah-gulana itu.

    Obrolan singkat kami mulai. Dari obrolan itu, aku mengetahui kalau perempuan itu berasal dari Jombang. Setidaknya sama dengan kampung halamanku. Saat ini, ia sedang kuliah di jurusan hukum disalah satu kampus ternama di Yogyakarta. Katanya, ia pulang kampung ke Jombang dikarenakan sedang liburan semester. Sebenarnya, dalam benakku sempat terbesit untuk meminta nomor teleponnya, tetapi mengapa aku tak sanggup mengucapkan itu?

    Empat jam berselang, kereta Bangunkarta tiba dan berhenti di Stasiun Jombang. Stasiun dengan kapasitas tidak besar ini setidaknya mengobati rasa rinduku pada bapak dan ibu disini. Aku turun terlebih dahulu dari kereta sebelum disusul oleh perempuan cantik disampingku tadi.

    Kami berpisah, Alya, demikian nama perempuan itu melanjutkan perjalanannya dengan becak menuju rumahnya di Tugu Kepatihan. Sedangkan, aku lebih memilih menggunakan mobil yang telah ku sewa untuk mengantarkanku pulang ke Mojowarno. Perjalanan kereta pertamaku membuat kesan yang menarik. Dari Kereta Bangunkarta, ku dapati perempuan cantik bernama Alya digerbong empat.

    ***

    “Yu, ayo makan dulu!”

    Lengkingan suara dari dapur membangunkanku. Tampaknya, ibu memanggilku. Sebenarnya, aku sudah bangun dari jam empat subuh tadi. Tapi mengapa mata ini terlalu ngantuk untuk membukanya kembali. Segera ku hampiri suara itu. Ya benar, seonggok makanan telah terpampang dimeja makan. Aku melihat nasi lodeh dengan lauk berupa iwak asin dihadapanku. Disampingnya, terhampar sambal tomat berwarna merah kekuning-kuningan.

    “Wah, makanan kesukaanku ini!” kataku dengan mengambil lauk tempe untuk ku santap.

    Bapak menepis tanganku. “Cuci tangan dulu! Kebiasaan! Kotor itu!”

    “Iya, pak!” Aku tersenyum.

    Setelah mencuci tangan, aku langsung melanjutkan santapan sarapan. Aku menikmati makanan yang ku santap. Makanan ndeso ini tak pernah sekalipun ku rasakan ketika merantau di Jakarta.  Ya, disana aku lebih sering makan makanan kota di restoran mahal. Tak mengherankan kalau bobot badanku kini sudah besar. Kira-kira dua kali lebih besar sebelum aku bekerja di Jakarta, dulu. Bapak dan ibu yang melihat makanku tergopoh-gopoh tampaknya maklum dengan anaknya ini. Setelah dua tahun tak pulang, baru kali ini aku pulang ke Jombang.

    “Yu, pelan-pelan lah kalau makan nanti kamu tersedak, loh!” Ibu memperingatkanku.

    “Habisnya masakan ibu enak banget sih!” sanggahku.

    “Yu, nanti kamu ikut ibu yo? Biar Iwan yang nganterin kita ke rumah teman ibu. Ibu tadi sudah bicara sama Iwan kok!”

    “Mau ngapain sih, bu? Aku gak mau kalau dijodoh-jodohin lagi!”

    “Sudah ikut aja. Toh ikut ndak membayar saja loh!” sahut bapak.

    Kami pun tertawa lawakan bapak itu. Bapak dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah. Banyolan-banyolannya selalu membuat kami tertawa renyah. Masa tua bapak dihabiskan sepenuhnya di kampung. Dulu, ia merupakan personil TNI angkatan darat. Tak mengherankan kalau tubuhnya tegap. Tampaknya, tubuh tegapku menurun dari bapak. Tetapi sudah tujuh tahun lalu, ia pensiun. “Sudah tua bapakmu ini,” katanya tempo hari.

    Saat ini, usia ku sudah tak muda lagi. Dua puluh sembilan tahun. Itu angka yang tua bagi keluargaku. Apalagi dari kecil hingga dewasa aku belum pernah merasakan pacaran. Boro-boro pacaran berdekatan dengan perempuan saja membuat hatiku dag-dig-dug tak karuan. Contohnya, kemarin, saat berjumpa dengan perempuan cantik bernama Alya di gerbong empat. Tak pelak, tuntutan untuk segera menikah kerap kali dilontarkan oleh bapak dan ibu. Setidaknya sudah berkali-kali bapak dan ibu berupaya menjodohkan ku dengan anak teman-temannya. Tetapi hasilnya tak ada yang kecantol.

    Maklum, standar yang aku tetapkan untuk calon istriku cukup tinggi. Standar tinggi bukan semata-mata aku terlalu memilih pasangan tetapi karena aku tak mau anak-cucuku nanti tidak berada dalam asuhan yang baik. Waktu itu, ibu pernah memperkenalkan aku dengan anak temannya, namanya Rachmi. Sebetulnya, ia sudah memenuhi seluruh kriteria ku tetapi ia tak mau ku persunting. Katanya, masak nikah sama om-om? Ah, setua itu aku hingga dipanggil om-om oleh perempuan berusia dua puluh tahun.

    Walaupun aku cukup selektif memilih calon istri. Tetapi, bapak dan ibu tak henti-hentinya untuk mencarikanku jodoh. Menurutnya, agar aku tidak menjadi jejaka tua. Hampir setiap empat bulan sekali, bapak dan ibu selalu menyuruhku pulang ke Jombang. Mereka selalu saja berupaya mengenalkan anak perempuannya temannya. Untungnya aku dapat mengelak agar tidak disuruh pulang. Tetapi untuk kali ini, aku tidak dapat mengelak. Ya, aku rindu bapak dan ibuku. Saat ini pun demikian, ibu berupaya mengajak aku ke rumah temannya. Entah siapa nama temannya ibu, tetapi yang aku tahu ia tinggal di Kecamatan Jombang.

    “Ayo Yu! Lama banget si? Sudah ditunggu mas mu lho,” teriak Ibu.

    Ndredeg mungkin mau ketemu calon istri kok!” timpal Mas Iwan – kakak laki-laki ku.

    “Ah, mas Iwan bisa saja. Nanti kalau dianya gak mau bagaimana? Aku gausah ikut ya bu?” sergahku kala mobil avanza hitam melesat meninggalkan jalanan setapak di kampungku.

    “Sudah, sudah. Pasti mau kok! Dia lho sudah jauh-jauh pulang dari rantauan hanya untuk menemuimu, Yu!” balas Ibu berusaha meyakinkanku.

    Kunjungan kali ini bapak tidak ikut serta, katanya mau mancing bersama Cak Kholil. Kali ini, ibu berada di samping Mas Iwan yang sedang menyopiri mobil kami. Sementara aku berada dibelakang mereka.

    Jalanan Jombang siang ini cukup ramai. Lalu lalang motor dan mobil silih berganti menyalip mobil kami yang berjalan dengan kecepatan sedang. Tidak ada kata macet di kota ini. Semua serba berjalan lancar. Tidak seperti di Jakarta yang selalu saja macet disana-sini. Tak mengherankan jika aku lebih memilih menggunakan transportasi umum ketika di Jakarta. Tapi ketika di Jombang cukup sulit menemukan transportasi umum. Karena kota ini tidak di-design untuk ramah terhadap transportasi umum.

    Dua puluh lima menit berselang, aku telah tiba di sebuah gang sempit. Entah apa nama kampung ini. Aku tak terlalu paham dengan desa-desa di Jombang Kota. Yang aku tahu hanya Kebonrojo dan Alun-Alun Jombang. Kedua RTH itu tampaknya kini mulai dipoles oleh pemerintah agar cantik.

    “Bu, aku gak usah ikut ya? Biar Mas Iwan saja!” kataku sesaat setelah Ibu keluar dari mobil dibuntuti oleh Mas Iwan.

    Ibu membuka pintu mobil belakang. “Ayolah.”

    Wong mau bertemu calon mertua dan calon istri kok kayak gitu!” sambungnya dengan menarik tanganku hingga keluar mobil.

    Tentu aku tidak dapat menolak tarikan tangan ibu. Bisa-bisa nanti ibu jatuh akibat tanganku yang lebih besar dibandingkannya.

    “Ayo, Yu!” ucap Ibu lagi.

    “Ada-ada saja kamu, Yu. Mau ketemu calon mertua kok kayak gitu!” tambah Mas Iwan.

    Awalnya, aku berjalan dengan malas. Namun, saat ditarik oleh Ibu. Mau tidak mau aku harus berjalan tegak. Supaya tidak memalukan, katanya.

    Aku melihat rumah megah berlantai dua dengan pekarangan yang lumayan luas. Kemungkinan besar, rumah tersebut dimiliki oleh orang terpandang di kampung ini. Meskipun rumah ini berlantai dua. Anehnya, rumah ini tidak dilengkapi dengan pagar tidak seperti rumahku yang berada di Mojowarno.

    “Ibu masih keluar, tante!”

    Suara lembut itu terdengar nyaring ditelingaku. Aku pernah mendengar suara itu. Tapi dimana. Pemilik suara itu keluar dan menampakkan wajah ayunya.

    “Lho, Mas Wahyu?” ujarnya.

    Mulanya, aku tidak melihat wajahnya. Toh, nanti pasti dia menolakku. Aku lebih memilih melihat jalanan kampung yang cukup ramai. Sesaat kemudian, aku melihat wajahnya dan betapa terkejutnya diriku. Ku dapati perempuan di gerbong empat bernama Alya sedang berada dirumah temannya ibu.

    “Loh Alya,” sahutku balik.

    “Alhamdulillah kalau kalian sudah mengenal. Supaya dipercepat saja kalau begitu!” timpal Ibuku.

    Mas Iwan tersenyum lebar, Ibuku pun demikian. Sedangkan aku hanya melongo. Kudapati sebuah plang tertulis Desa Tugu Kepatihan RT 004, Kecamatan Jombang.

    “Ah benar saja, Alya kan tinggal di Desa Tugu Kepatihan.”

    ***

    Ya benar, perempuan di gerbong empat itu adalah anak perempuan temannya Ibu. Untuk itu, ia adalah calon istriku!

    “Bagaimana, setuju dengan calon ibu?” tanya Ibuku.

    “Nggak usah ditanya deh bu! Wahyu mah setuju banget!” balasku sembari memeluk Ibu.

    Sejak saat itu, aku percaya terhadap takdir Tuhan, “Takdir Tuhan tidak ada yang tahu kan?” selorohku. (*)

    Jombang, 17 Oktober 2022, pukul 07.24 WIB

    Ikuti tulisan menarik Dimas Bagus Aditya lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.