x

Ezra bersama kepala SD Muhita di acara lepas pisah

Iklan

Pipiet Palestin Amurwani

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 23 November 2021

Jumat, 14 Juni 2024 10:01 WIB

Semangat Persahabatan dan Inklusi di SD Muhammadiyah 01 Tanggul

Tulisan ini didesikasikan untuk semua guru dan karyawan SD Muhammadiyah 01 Tanggul dan teman-teman Ezra di kelas Jabir bin Abdullah dan Tsabit bin Qais.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

SD Muhammadiyah 01 Tanggul yang biasa disebut dengan SD Muhita merupakan salah satu SD swasta terbaik di kabupaten Jember. Sekolah berbasis agama Islam ini memiliki banyak prestasi siswa baik akademik maupun non akademik, di bidang agama maupun umum.

Dalam rangka pembentukan karakter positif, SD Muhita memiliki program-progam seperti murojaah bersama, sholat berjamaah, mengolah sampah plastik, dan membaca buku bersama. Selain itu, sekolah bergelar adiwiyata ini juga dikenal sebagai sekolah ramah anak. Meskipun bukan sekolah inklusi namun sekolah ini mampu menanamkan semangat inklusif pada warga sekolahnya.

Tak heran jika di SD Muhita dapat ditemui siswa bahkan guru penyandang disabilitas. Nur Sabaha, kepala SD Muhita mengatakan,”Anak disabilitas juga berhak mendapatkan pendidikan seperti anak-anak yang lain, setiap anak pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Jadi tidak ada bedanya hanya beda cara menyikapinya.”

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Ezra, sebagai siswa penyandang disabilitas juga dilibatkan dalam acara SD Muhita

Ezra, adalah salah satu siswa SD Muhita penyandang disabilitas tunarungu yang berhasil menjalani pendidikan sekolah dasar selama enam tahun dengan gembira. Meskipun perjuangannya dalam menempuh pendidikan tak mudah, namun lingkungan dan warga sekolah yang mendukung meringankan langkahnya. Guru dan karyawan perlahan dapat memahami kebutuhan Ezra dalam berkomunikasi.

Sebagai pengguna alat bantu dengar dia juga harus menggunakan indra penglihatan untuk membaca gerak bibir lawan bicaranya. Kerja sama yang baik antara guru dan orang tua Ezra secara tak langsung menjadi edukasi bagi pihak sekolah bagaimana harus memenuhi kebutuhan komunikasi bagi penyandang tunarungu pengguna alat bantu dengar.

Demikian juga dengan teman-teman Ezra. Mereka dibimbing untuk dapat menghargai dan memperlakukan teman-temannya dengan setara. Termasuk pada Ezra, anak-anak tersebut terlihat seperti telah memiliki pikiran yang dewasa. Mereka menirukan cara gurunya berbicara pada Ezra, dengan pengucapan jelas tiap kata ditambah dengan ekspresi yang kadang terlihat menggemaskan. Tak jarang juga mereka memberikan apresiasi pada Ezra ketika melakukan pencapaian.

Begitu juga ketika Ezra ditanya tentang  teman-temannya, dia menjawab dengan mata berbinar,”Teman-teman Ezra baik.” Sebuah jawaban yang jujur dari hati. Mereka bermain dengan akrab dan gembira seolah-olah tidak ada yang berbeda. Bukti bahwa dalam diri mereka telah tertanam bahwa di hadapan Tuhan manusia sama.

Saling berbagi hadiah di kelas

SD Muhita menunjukkan bahwa pendidikan inklusi bukan hanya idealisme, tetapi juga kenyataan yang dapat diwujudkan. Penyandang disabilitas bukan ingin diperlakukan istimewa, melainkan ingin diperlakukan setara dengan orang lain. Mereka membutuhkan akses dan kesempatan yang sama untuk mencapai potensi penuh mereka.

 

 

 

 

 

Ikuti tulisan menarik Pipiet Palestin Amurwani lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler