Telah Pulang - Fiksi - www.indonesiana.id
x

Najah Jelita

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 April 2022

Senin, 5 Desember 2022 18:34 WIB

  • Fiksi
  • Topik Utama
  • Telah Pulang

    cerita seorang anak gadis yang ditinggal pulang oleh ayahnya untuk selama-lamanya.

    Dibaca : 415 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dering telfon berkali kali itu membangunkanku dari tidurku. Dengan mata masih terpejam aku mengangkat telfon.

    "Haloo..."

    "Nak, bangun sholat, doakan babamu sedang koma di rumah sakit!" Begitu suara mamaku di seberang telfon yang langsung membuatku terbangun dari tempat tidur.

    "Baik mah, iya aku bangun dan sholat untuk baba. semoga baba cepat sembuh"

    Aku dan babaku sebenarnya bisa dibilang tidak dekat. Sejak dirinya memutuskan untuk memiliki keluarga baru, bahkan dia jarang pulang ke rumah. Tidak, ibuku masih menjadi istrinya. walaupun sudah mengajukan surat perpisahan, namun babaku selalu menolak, masih sayang katanya. Begitulah kehidupan keluargaku.

    Sebenarnya beberapa minggu lalu baba meminta untuk pulang. Namun dia tidak bilang dengan jelas kemana arah pulangnya. Kami berpikir dia saat ini memiliki 2 keluarga yang berarti dia memiliki 2 rumah untuk pulang. Tetapi hal itu tidak dapat terlaksanakan dengan alasan tidak memiliki uang. Kami sebagai anak-anaknya belum memiliki pekerjaan yang membuat kami tidak bisa memberikan uang kepadanya.

    Kemarin sampai hari ini kebetulan aku ikut menginap di rumah bos mamaku namanya bu Susan, urusan pekerjaan yang membuatnya harus menginap. Karena bu Susan punya anak yang seumurku, senang saja aku untuk bermain dan menginap disana. Mamaku dan bu Susan berangkat jam 2 pagi ke surabaya, aku menunggu hingga sore. Tapi, kabar buruk itu terlanjur ada hingga membuatku tidak tenang. 

    "Ya Allah, engkaulah zat yang maha agung. Berikan takdir terbaik darimu. Aku menyayanginya, semoga dia lekas sembuh"

    Sedih, itu yang aku rasakan. Begitu doaku dalam sholat untuk baba, meskipun kami tidak dekat, aku tetap sayang padanya. Lagi lagi telfon ku berdering.

    "Halo dek, hiks.. kamu siap-siap nanti kakak sama pak wisnu kesana. Kita pergi ke pekalongan buat jenguk baba"

    Aku memiliki satu kakak perempuan dan dua adik, perempuan dan laki-laki. Aku sendiri adalah anak kedua di keluarga. Kedua adikku menempuh pendidikan pondok pesantren di kampung halaman kami, Gresik. Kini dirumah hanya aku, kakak dan mamahku bersama sehari hari. Pak wisnu adalah tetangga kami yang sangat baik, seringkali pak wisnu membantu kami ketika ada masalah. Salah satunya mengantar kami ke pekalongan (tempat tinggal baba sekarang) dengan mobilnya.

    "Oke kak, nanti aku tunggu dipasar buah ya biar deket lewat jalan tol"

    Saat sudah sampai aku menunggu depan sebuah warung sambil duduk berharap semua baik baik saja. Berdoa dengan berbagai harap untuk kesembuhan babaku. Sejujurnya aku lapar, saat itu sekitar jam 8 pagi aku menunggu. Tidak ada yang menghubungi dan memberi kabar kepadaku. Aku harap memang benar baik baik saja. Tapi itu tidak berlangsung lama, ketika dering telfon dari budhe ku di jawa membuyarkan lamunanku. Refleks saja aku mengangkat telfon dari budheku itu.

    "Halo.." ucapku ragu mengangkat telfon itu. Namun raut wajahku berubah saat mendengar suara isak tangis di telfon itu

    "Halo budhe.. kenapa? Ada apa? Kenapa semua menangis!?" Aku hampir berteriak. Kenapa semua menangis? Apa yang terjadi. Seketika jantungku berdebar sangat kencang, aku berdiri beranjak pergi ke suatu sudut di depan warung itu berharap bisa mendengarkan dengan saksama dan tenang.

    "Babamu... hiks hiks" 

    "Iyaa baba kenapa?! Baba baik-baik saja bukan?"

    Aku sedikit menaikkan volume suaraku. Rasanya tak karuan, seluruh badanku mulai bergetar.

    "Yang sabar ya nak.. ini berat tapi kamu harus kuat.. hiks hiks" ucap budhe lagi yang membuat kesabaranku di ambang. Wajahku memerah, aku tidak kuat untuk menahan getaran itu. Tidak mungkin? Aku tidak percaya, ini pasti bohong.

    "Budhe coba bicara yang jelas, jangan aneh aneh!!" Aku berteriak karena kesal bercampur sedih tidak karuan. 

    "Hiks.. babamu... sudah nggak ada.." 

    Tidak! Aku tidak percaya. Apakah ini benar? Seluruh tubuhku bergetar hebat, kakiku terasa lemas. Akhirnya seluruh air mata yang ku tahan sejak tadi ikut keluar bersama dengan isak tangis yang tidak berhenti. Dengan hebatnya aku menangis sejadi jadinya. Cukup, aku tidak sanggup. Handphone yang ku pegang ikut terjatuh seiring jatuhnya tubuhku ke atas tanah, rasanya kesadaranku setengahnya menghilang. Aku terlalu sedih dan takut, budheku memanggil-manggilku kembali sambil menangis. 

    Orang-orang yang melihatku langsung menghampiriku ikut bertanya dan membangunkanku. Bahkan beberapa dari mereka merangkul ku dan memberikan minuman untuk menenangkanku. 

    "Hiks hiks.. baba.. hiks.. sudah nggak ada.. aku ga punya bapak sekarang.. hiks.." ucapku pada orang disekitarku.

    Sulit rasanya menjawab, mulutku terasa kelu. Aku ucapkan kalimat itu berkali-kali dengan kesadaran yang tipis. Rasanya mataku mulai membengkak saat itu. Tanganku perlahan meraih kembali handphoneku yang terjatuh dan berbicara dengan budheku.

    "Bud-budhe.. hiks.. tunggu disana ya.. aku kesana.. aku jemput baba.. hiks.."

    "Iya nak.. yang sabar ya, hiks.."

    "I-iyaa budhe.." 

    Tidak berapa lama setelah itu, pak wisnu datang dan memelukku. Beliau menangis saat melihatku, aku sangat terisak sampai sulit bernafas.

    "Pak.. baba pak.. hiks hiks"

    Beliau terdiam sambil menangis dan menggandengku supaya masuk ke mobil bersiap menuju ke tempat babaku. Tidak lupa aku juga berterima kasih kepada orang orang yang tadi membantu menenangkanku. Lalu aku ikut dan masuk ke dalam mobil. Disana sudah ada kakakku yang langsung memelukku dengan erat

    "Kak.. baba.." ucapku pelan dengan isak tangis. Dia semakin mempererat pelukan itu. Aku mulai menangis lagi lebih keras. Hampa, rasanya seperti hilang setengah hidupku. Saat itu pak wisnu langsung memulai perjalanan menuju pekalongan untuk bertemu dengan babaku terakhir kalinya.

    Lelah menangis, aku meminum obat anti mabuk perjalanan berharap sedikit menenangkan agar aku tertidur sepanjang perjalanan.

    Selang beberapa jam kemudian, mobil kami sampai di depan rumah babaku. Kulihat seluruh orang orang disana melihat kami seperti menunggu. Aku langsung turun dan berjalan menuju ke dalam. Disana tercium bunga melati yang begitu menyengat, wangi yang selalu aku takutkan jika menciumnya. 

    Saat di dalam aku melihat seseorang yang kusayang, seseorang yang ku anggap sebagai pelindungku, seseorang yang sangat ku cintai sudah lemah tidak berdaya terbalut kain kafan putih di tubuhnya. Tidak dapat kutahan, air mata langsung mengalir deras. Aku langsung memeluknya erat-erat, semua orang disana juga ikut menangis melihatku. Aku meminta ke pamanku untuk membuka tali kafan dan mencium keningnya untuk yang terakhir kali sebelum tanah mengambilnya. Pamanku langsung menuruti dan membuka tali kafan dibagian wajahnya.

    Sedih, sesal, rindu bercampur aduk menjadi satu saat melihatnya. Aku rindu padanya, benar-benar rindu. Kucium dengan erat keningnya sebagai tanda cinta perpisahan terakhir. 

    "Selamat jalan baba, selamat beristirahat. Terima kasih karena telah menjadi ayah terbaik untukku. Terima kasih karena sudah bertahan sejauh ini. Aku mencintaimu baba"

    Mungkin ini kata-kata terakhir yang dapat ku berikan untuknya. Meskipun hanya dalam bisikkan, aku sangat menyayanginya. Lalu setelah itu aku berbalik dengan perlahan menghadap ke semua orang yang melihatku. Seluruh tubuhku bergetar, jantungku bedebar dengan kencang. Meskipun mulutku ikut terasa kelu aku ucapkan

    "Baba.. telah pulang"

     

    Ikuti tulisan menarik Najah Jelita lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.