KNIL Dari Serdadu Kolonial Menjadi Republik - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Cover Buku KNIL Dari Serdadu Kolonial Menjadi Republik

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Rabu, 4 Maret 2020 16:32 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • KNIL Dari Serdadu Kolonial Menjadi Republik

    Dibaca : 2.241 kali

    Judul: KNIL Dari Serdadu Kolonial Menjadi Rebpublik

    Penulis: Wawan K. Joehanda

    Tahun Terbit: 2018

    Penerbit: Matapadi Presindo                                                                                

    Tebal: xxvi + 264

    ISBN: 978-602-1634-24-0

     

    Dalam sejarah Hindia Belanda menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, dikenal dua organisasi tentara yang terorgasisir. Keduanya adalah Koninklijke Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) dan Pembela Tanah Air (PETA). KNIL adalah tentara yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda, sedangkan PETA adalah laskar yang dilatih di masa Jepang di Indonesia. Kedua kelompok tentara inilah yang menjadi cikal-bakal Tentara Nasioanl Indonesia (TNI).

    Proses KNIL untuk menjadi salah satu pembentuk TNI tidaklah mudah. Sebagai kesatuan tentara kolonial, para eks KNIL mengalami berbagai dinamika saat mereka memilih untuk bersama Republik. Bahkan ada dari mereka yang sudah memihak Republik, tetapi kemudian memutuskan untuk kembali bersama NICA. Diantaranya yang telah berperan besar di awal berdirinya Tentara Keamanan Rakyat dan kemudian kembali memihak KNIL adalah Kolonel Suwardi dan Kolonel Ismail.

    KNIL dibentuk selepas Perang Diponegoro. Perang yang melelahkan dan membawa kerugian yang amat besar bagi Belanda tersebut membuat Belanda merasa perlu mempunyai tentara profesional dan mendapat naungan resmi dari negara. Gubernur van Den Bosch membentuk Oost Indische Leger (4 Desember 1983) yang kemudian pada tahun 1836 berganti nama menjadi Koninklijk Nederlansche Oost Indische Leger, atau lebih dikenal dengan Tentara Kumpeni. Baru pada tahun 1933 namanya berubah menjadi Koninklijk Nedelansche Indische Leger (KNIL). KNIL bertanggungjawab kepada Menteri Koloni untuk mengurusi wilayah Hindia Belanda.

    Mengingat keterbatasan jumlah orang Belanda/Eropa yang ada di Hindia Belanda, maka KNIL juga merekrut anggota dari penduduk setempat. Apalagi peperangan di berbagai daerah banyak memakan korban dari sisi KNIL. Orang Ambon, Manado, Jawa dan sebagainya direkrut untuk menjadi tentara dan dikirim untuk memadamkan pemberontakan di berbagai wilayah Hindia Belanda.

    Belanda juga sempat mendatangkan orang-orang Afrika untuk menjadi tentara di Hindia Belanda. Ineke van Kessel dalam bukunya yang berjudul “Serdadu Afrika di Hindia Belanda (1831-1945)” menulis tentang siapa dan bagaimana para laskar Afrika ini di Hindia Belanda. Sayangnya upaya ini kurang berhasil.

    Perekrutan orang pribumi untuk menjadi tentara, mula-mula hanya untuk level prajurit. Namun sejak jaman pergerakan, beberapa orang pribumi dididik menjadi perwira. Sejak tahun 1923, beberapa tentara pribumi dididik di Brenda, pusat pelatihan perwira di Negeri Belanda. Demikian pun saat sekolah perwira dibuka di Bandung pada tahun 1941, banyak tentara pribumi yang dididik menjadi perwira di Bandung. Para perwira inilah yang kemudian berperan besar membangun TNI. Bersama-sama dengan para anggota PETA, perwira-perwira KNIL yang pro Indonesia membenahi organisasi militer Republik Indonesia.

    Sejak Hindia Belanda kalah dari Jepang, beberapa anggota KNIL meninggalkan kesetiaannya kepada Negeri Belanda dan bergabung dengan gerakan Kemerdekaan Indonesia. Beberapa dari mereka bergabung dengan heiho dan PETA. Ada juga diantara para tentara ini yang bersembunyi dari penangkapan Jepang. Bahkan ada juga yang meninggalkan Hindia Belanda dan bergabung dengan gerilyawan Filipina melawan Jepang.

    Dilema dihapadi oleh para bekas tentara KNIL ketika Jepang kalah. Indonesia menyatakan merdeka. Sementara Belanda berupaya kembali ke tanah jajahannya. Belanda mengkonsolidasikan KNIL sebagai salah satu upaya untuk menduduki kembali Indonesia.

    Namun beberapa perwira eks KNIL secara terang-terangan mendukung kemerdekaan Indonesia. Bahkan mereka bersama dengan para perwira PETA membantu Republik Indonesia untuk menyusun tentara yang terorganisir.

    Diantara para eks KNIL yang berperan besar dalam pembentukan TNI adalah Urip Sumoharjo, Sudibjo, Samijo dan Didi Kartasasmita. Umrip Sumoharjolah yang mengkritik Sukarno karena “hanya” mendirikan Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Urip Sumoharjo menyampaikan bahwa sebuah negara harus mempunyai tentara yang terorganisir. Maka pada tanggal 5 Oktober 1945, BKR berubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Tanggal kelahiran TKR inilah yang sampai saat ini diperingati sebagai lahirnya Tentara Nasional Indonesia.

    Para mantan KNIL inilah yang bersama-sama dengan para perwira PETA berperan dalam mendirikan akademi tentara, membangun angkatan laut, angkatan udara dan kepolisian. Pengalaman para eks KNIL yang mendapatkan kesempatan sekolah militer sangat berguna dalam membangun akademi-akademi militer.

    Penyatuan eks KNIL dan eks PETA tidaklah mudah. Pengalaman yang berbeda diantara kedua kelompok ini menimbulkan dinamika yang luar biasa. Apalagi ketika jaman Republik Indonesia Serikat, dimana Belanda sepertinya mempunyai peran yang besar dalam perpolitikan Indonesia. Dinamika yang hebat ini bahkan sampai menimbulkan pemberontakan-pemberontakan di daerah.

    Sepak terjang KNIL secara resmi berakhir saat Pemerintah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Pada tanggal 28 Juli 1950, Letkol KGPH Surjo  Sujarwo mengambil alik secara simbolik peran KNIL.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.