Pemuda Berakal, Indonesia Bersatu - Analisa - www.indonesiana.id
x

Suasana Istana Merdeka pada peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-88, Jakarta; 28 Oktober 2016. Istana telah menyebarkan sebanyak 4.131 undangan yang didominasi oleh masyarakat umum. TEMPO/Aditia Noviansyah

Redaksi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Pemuda Berakal, Indonesia Bersatu

    Mengapa pemuda Indonesia perlu menjaga dan mempertahankan keutuhan Indonesia? Masih adakah nasionalisme di kalangan milenial saat ini?

    Dibaca : 5.072 kali

    Pemuda Berakal, Indonesia Bersatu

    Gracia Paramitha

    PhD. Candidate, University of York, UK

    Dosen Hubungan Internasional LSPR Jakarta

    Mengapa pemuda Indonesia perlu menjaga dan mempertahankan keutuhan Indonesia? Masih adakah nasionalisme di kalangan milenial saat ini? Pemuda seperti apa yang mampu memajukan Indonesia?

     

    Sejarah telah mencatat perjuangan dan pergerakan para pemuda Indonesia sejak tahun 1928. Kaum Jong Java, Jong Celebes dan suku-suku lainnya telah bersumpah untuk menjadikan Indonesia sebagai satu nusa, satu bangsa, dan satu Bahasa. Melalui Sumpah Pemuda 28 Oktober, kita pun telah banyak belajar mengenai teknik berdiplomasi dan menyampaikan pendapat secara musyawarah dan mufakat, ciri khas Indonesia. Inilah semangat kebangsaan, pedoman kokoh untuk generasi milenial dan masa kini dalam mempertahankan kesatuan Republik Indonesia (RI).

     

    Sumpah Pemuda 2.0

    Delapan puluh empat tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 12 Februari 2012, sekumpulan generasi muda menyelenggarakan Indonesian Young Changemaker Summit (IYCS) dan telah membuat Sumpah Pemuda JIlid 2. Berlangsung di Gedung Merdeka, Bandung, Goris Mustaqim selaku Ketua Panitia mengundang sejumlah tokoh-tokoh hebat, seperti Mohammad Yunus (penerima Nobel sekaligus pencetus Grameen Bank dari Bangladesh), Joko Widodo (yang saat itu sebagai wali kota Solo dan kini sebagai Presiden RI), Anies Baswedan (penggagas Indonesia Mengajar yang kini menjadi Gubernur DKI Jakarta), Sandiaga Uno (kandidat wakil Presiden RI 2019), Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat), dan Tri Mumpuni (pencetus IBEKA). Ratusan pemuda Indonesia dari berbagai provinsi telah bersumpah untuk menegakkan integritas dan kepedulian, berkreasi dan berkolaborasi demi mewujudkan Indonesia unggul dan berdaya saing, serta bekerja keras dan bertanggung jawab demi mewujudkan Indonesia lestari dan selaras dengan keragaman. Makna sumpah pemuda ini turut menginspirasi semangat kolaborasi Muhammad Iman Usman (salah 1 changemaker) dan Adamas Belva Syah Devara dalam membuat Ruang Guru, sebuah platform daring mengenai edukasi jenjang menengah dan professional. Mereka pun membuat applikasi di telepon genggam secara praktis dan telah diunduh jutaan pemuda Indonesia.

     

    Figur pemimpin muda

    Pemuda identik dengan semangat dan gagasan fresh, kritis, dan daya saing untuk terus maju. Berbicara tentang figur muda di dunia pemerintahan, kita mengenal Syed Saddiq yang dipilih sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia sejak 2 Juli 2018. Bahkan, Saddiq dikatakan sebagai menteri termuda di skala ASEAN.

    Ada pula Shamma Al Mazrui, Menteri urusan Pemuda di Emirat Arab yang terpilih saat berusia 22 tahun. Al Mazrui dianggap sebagai menteri perempuan termuda di dunia. Pada tanggal 17 Januari 2013, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun memilih Ahmad Alhendawi sebagai Youth Envoy pertama untuk Sekjen Ban Ki-Moon. Sedangkan di kalangan milenial Indonesia, sudah tidak asing lagi mendengar nama Nadiem Makarim selaku pencetus GoJek, William Tanuwijaya penggagas Tokopedia dan Achmad Zaky pemimpin Bukalapak. Mereka semua memiliki satu persamaan yaitu jiwa memimpin dan maju. Sebuah inovasi menjadi kunci kesuksesan mereka untuk menjadi sosok muda yang inspiratif, berpengaruh, dan tentunya memberikan dampak sosial bagi sesama manusia.

