Iqra: Misteri di Balik Perintah Membaca 14 Abad Yang Lalu - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Iqra: Misteri di Balik Perintah Membaca 14 Abad Yang Lalu

    Dibaca : 5.269 kali

    Judul: Iqra – Misteri Dibalik Perintah Membaca 14 Abad Yang Lalu

    Penulis: Satria Dharma

    Tahun Terbit: 2015

    Penerbit: Eureka Academia                                                                                        

    Tebal: xviii + 403

     

    Kecakapan literasi adalah sebuah modal bagi individu dan bagi bangsa untuk merenangi masa depan. Sudah sangat banyak bukti yang menguatkan bahwa kecakapan literasi menjadi modal utama dalam kesuksesan seseorang atau sebuah bangsa. Mengambil contoh dari Bangsa Indonesia sendiri, Sukarno, Hatta, Tan Malaka, dan Sosrokartono adalah mereka-mereka yang hidupnya bergelut dengan buku. Einstein dibesarkan oleh ibunya dengan dibacakan buku cerita saat masih kecil, dan beliau tetap menjadi pembaca buku di luar disiplin akademiknya. Dari sisi negara/bangsa, Islam pernah berjaya selama 500 tahun (abad 8 – 13) karena menekuni literasi. Peradaban Barat bangun karena literasi.

    Akibat buruk bagi individu dan bangsa yang kecakapan literasinya rendahpun sudah banyak buktinya. Salah satunya adalah Bangsa Indonesia. Sebagai bangsa yang memiliki jumlah tenaga kerja yang besar, tetapi Indonesia hanya bisa mengirimkan tenaga buruh kasar ke luar negeri. Sementara posisi-posisi penting di perusahaan-perusahaan di Indonesia diisi oleh orang asing. Apa yang salah?

    Indonesia adalah negara yang dibangun oleh para tokoh yang dibesarkan dalam budaya baca. Seperti kita tahu para pendiri bangsa dibesarkan di sekolah-sekolah Belanda yang memiliki program secara terstruktur supaya siswanya membaca. Indonesia juga adalah negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam –yang perintah pertama dalam kitabnya adalah Iqra: Membaca! Lalu mengapa tiba-tiba Indonesia menjadi bangsa yang tidak membaca? Mengapa kita selalu di level bawah penilaian kemampuan literasi secara internasional? Mengapa Taufik Ismail sampai menulis artikel “Tragedi Nol Buku” pada tahun 2005? Adakah yang salah?

    Mengapa budaya literasi di Indonesia rendah? Setidaknya saya menemukan tiga hal yang disampaikan oleh Satria Dharma dalam buku ini. Dalam artikelnya berjudul “Tragedi Nol Buku: Tragedi Dunia Pendidikan Indonesia” (hal. 36-45) dan dibagian lain buku ini, Satria Dharma menyebutkan setidaknya tiga hal yang menjadi penyebab, yaitu: (1) pemimpin yang lebih peduli kepada pembangunan fisik dan tidak peduli pada literasi, (2) kurikulum pembelajaran bahasa yang dikuasai oleh para linguistik, dan (3) orang Islam yang tidak mengamalkan perintah membaca.

    Sebagai seorang pegiat literasi, Satria Dharma mencoba (pantang menyerah) untuk membangkitkan budaya literasi di Indonesia. Salah satu jurus yang dipakai oleh Satria Dharma adalah dengan menggunakan ayat Iqra. Satria Dharma membedah ayat Iqra sebagai landasan bagi umat Islam untuk membaca. Untuk menopang argumennya, Satria Dharma menjelaskan sikap Nabi kepada para tawanan perang Badar. Nabi sangat memperhatikan pentingnya kemampuan baca tulis. Itulah sebabnya Nabi memberikan pembebasan bagi tawanan Perang Badar yang telah mengajar 10 orang untuk membaca dan menulis kepada umatnya, alih-alih meminta penebusan dalam bentuk dirham. Satria Dharma juga menunjukkan bahwa Peradaban Islam pernah berjaya di Eropa selama 500 tahun karena kekuatan literasinya. Tokoh-tokoh seperti Ibnu Rush (Averroes), Ibnu Sina (Avicenna), Al-Biruni, M. Ibn Musa, Niza Al Mulk dan sebagainya, dan banyaknya perpustakaan di kota-kota yang diperintah oleh Islam adalah bukti.

    Apakah upaya penggiatan pengamalan ayat bisa berhasil? Ada contoh kampanye pengamalan ayat yang dalam 10 tahun mampu mengubah budaya. Yaitu tentang perempuan berjilbab. Kampanye yang dilakukan oleh para ulama telah berhasil mengubah budaya berbusana para Muslimah di Indonesia. Padahal perintah berjilbab hanya muncul dalam dua ayat saja. Sementara membaca dan menulis berkali-kali muncul dalam berbagai ayat di Quran. Namun mengapa sepertinya para ulama tidak melakukan hal yang sama seperti kewajiban mengenakan jilbab? Mungkin beliau lupa bahwa para ulama juga tidak banyak yang mengamalkan membaca. Bagaimana mungkin seorang yang tidak membaca bisa mengkampanyekan budaya baca?

    Selain dari kampanye yang dilakukannya dalam kesendirian dan kesepian tentang perintah membaca bagi Umat Muslim, Satria Dharma juga memberikan contoh-contoh bagaimana mengembangkan budaya literasi serta manfaatnya. Tak segan-segan Satria Dharma menggunakan pengalaman negara-negara non Muslim sebagai contoh, seperti Australia, Jepang dan Finlandia. Beliau juga menyampaikan upaya Kota Surabaya yang sudah begitu serius untuk menjadi Kota Literasi. Tak cukup contoh di tingkat negara dan kota, Satria Dharma juga menyampaikan bagaimana upaya di sekolah. Pengalaman Gus Mus di Guluk-guluk Madura menjadi contoh bahwa sekolah bisa menjadi tempat pembenihan budaya baca. Bahkan beliau menggunakan meja makan di keluarganya sebagai ritual Sustained Silent Reading. Dan upaya di keluarga ini telah berhasil mengubah istrinya yang tidak dibesarkan dalam keluarga berbudaya baca menjadi seorang yang gemar membaca. Upaya di meja makan ini juga telah membuat anak-anaknya menjadi maniak buku.

    Tema dalam buku ini sangat menarik. Sayang bentuk yang dipilih adalah kumpulan artikel. Proses editingnya pun kurang berani. Sebagai kumpulan artikel lepas, tentu saja banyak bahan yang sudah tertuang di beberapa artikel. Akibatnya terjadi pengulangan bahan yang termuat. Sebagian artikel diambil dari blog atau sosial media yang sangat interaktif. Bagian-bagian ini yang belum diedit dengan baik membuat pembaca yang bukan bagian dari group/milis menjadi agak terengah-engah menikmatinya. Misalnya tentang nama-nama yang terselip dalam artikel yang bukan nama beken bagi para pembaca umumnya. Akan lebih baik kalau buku ini ditulis ulang secara utuh sebagai buku. Artikel-artikel tetap bisa dijadikan bahannya.

    Bagaimanapun saya sangat kagum dengan Satria Dharma, seorang Ksatria Literasi yang tetap bergairah dalam kesepiannya. Semoga pedang agama ini bisa menjadi sarana bagi pengembangan literasi di Indonesia. Semoga ada sinar terang di ujung sana. Saya ingin menjadi temannya.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.