Surat Dari Medan - Dokumentasi Masalah Lingkungan Sumatra era 1980-1990. - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover Buku Surat Dari Medan

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Senin, 30 Desember 2019 09:34 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Surat Dari Medan - Dokumentasi Masalah Lingkungan Sumatra era 1980-1990.

    Dibaca : 2.556 kali

    Judul: Surat Dari Medan – Merawat Budaya Literasi Untuk Bangsa

    Penulis: Soekirman

    Tahun Terbit: 2019

    Penerbit: Bangun Bangsa                                                                                       

    Tebal: xi + 342

    ISBN: 978-602-60036-2-1

     

    Genre kumpulan surat sangat jarang ditemui dalam perbukuan Indonesia. Padahal ada satu buku dengan genre ini yang sangat terkenal, yaitu Habis Gelap Terbitlah Terang – kumpulan surat R.A. Kartini yang dikumpulkan oleh Abendanon. Genre kumpulan surat bisa menjadi sebuah buku yang sangat menginspirasi. Genre ini juga bisa menjadi sebuah karya yang bernilai arsip tinggi. Sayang sekali, tidak banyak penulis Indonesia yang tertarik untuk memilih genre ini sebagai metoda menuang karya.

    Saya ingin membedah buku Surat Dari Medan karya Soekirman ini dari dua sisi. Pertama saya ingin melihatnya sebagai sebuah buku yang menginspirasi. Kedua saya ingin melihatnya sebagai sebuah karya yang bernilai arsip. Pembahasan karya ini dengan menggunakan dua pisau tersebut tentu sangat tepat. Sebab memang buku ini mempunyai nilai inspiratif sekaligus sebagai arsip.

    Buku yang Inspiratif

    Di bagian III, buku ini berisi surat-surat Soekirman dan surat-surat sahabatnya di era 1980-an. Surat-surat yang memuat perjuangan Soekirman muda dan kawan-kawannya menyelamatkan lingkungan dan menolong mereka yang terpinggirkan. Kita tahu bahwa tahun 80-an adalah masa dimana Negara begitu berkuasa. Negara begitu kuat mengendalikan semua aspek kehidupan masyarakat. Kebenaran hanya menjadi milik para penguasa. Saat itulah muncul anak-anak muda yang berani. Mereka bergerak untuk menentang kesewenang-wenangan Negara.

    Dua isu menonjol yang muncul dalam surat-surat era 1980 adalah kerusakan lingkungan di Sumatra dan kemiskinan di perkotaan. Kasus perampasan hutan oleh para pengusaha yang didukung oleh Pemerintah marak di Pulau Sumatra.  Perambahan hutan terjadi secara merata mulai dari Lampung di ujung bawah sampai ke Sumatra Utara di ujung atas Pulau Sumatra.

    Para pemuda bergerak untuk menjadi pengamat lingkungan. Surat-surat yang dikumpulkan dalam buku ini menunjukkan gerakan para pemuda tersebut di Lampung, Bengkulu, Riau, Palembang dan di Sumatra Utara. Surat-surat ini juga memuat peran dari Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) di Jakarta, para donor dan beberapa pesohor dan menteri yang membidangi lingkungan hidup.

    Sebagai orang-orang yang berpendidikan tinggi, kelompk Soekirman ini bergerak melalui pendekatan yang persuasif. Mereka mengumpulkan data di lapangan, mengemasnya dalam makalah dan menyampaikannya kepada pihak Pemerintah melalui panggung-panggung seminar. Salah satu seminar yang besar yang berhasil digelar adalah “Sarasehan Lingkungan Sumatra” yang mempertemukan Pemda, Universitas dan Masyarakat. Sarasehan ini dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup (Emil Salim), Direktur Walhi Erna Witoelar dan Wakil Gubernur Sumatra Selatan.

    Bukan hanya masalah lingkungan hidup, Soekirman dan kawan-kawan juga sangat peduli dengan nasip anak jalanan di Kota Medan dan masyarakat urban yang tergusur di Jakarta. Keterlibatan Soekirman dan kawan-kawan untuk menolong mereka yang terpinggirkan ini bukan sekadar kegiatan advokasi, tetapi juga dalam bentuk tindakan nyata, yaitu merogoh kantong untuk membantu mereka.

    Selain dari perjuangan mereka mengadvokasi lingkungan dan masyarakat marginal, hal inspiratif lain yang tertuang dalam surat-surat tersebut adalah upaya untuk terus belajar. Di berbagai surat tergambar bagaimana para pemuda ini belajar Bahasa Inggris supaya bisa berkomunikasi dengan pihak-pihak di luar negeri dan menyiapkan diri untuk sekolah lanjut. Saling memberi semangat dalam mencapai nilai TOEFL di antara mereka tertulis di surat-surat yang terkumpul di buku ini.

    Seperti halnya Habis Gelap Terbitlah Terang, buku karya Soekirman ini juga memberi inspirasi kepada kita. Sebagai pemuda kita tidak boleh hanya berpangku tangan melihat ketidak adilan dan kerusakan lingkungan. Soekirman dan kawan-kawan telah menunjukkan karyanya dalam merespon ketidakadilan.

     

    Buku sebagai Sumber Arsip

    Bagian II buku ini berisi kumpulan surat-surat para leluhur Soekirman dan istrinya. Surat-surat tersebut tentu sangat berharga. Dari surat-surat tersebut saya menjadi tahu bahwa beberapa orang Jawa yang ada di Sumatra Utara adalah keturunan laskar Diponegoro yang lari dari Jawa.

    Surat-surat yang terkumpul di bagian II ini juga bernilai arsip tinggi dalam hal mengungkap hubungan antara orang Jawa dan orang Batak. Melalui surat-surat Hilda Panggabean kita menjadi tahu bahwa hubungan pernikahan antarsuku dan antaragama adalah hal yang biasa terjadi di Sumatra Utara.

    Bagian III dan IV yang memuat surat-surat Soekirman dan kawan-kawannya memberikan gambaran bagaimana situasi kegelisahan para pemuda dalam merespon kondisi lingkungan yang rusak dan Pemerintah yang represif. Surat-surat ini menjadi bukti otentik jika suatu saat ada sejarawan yang berminat untuk menulis sejarah lingkungan di Sumatra.

    Di awal buku ini Soekirman mengajak pembacanya bernostalgia tentang Sahabat Pena di era 1970-an. Masa itu, surat-menyurat adalah sebuah hiburan yang mengasyikkan bagi para muda. Tak terkecuali pemuda yang bernama Soekirman. Soekirman yang saat itu masih duduk di bangku STM, sangat aktif dalam kegiatan Sahabat Pena. Ia bahkan menjadi Ketua Perkumpulan Sahabat Pena Indonesia (PSPI) Komisariat Lubuk Pakam. Ia mempunyai banyak sahabat dari berbagai kota di tanah air. Bahkan ia juga mempunyai beberapa sahabat pena dari luar negeri.

    Hobi bersurat inilah yang saya duga sebagai salah satu kegiatan yang membangun Soekirman menjadi seorang komunikator ulung. Kemampuan berkomunikasinya telah membuat ia dikaruniai amanah untuk menjadi leader para pemuda di dunia Lembaga Swadaya Masyarakat, di kampus dan terakhir sebagai Bupati di salah satu kabupaten di Sumatra Utara.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.