     

     

    Masa depan Indonesia diperhitungkan dan diharapkan oleh berbagai pemangku kepentingan dunia. Laporan Mc Kinsey (2012) misalnya menyatakan bahwa Indonesia akan menjadi negara perekonomian tertinggi ke-7 di dunia pada tahun 2030, berdasarkan perhitungan GDP dan purchasing power parity (PPP). Sejalan dengan Mc Kinsey, PricewaterhouseCoopers (PwC) turut memprediksi  Indonesia sebagai negara berpenghasilan tertinggi  ke-5 di dunia. Angka dan predikat fantastis ini tidak akan terwujud tanpa adanya kerja keras, semangat kolaborasi dan kesatuan, serta inovasi mutakhir dari para pemuda Indonesia.

     

     

    Sembilan puluh tahun peringatan Sumpah Pemuda dirayakan. Satu dekade yang akan datang, Indonesia akan memperolah generasi-generasi milenial yang unggul menuju pembangunan berkelanjutan dunia yang disebut Sustainable Development Goals (SDGs) tahun 2030. Angan dan asa ini perlu diperhatikan dan dikerjakan bersama, tanpa memandang latar belakang politik atau sosial budaya lainnya. Dua periode demorasi ke depan bukanlah waktu yang lama, perlu perencanaan matang dan proses nasionalisme yang terus menerus di kehidupan sehari-hari para pemuda Indonesia.

     

     

    Pemuda Berakal dan Berakhlak

    Pemuda memiliki posisi yang strategis, menjadi jembatan antara generasi terdahulu (orang tua) dan generasi yang baru lahir (anak-anak). Pemuda bukan lagi menjadi pemimpin masa depan, mereka justru lahir dan dibesarkan dari sejarah latar belakangnya dan mampu memimpin masa kini dan yang akan datang. Indonesia diuntungkan dengan bonus demografi pemuda. Badan Pusat Statistik (2017) mengatakan bahwa sejumlah 67,5 juta penduduk Indonesia berusia produktif (berusia 15-35 tahun). Sebuah modal sosial yang besar (human capital investment) bagi bangsa Indonesia untuk menjadi salah satu negara berpengaruh di dunia.

     

    Pemuda Indonesia masa kini sangat dimudahkan dalam hal akses informasi dan data, khususnya di dunia media sosial. Celakanya, etika dan kemampuan kritis para pemuda belum tentu digunakan secara strategis saat menghadapi hoaks atau data-data non kredibel. Kelalaian ini akan mengakibatkan sindrom martabat politik “politics of dignity” oleh Francis Fukuyama (2018), yang artinya setiap individu memiliki hasrat pengakuan yang tinggi oleh masyarakat. Dalam karya terbarunya yang berjudul Identity: Contemporary Identity Politics and the Struggle for Recognition, Fukuyama menjelaskan bahwa indetitas diri “inner self” yang khas merupakan pengakuan yang bernilai di masa modern, sehingga masyarakat yang harus menyesuaikan diri dengan kepribadian seseorang. Di sinilah pentingnya pemuda berakal! Akal menurut kamus besar bahasa Indonesia artinya daya pikir, kecerdikan, ikhtiar. Pemuda berakal yakni pemuda yang pandai, cerdik dan pandai mencari ikhtiar. Akal tidaklah cukup tanpa diikuti dengan akhlak, sebuah budi pekerti atau kelakuan. Dua hal ini seringkali berbenturan satu sama lain dan cenderung dapat disalahsartikan sebagai pemuda yang berakal-akalan atau memanipulasi. Publik saat ini sudah pintar memilih, tetapi belum cukup lihai menyaring dan menyeleksi secara matang mana data manipulatif dan apakah hal tersebut perlu disebarluaskan di media sosial atau tidak.

     

    Sebuah survei dari International Youth Foundation di tahun 2016 menyatakan bahwa indeks optimisme pemuda Indonesia berpenghasilan lebih tinggi dari para orang tua sebesar 88%. Sekali lagi, Indonesia diperhitungkan di dunia dengan banyaknya sumber daya alam dan pemuda. Pemuda berakal dan berakhlak adalah figur yang diperlukan untuk masa depan Indonesia. Pemuda merupakan jantung demokrasi Indonesia, penentu kemajuan dan kesatuan negara khatulistiwa. Semangat satu nusa, satu bangsa, dan satu bahasa dalam Sumpah Pemuda turut menjadi tonggak perubahan sikap pemuda Indonesia yang berakal dan berakhlak. Salam satu Indonesia!

     

     

    Gracia Paramitha

    PhD. Candidate, University of York, UK

    Dosen Hubungan Internasional LSPR Jakarta

     

    2



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.